- Lucius Karus dari Formappi mengkritik ketidakadilan penilaian juri pada Final LCC Empat Pilar MPR di Pontianak, Sabtu (9/5/2026).
- Insiden tersebut mencerminkan kegagalan MPR dalam menerapkan nilai kejujuran yang menjadi inti materi sosialisasi Empat Pilar kebangsaan.
- Formappi mendesak MPR memberhentikan juri yang terlibat serta melakukan evaluasi menyeluruh terhadap metode sosialisasi dan format kegiatan LCC.
Suara.com - Peneliti Forum Masyarakat Peduli Parlemen (Formappi), Lucius Karus, melontarkan kritik tajam terhadap insiden penilaian dalam Final Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI 2026 di Kalimantan Barat yang viral baru-baru ini.
Ia menilai peristiwa tersebut bukan sekadar kesalahan teknis, melainkan sebuah tragedi yang meruntuhkan marwah MPR sebagai lembaga penjaga nilai-nilai kebangsaan.
"Ini peristiwa memalukan bagi bangsa secara keseluruhan karena dalam peristiwa itu nilai-nilai utama kebangsaan yang menjadi pijakan utama sosialisasi 4 pilar benar-benar runtuh. Nilai kejujuran dan keadilan yang sangat prinsipil dan menjadi nilai yang diajarkan dalam Pancasila dan UUD sungguh-sungguh hilang," ujar Lucius Karus kepada Suara.com, Selasa (12/5/2026).
Lucius menyoroti ironi besar di mana MPR, yang fungsi utamanya terbatas pada sosialisasi Empat Pilar dan studi konstitusi, justru gagal mempraktikkan nilai-nilai tersebut.
Ia membandingkan beban kerja MPR yang tidak sepadat DPR atau DPD, sehingga seharusnya tidak ada ruang bagi kesalahan mendasar dalam isu-isu kebangsaan, apalagi dengan dukungan anggaran yang besar.
"Disitulah letak kesalahan mendasar dari juri LCC Kalbar itu. Dua dari tiga juri secara telanjang mempertontonkan kekonyolan tak menyadari kalau mereka sedang memanggungkan kegagalan mereka dalam fungsi pokok MPR," kritiknya.
Menurut Lucius, ketidakjujuran dan ketidakadilan yang dipertontonkan juri saat penilaian sangat bertentangan dengan spirit utama kerja MPR.
Hal ini ia yakini akan meruntuhkan kepercayaan publik terhadap efektivitas sosialisasi Empat Pilar selama ini.
"Sosialisasi macam apa yang akan diberikan ketika orang dalam MPR sendiri justru tak menjiwai dan memahami apa yang mau disosialisasikan? Apa yang mau disosialisasikan MPR ke warga negara ketika warga di lingkup MPR sendiri ternyata tidak paham dengan nilai-nilai kebangsaan?" tegasnya.
Baca Juga: Siapa MC Lomba Cerdas Cermat MPR? Ini Profilnya, Kini Kena Sanksi Tegas
Sebagai bentuk tanggung jawab kelembagaan, Lucius mendesak MPR untuk memberikan respons cepat dan serius. Ia menuntut tindakan tegas bagi personil yang terlibat langsung dalam insiden tersebut.
"Respons paling cepat dengan memberhentikan dua anggota juri LCC yang memalukan itu. Mereka dengan tanpa malu mempertontonkan rusaknya nilai-nilai kebangsaan di hadapan generasi muda yang merupakan calon pemimpin bangsa ke depan," kata Lucius.
Selain pemecatan juri, Formappi juga mendorong evaluasi jangka menengah terhadap format kegiatan LCC dan metode sosialisasi Empat Pilar secara keseluruhan.
Lucius mengkritik kegiatan tersebut yang selama ini dianggap hanya sebagai rutinitas formalitas demi menyerap anggaran, tanpa dampak yang terukur, bahkan sering kali menjadi ajang kampanye bagi anggota MPR.
"Viralnya kasus LCC Kalbar ini sekaligus jadi kesempatan bagi MPR untuk berikir serius tentang peran lembaga yang sudah sejak dilantik hampir tak pernah kedengaran," pungkasnya.
Sebelumnya, insiden tersebut terjadi pada babak final yang digelar di Pontianak, Sabtu (9/5/2026), yang mempertemukan SMAN 1 Pontianak (Regu C), SMAN 1 Sambas (Regu B), dan SMAN 1 Sanggau.
Berita Terkait
Terpopuler
- Xiaomi 17 Jadi Senjata Baru Konten Kreator, Laura Basuki Tunjukkan Hasil Foto Leica
- 5 Bedak Lokal yang Awet untuk Kondangan, Tahan Hingga Belasan Jam
- Awal Keberuntungan Baru, 4 Shio Ini Akhirnya Bebas dari Masa Sulit pada 11 Mei 2026
- 6 Rekomendasi Sepeda 1 Jutaan Terbaru yang Cocok untuk Bapak-Bapak
- 5 Bedak Tabur Translucent Lokal yang Bikin Makeup Tampak Halus dan Tahan Lama
Pilihan
-
Fenomena Tim Musafir Masih Hiasi Super League, Ketegasan PSSI dan I.League Dipertanyakan
-
Nyanyi Bareng Jakarta: Melodi Penenang bagi Jiwa yang Terpapar Debu Ibu Kota
-
Salah Satu Korban Dikunci dari Luar, Dengar Kiai Ashari Lakukan Aksi Bejat di Kamar Sebelah
-
Review If Wishes Could Kill: Serial Horor Korea yang Bikin Kamu Mikir Sebelum Buat Permintaan!
-
Suporter Persipura Rusuh, Momen Menegangkan Pemain Adhyaksa FC Dilempari Botol
Terkini
-
Rupiah Tembus Rp17.500 per Dolar AS, Ekonom UGM Sebut Publik Bakal Kena Imbas Harga Naik
-
Bos Barong Grup: Rokok Ilegal Jangan Cuma Ditindak, Ajak Masuk Jalur Legal
-
Dirjen WHO: Hantavirus Bukan Pandemi Baru Seperti COVID-19
-
Mengenal Istilah Ngadal: Tradisi 'Magang' Anak SMP Jadi Penjaga Perlintasan Rel Liar
-
Rekam Jejak Kontroversial Sara Duterte: Dari Pukul Petugas hingga Ancam Pembunuhan Ferdinand Marcos
-
Sistem Biokontainment Amerika Serikat Siaga Penuh Antisipasi Ledakan Kasus Hantavirus
-
Puan Maharani Soal Larangan Nobar Film 'Pesta Babi', Minta DPR Panggil Pihak Terkait
-
SMAN 1 Pontianak Tuntut Klarifikasi LCC 4 Pilar MPR RI: Juri Diduga Tak Konsisten
-
Mencekam Hantavirus di Kapal MV Hondius, dari Pasien Kritis Sempat Didiagnosis Cuma Mengalami Stres
-
Minta Maaf ke Siswa SMAN 1 Pontianak, Hetifah Sjaifudian Perjuangkan Tanding Ulang LCC 4 Pilar