- Komisi V DPR RI mendesak Kemenhub segera memperbaiki infrastruktur pascakecelakaan kereta api di Bulak Kapal, Bekasi Timur yang menewaskan 17 orang.
- Pemerintah diminta mempercepat pembangunan flyover dan proyek Double-Double Track guna mengurai kepadatan frekuensi perjalanan kereta di wilayah Jabodetabek.
- Kemenhub diharapkan segera memaparkan investigasi awal serta rencana tindak lanjut tanpa harus menunggu rekomendasi final dari pihak KNKT.
Suara.com - Komisi V DPR RI meminta Kementerian Perhubungan (Kemenhub) segera mengambil langkah konkret pascakecelakaan kereta api maut di Bekasi Timur yang mengakibatkan 17 orang meninggal dunia dan 85 lainnya luka-luka.
Wakil Ketua Syaiful Huda menegaskan agar pemerintah tidak perlu menunggu rekomendasi final dari Komite Nasional Keselamatan Transportasi untuk memulai perbaikan infrastruktur.
Menjelang Rapat Kerja (Raker) Komisi V hari ini, Huda menekankan pentingnya keterbukaan informasi kepada publik mengenai hasil investigasi awal.
“Kita ingin, karena ini sudah tertunda ya. Kita ingin ini momentum raker ini untuk kira-kira nanti Kemenhub menjelaskan sedetail mungkin temuan di lapangan. Di saat yang sama mungkin kita berharap KNKT sudah memberikan semacam hasil investigasi forensik awal lah, kira-kira gitu, sebelum nanti kita tunggu hasil investigasi forensik dari KNKT secara menyeluruh. Tapi kita betul-betul sangat berharap raker ini sudah memberi gambaran awal dari temuan-temuan KNKT,” ujar Huda di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (21/5/2026).
Ia berharap gambaran awal ini bisa menjelaskan tragedi yang terjadi di Bulak Kapal tersebut.
Menurutnya, pihak Kemenhub dan KAI sebenarnya sudah memahami kendala teknis di lapangan tanpa harus menunggu proses formal yang panjang.
“Nah, tentu kami Komisi V berharap ya bahwa Kementerian Perhubungan sebenarnya tidak perlu menunggu rekomendasi dari KNKT perbaikannya apa. Karena sebenarnya di lapangan sudah teman-teman KAI juga sudah tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi,” lanjutnya.
Terkait solusi permanen di perlintasan sebidang Bulak Kapal, Huda mengingatkan adanya instruksi Presiden untuk mempercepat pembangunan underpass atau flyover, terutama di wilayah dengan frekuensi perjalanan kereta yang tinggi seperti Jabodetabek.
“Khusus untuk Bulak Kapal memang yang paling mungkin flyover. Pak Presiden sudah memberikan ruang fiskal cukup besar, 4 triliun. Artinya ini bisa dipercepat. Oleh karena itu kami sangat berharap raker ini kira-kira Kemenhub sudah menjelaskan kami sudah ketemu dengan Pemda, paling tidak Pemda Kota Bekasi, tidak ada lagi masalah isu pembebasan, tidak ada lagi masalah apa, jadi dengan itu lalu bisa dipercepat pembangunannya,” tegasnya.
Baca Juga: Bukan Sekadar Fiskal, Pimpinan DPD: Pidato Prabowo Ekspresi Nyata Ekonomi Pancasila
Selain masalah perlintasan sebidang, Huda juga menyoroti urgensi penyelesaian proyek Double-Double Track (DDT) sepanjang 17 km untuk memisahkan jalur kereta dalam kota dan luar kota.
Ia menegaskan anggaran sebesar Rp7 triliun sudah disiapkan Presiden untuk keperluan tersebut.
