News / Internasional
Rabu, 20 Mei 2026 | 11:50 WIB
Klaim Amerika Serikat, Donald Trump bahwa ia menunda serangan militer yang direncanakan terhadap Iran telah memperdalam ketidakpastian di Teheran. [The White House]
Baca 10 detik
  • Presiden Donald Trump menunda serangan militer terhadap Iran, memicu ketidakpastian di Teheran mengenai rencana tindakan Amerika Serikat selanjutnya.
  • Pejabat Iran menyatakan kesiapan menghadapi agresi militer sambil tetap melanjutkan negosiasi diplomatik untuk menuntut pencabutan sanksi ekonomi.
  • Analis dan tokoh politik Iran berbeda pendapat mengenai motif AS, apakah merupakan taktik politik atau ancaman perang nyata.

Suara.com - Klaim Amerika Serikat, Donald Trump bahwa ia menunda serangan militer yang direncanakan terhadap Iran telah memperdalam ketidakpastian di Teheran.

Para pejabat dan analis disebut-sebut terpecah pendapatnya mengenai apakah Washington sedang menggertak, mengulur waktu, atau bersiap untuk serangan putaran berikutnya.

Trump mengatakan ia telah menunda serangan yang direncanakan untuk hari Selasa, sebelum memperingatkan bahwa Amerika Serikat tetap siap untuk menyerang Iran dengan keras.

"Amerika Serikat mengatakan telah menghentikan sementara serangan terhadap Iran untuk memberi kesempatan pada diplomasi, sementara secara bersamaan berbicara tentang kesiapan untuk serangan skala besar kapan saja," tulis Kazem Gharibabadi, wakil menteri luar negeri Iran untuk urusan hukum dan internasional, menulis di X melansir laman Iran International, Rabu (20/5/2026). 

"Ini berarti menyebut ancaman sebagai peluang untuk perdamaian," tambah dia.

Divisi elite IRGC Iran menggelar latihan anti-helikopter skala besar di Teheran untuk meningkatkan kesiapsiagaan tempur dan pertahanan wilayah. [Tasnim News]

Ia menambahkan bahwa Republik Islam siap untuk menghadapi "agresi militer apa pun" dan bahwa "penyerahan diri tidak ada artinya" bagi Iran.

Gharibabadi kemudian mengatakan kepada anggota parlemen bahwa proposal terbaru Iran kepada Washington mencakup tuntutan seperti pengakuan hak Iran untuk pengayaan uranium, pencabutan blokade angkatan laut AS, pembebasan aset Iran yang dibekukan, dan pengakhiran sanksi. Ia tidak memberikan rincian tentang tanggapan Washington.

Jurnalis reformis Ahmad Zeidabadi mempertanyakan kredibilitas Trump, menulis bahwa jika pernyataan presiden AS itu akurat, maka pihaknya harus sangat meragukan tingkat perhitungan rasional minimum yang dimilikinya."

“Apakah Trump tidak tahu bencana bersejarah apa yang akan ditimbulkan oleh dimulainya kembali perang di seluruh wilayah Teluk Persia?” tanya Zeidabadi. “Apakah dia berencana untuk memulai kembali perang tanpa berkonsultasi dengan para pemimpin sekutu?” tambahnya.

Baca Juga: Balas Ancaman Trump, Iran: Teluk Oman akan Jadi Pemakaman AL AS

Sementara penasihat pemimpin tertinggi Iran dan mantan komandan Garda Revolusi (IRGC), Mohsen Rezaei, menuduh Trump menetapkan dan kemudian membatalkan tenggat waktu militer dalam upaya untuk memaksa Iran tunduk.

Dia memperingatkan bahwa angkatan bersenjata Iran akan "memaksa Amerika untuk mundur dan menyerah."

Load More