News / Internasional
Rabu, 20 Mei 2026 | 12:44 WIB
Arsip foto: Presiden China Xi Jinping dan Presiden Rusia Vladimir Putin. ANTARA/HO-Kementerian Luar Negeri China/aa. (Handout Kementerian Luar Negeri China)
Baca 10 detik
  • Presiden Rusia Vladimir Putin bertemu Presiden Xi Jinping di Beijing pada 20 Mei 2026 untuk mempererat hubungan bilateral.
  • Kedua negara meningkatkan perdagangan hingga hampir 100 persen menggunakan mata uang lokal untuk memperkuat ketahanan ekonomi nasional.
  • Rusia dan China berkolaborasi membangun infrastruktur energi serta teknologi untuk mengoptimalkan jalur logistik dan pengembangan ekonomi digital.

Suara.com - Beijing baru saja menjadi panggung diplomasi dunia yang sangat sibuk. Belum lama Presiden AS Donald Trump menyelesaikan kunjungannya, kini giliran Presiden Rusia Vladimir Putin yang mendarat di ibu kota China tersebut pada Rabu, (20/5/2026).

Pertemuan antara dua pemimpin besar ini langsung menjadi sorotan global, terutama karena dilakukan di tengah tekanan sanksi Barat yang masih menghujam Rusia.

Dalam pertemuan di Great Hall of the People, Putin memuji momentum kerja sama kedua negara yang dianggapnya sangat kuat dan positif.

Senada dengan itu, Presiden Xi Jinping menyebut hubungan China dan Rusia sebagai ikatan yang "tidak tergoyahkan".

Di balik seremoni yang megah, ada beberapa poin kerja sama raksasa yang sedang mereka matangkan.

Berikut yang telah Suara.com rangkum dari CNA dan RT:

Ledakan Angka Perdagangan Tanpa Dolar

Satu hal yang paling mencolok adalah nilai perdagangan bilateral yang terus memecahkan rekor. Pada tahun 2025, total perdagangan mereka melampaui angka 4.250,4 triliun Rupiah (setara 240 miliar Dolar AS).

Tren ini tidak menunjukkan tanda-tanda melambat. Pada empat bulan pertama tahun 2026, nilai transaksi sudah mencapai sekitar 1.508,8 triliun Rupiah, naik hampir 20 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Yang membuat Barat makin ketar-ketir, Rusia dan China hampir sepenuhnya meninggalkan mata uang Dolar AS dan Euro dalam transaksi mereka.

Baca Juga: Gertakan atau Ancaman Nyata? Klaim Donald Trump Tunda Serangan Bikin Iran Ketar-ketir

Hampir 100 persen perdagangan kini menggunakan mata uang Rubel dan Yuan. Strategi ini sengaja diambil untuk memperkuat ketahanan ekonomi mereka dari tekanan finansial eksternal.

Lapisan es Arktik di Kutub Utara. (NASA)

Energi dan Jalur Sutra Kutub

Energi tetap menjadi tulang punggung kemitraan ini. Jalur pipa "Power of Siberia" yang mulai beroperasi tahun 2019 telah mencapai kapasitas penuh pada akhir 2024.

Kini, fokus beralih ke proyek "Power of Siberia 2" yang melewati Mongolia, yang diprediksi akan mendongkrak ekspor gas Rusia ke China hingga melampaui 100 miliar meter kubik per tahun.

Selain pipa gas, keduanya juga serius menggarap "Polar Silk Road" atau Jalur Sutra Kutub melalui Jalur Laut Utara (NSR).

Rute ini sangat menggiurkan karena bisa memangkas waktu tempuh pengiriman barang dari China ke Eropa menjadi hanya 20 hari saja, jauh lebih cepat daripada melewati Terusan Suez.

Mereka bahkan menargetkan pembangunan lima kapal kontainer khusus untuk pelayaran Arktik sepanjang tahun pada 2027 mendatang.

Load More