“DDT itu udah nggak usah nunggu rekomendasi KNKT. Di situ sudah memang perlu pemisahan antara jalur cepat dalam kota, luar kota dengan jalur kereta api dalam kota. Itu udah kesimpulan. Nah karena itu nggak usah ada diskusi sebenarnya. Itu sudah langsung oke DDT kurang lebih Jakarta sana itu kurang lebih sekitar 17 km lah. Itu nggak boleh lagi ada isu nggak ada anggaran, Pak Presiden sudah ngasih 7T gitu,” jelasnya.
Huda mendesak agar kepadatan frekuensi kereta di jalur Bekasi segera teratasi karena hal tersebut sering kali menjadi pemicu masalah.
“Sampai hari ini kita masih rasakan teman-teman yang ada di Bekasi itu itu masih merasakan situasi frekuensi kepadatannya masih belum teratasi gitu. Nah karena itu saya kira langkah-langkah ini sudah nggak perlu didiskusikan juga ke Komisi V jadi karena rekomendasi semua pihak kan kira-kira gitu. MTI merekomendasikan udah DDT harus secepatnya gitu dan itu termasuk yang bikin trouble,” pungkasnya.
Berita Terkait
-
Bukan Sekadar Fiskal, Pimpinan DPD: Pidato Prabowo Ekspresi Nyata Ekonomi Pancasila
-
'Tetangga Punya SHM, Kami Kok Tidak?' Warga Pangkalan Jati Tagih Keadilan Lahan ke Komisi XI DPR
-
Sekolah Rakyat Hadir di Daerah 3T, Anggota DPR RI: Sangat Dirasakan Manfaatnya
-
Demo Harkitnas di DPR, Ribuan Guru Madrasah dan Ojol Tuntut Kesejahteraan dan Perlindungan
-
Sahroni Usul Polisi Tembak Begal di Tempat: Ini Baik Sekali, Untuk Beri Rasa Aman!
Terpopuler
- 30 Wakil Menteri Rangkap Jabatan Jadi Komisaris BUMN, Ini Daftar Namanya
- Petinggi FPI Novel Bamukmin Ditunjuk Jadi Komisaris Hotel Indonesia Natour
- 'Daripada Liburan Mending Melawan', Ibu-ibu di Jogja Geruduk Bundaran UGM Gugat Kebijakan Korup
- Kacamata Cat Eye Cocok untuk Bentuk Wajah Apa? Ini 3 Pilihan dengan Harga Ramah di Kantong
- 5 Sepatu Running Asics Diskon di Sports Station, Potongan Harga hingga 64 Persen
Pilihan
-
Cristiano Ronaldo Umumkan Perpisahan! Piala Dunia 2026 Jadi Panggung Terakhir
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Antar Timnas Perancis ke 16 Besar, Mbappe Pecahkan Sejumlah Rekor Piala Dunia 2026
Terkini
-
Ribuan Pelayat Ayatollah Khamenei Kibarkan Bendera Merah, Serukan Balas Dendam
-
Bukan Kurang Bagus, Cak Imin: Brand Lokal Sulit Mendunia karena Pintu Tertutup
-
Gagal Kabur! Polisi Sikat 4 Remaja Pembawa Celurit Saat Bubarkan Tawuran di Cengkareng
-
Spesifikasi Pesawat Sukhoi Su-35 Milik Iran yang Disiapkan Oleh Rusia
-
Gunung Anak Krakatau Siaga, Badan Geologi: Isu Tsunami Hoaks, Warga Banten-Lampung Harap Tenang
-
LPDP Tambah 14 Kampus Top Dunia Khusus STEM, Ada NUS Hingga UCLA!
-
Jangan Tertipu! Video Erupsi Anak Krakatau Itu Hoaks, Ini Radius Bahaya yang Sebenarnya
-
Teror Drone Granat Sasar Pengacara di Tangsel, Pelaku Beri Pesan: Ini Baru Permulaan!
-
'Emang Kenapa Kalo Gue Tampol?' Identitas Pria Arogan di Jagakarsa Terkuak, Polisi Buru Pelaku
-
Sengketa Lahan Berujung Teror! Rumah Advokat Sulardi Dilempar Molotov, Pelaku Terekam CCTV