- Presiden Prabowo Subianto menanyakan kondisi nilai tukar dolar kepada Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa di Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma.
- Purbaya menegaskan pelemahan rupiah disebabkan sentimen negatif terkait krisis 1998 yang tidak mencerminkan kondisi ekonomi Indonesia saat ini.
- Pemerintah akan melakukan intervensi pasar obligasi secara signifikan guna menstabilkan rupiah dan memulihkan kepercayaan investor asing.
Suara.com - Dolar menjadi pembahasan singkat antara Presiden Prabowo Subianto dengan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Kepala negara menanyakan perihal kondisi dolar kepada bendahara negara tersebut.
Momen perbincangan singkat antara Prabowo dan Purbaya terjadi usai proses penyerahan pesawat tempur hingga radar kepada TNI di Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma.
Prabowo bertanya perihal dolar ketika bersalaman dengan Purbaya. Sebelumnya, Prabowo juga bersalaman dengan pejabat lain yang hadir usai sesi foto bersama.
"Dolar gimana?" tanya Prabowo kepada Purbaya, Senin (18/5/2026).
Obrolan singkat tersebut kemudian ditimpali Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin. Sjafrie yang berada dekat dengan Prabowo memberi tahu informasi ihwal rencana Purbaya menunaikan ibadah haji.
"Mau naik haji ini, Pak," celetuk Sjafrie.
Menimpali Sjafrie, Prabowo kembali bertanya ihwal rencana Purbaya menunaikan ibadah haji.
"Mau naik haji?" tanya Prabowo.
Sebelumnya diberitakan bahwa Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengklaim melemahnya nilai tukar Rupiah hingga Rp17.660 per 1 Dolar AS dipengaruhi banyak sentimen negatif, salah satunya kekhawatiran kondisi ekonomi Indonesia menyerupai krisis 1998. Meski demikian, ia menegaskan pemerintah masih mampu memperbaiki keadaan karena fondasi ekonomi Indonesia dinilai tetap kuat.
Baca Juga: RI Mau Beli Jet Tempur KF-21 hingga Sukhoi Su-35, Purbaya: Saya Cuma Bagian Bayar
Saat ditemui di Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma, Senin (18/5/2026), Purbaya mengaku tidak terlalu khawatir dengan pelemahan Rupiah saat ini.
"Enggak apa-apa nanti kita perbaiki. Kan fondasi ekonominya kan bagus. Itu masalah sentimen jangka pendek," katanya.
Menurut Purbaya, pemerintah kini fokus menjaga fondasi ekonomi agar pertumbuhan tidak terganggu. Selain itu, pemerintah juga akan kembali masuk ke pasar obligasi mulai hari ini dengan skala yang lebih besar dibanding pekan sebelumnya.
"Minggu lalu sudah masuk tapi hanya sedikit. Mulai hari ini akan kita masuk dengan lebih signifikan lagi sehingga pasar obligasinya terkendali," lanjutnya.
Ia menilai langkah tersebut dapat mengurangi kekhawatiran investor asing terhadap risiko capital loss akibat turunnya harga obligasi. Dengan kondisi pasar obligasi yang lebih terkendali, pemerintah berharap nilai tukar Rupiah dapat kembali menguat dalam waktu mendatang.
Lebih lanjut, Purbaya menyebut pelemahan Rupiah dipicu sentimen yang mengaitkan kondisi saat ini dengan krisis 1997-1998. Namun ia menegaskan situasi sekarang berbeda karena ekonomi Indonesia masih tumbuh dan belum mengalami resesi.
"Oh ini kan banyak sentimen, kalau rupiah melemah seolah-olah kita akan bergerak seperti 97-98 lagi. Beda, 97-98 itu kebijakannya salah dan instability sosial politik terjadi setelah setahun kita resesi. 97 pertengahan itu kita sudah resesi. Kita kan sekarang belum resesi, ekonomi masih tumbuh kencang. Jadi masih ada ruang untuk memperbaiki semuanya," jelas Purbaya.
Berita Terkait
-
RI Mau Beli Jet Tempur KF-21 hingga Sukhoi Su-35, Purbaya: Saya Cuma Bagian Bayar
-
Isu Transfer Data WNI ke AS di Kesepakatan Prabowo Trump, Menkomdigi Buka Suara
-
Chef Arnold Naikkan Harga Menu Restorannya karena Dolar, Kena Cibir: Kritik Dong Orang Pilihan Lu!
-
Purbaya Balas Kritik Media The Economist: Lihat Eropa, Harusnya Puji Kita
-
The Economist Milik Siapa? Kritik Keras Prabowo, Ada Grup Rothschild dan Agnelli
Terpopuler
- Link Download Logo dan Tema HUT Bhayangkara ke-80 2026 untuk Ulang Tahun Polri
- 5 Sepeda Gunung MTB Polygon Termurah, Tangguh dan Awet Untuk Harian
- Ogah Pasang AC? Ini 4 Rekomendasi Air Cooler yang Murah, Hemat Listrik, dan Cepat Dingin
- 5 HP Samsung 5G Termurah 2026, Fitur Lengkap dan Performa Stabil untuk Jangka Panjang
- Golkar Sulsel Memanas, Ini Alasan Pendukung Appi Alihkan Dukungan ke IAS
Pilihan
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Antar Timnas Perancis ke 16 Besar, Mbappe Pecahkan Sejumlah Rekor Piala Dunia 2026
-
Prabowo ke Polisi: Gaji dan Senjata Kalian dari Rakyat, Jadi Jangan Menyusahkan Rakyat
Terkini
-
Gelombang Panas Ekstrem Serang New York, Samai Rekor Suhu Terpanas 60 Tahun Silam
-
Kelakuan Keluarga George Soros Borong Tanah di New York Picu Amarah Warga: Mereka Rakus!
-
Gelombang Panas di Eropa Tewaskan 1300 Orang, Pejabat Prancis Salahkan Warga AS dan Pengguna AC
-
Terjebak di Bawah Bangunan Runtuh Gempa Venezuela, Pria Ini 8 Hari Melawan Maut
-
Bom Meledak di Jantung Damaskus, Korban Bergelimpangan di Lokasi
-
Pilot Tabrak Gedung Tertinggi Beijing Diduga Bunuh Diri, Tinggalkan Catatan Harian Mengejutkan
-
Kualitas Udara di TPA Jatiwaringin Capai Level Berbahaya, 64 Warga Dievakuasi
-
KPK Perluas Kasus Pemerasan Izin Tinggal WNA Silmy Karim, Kini Bidik Imigrasi Depok
-
Satu Polisi Gugur dan 2 Hilang saat Gerebek Bandar Narkoba di Kalteng
-
Flyover Latumenten Capai 55,2 Persen, Ditargetkan Pangkas Kemacetan hingga 40 Persen