- Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono menyatakan petugas Pusdal Manggarai memberikan instruksi pengereman tidak maksimal karena minimnya informasi visual kondisi lapangan.
- Komunikasi suara yang terbatas menyebabkan petugas Pusdal berasumsi bahwa gangguan di Stasiun Bekasi Timur tidak memerlukan penghentian kereta total.
- KNKT saat ini masih melakukan evaluasi data teknis selama beberapa bulan ke depan sebelum menetapkan penyebab kecelakaan tersebut.
Suara.com - Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), Soerjanto Tjahjono, mengungkapkan, bahwa asas positive thinking atau berprasangka baik dari petugas Pusat Pengendalian (Pusdal) menjadi alasan di balik instruksi pengereman yang diberikan kepada masinis KA Argo Bromo Anggrek sebelum menabrak KRL di Stasiun Bekasi Timur.
Soerjanto menjelaskan, saat peristiwa akan terjadi, koordinasi antara Pusdal Manggarai dan masinis KA Agro Bromo hanya dilakukan melalui komunikasi suara (voice).
Ketiadaan pantauan visual secara langsung membuat petugas di pusat kendali tidak menyadari tingkat bahaya yang sebenarnya di lapangan.
Menurutnya, karena tidak mengetahui situasi riil di titik lokasi, petugas Pusdal kemukinan berasumsi bahwa gangguan atau "temperan" yang dilaporkan bukanlah ancaman fatal.
Alhasil, instruksi yang dikeluarkan pun diduga hanya bersifat imbauan kewaspadaan standar.
"Karena memang di Pusdal kan temperan seperti apa, mereka belum tahu kondisi lapangannya seperti apa, maka dia positive thinking saja bahwa kurangi kecepatanlah. Intinya untuk berhati-hati," ujar Soerjanto usai rapat kerja Komisi V DPR RI membahas tragedi kecelakaan kereta api dengan KRL di Bekasi Timur di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (21/5/2026).
Sikap positive thinking ini diduga berujung pada instruksi yang kurang tegas bagi masinis hanya untuk mengerem sedikit-sedikit bukan untuk segera menghentikan rangkaian kereta secara total.
"Dia (Pusdal) enggak tahu, cuma memberitahu bahwa ada temperan di depan, rem-rem dikit terus kemudian banyak-banyak melakukan Semboyan 35 (klakson). Nah itu aja yang disampaikan," tambahnya.
Berdasarkan data yang dihimpun KNKT, masinis KA Argo Bromo Anggrek sebenarnya telah merespons informasi tersebut sejak jarak 1.300 meter sebelum lokasi kejadian.
Baca Juga: Alur Komunikasi Petugas PK Dinilai 'Lemot', Nyawa Melayang di Perlintasan Bekasi Timur
Namun, karena instruksi dari pengendali operasi di Manggarai hanya meminta untuk "ngerem sedikit" dan memperbanyak semboyan 35, pengereman maksimal tidak dilakukan sejak awal.
"Masinis sudah melakukan pengereman. Cuma karena situasinya kan di Pusdal itu tidak tahu yang sebenarnya karena komunikasinya lewat suara saja. Masinis sudah merespons apa yang disampaikan oleh Pusdal," jelas Soerjanto.
Meski faktor positive thinking dan keterbatasan informasi suara ini menjadi sorotan, KNKT menyatakan masih terlalu dini untuk menetapkan penyebab tunggal kecelakaan.
KNKT memerlukan waktu sekitar dua hingga tiga bulan untuk mengevaluasi data-data teknis lainnya.
"Untuk menyimpulkan apa yang menjadi penyebab ini masih terlalu dini lah. Kita perlu waktu lagi untuk mengevaluasi ada beberapa data yang masih kita butuhkan dan masih kita olah," pungkasnya.
Berita Terkait
-
Alur Komunikasi Petugas PK Dinilai 'Lemot', Nyawa Melayang di Perlintasan Bekasi Timur
-
Polisi Tetapkan Tersangka Kecelakaan KRL Bekasi Timur, Ini Sosoknya
-
KNKT Ungkap Fakta Baru Kecelakaan Kereta Bekasi Timur
-
Kecelakaan Maut Bekasi Timur: Sopir Taksi Listrik Injak Gas Tapi Transmisi di Posisi Parkir!
-
Pemberkasan Rampung, Siapa Yang Jadi Tersangka Kecelakaan Kereta Api di Bekasi Timur?
Terpopuler
- Kinerja Tim Komunikasi Buruk, Prabowo Diingatkan Segera Reshuffle Seskab Teddy hingga Kapolri
- Lawan Pernyataan Eki Pitung, Pemuda Kaum Betawi Percaya dengan Warga Pati yang Demo 27 Agustus
- Anggaran Bencana Tak Ditemukan, Istana Malah Beli Merpati Rp305 Juta untuk Perayaan HUT ke-81 RI
- 3 Rice Cooker untuk Nasi Tahan 2 Hari dan Tidak Lengket Sesuai Klaim
- 4 Shio Beruntung Hari ini 21 Agustus 2026 yang Diprediksi Terbebas dari Masalah Keuangan
Pilihan
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
Terkini
-
Tanpa Sertifikasi, Ali Tatto Sulam Sebut Pesolek Talenta Lokal Susah Tembus Pasar Global
-
Rektor Ditangkap KPK: Maba Korban Pemerasan Harus Diselamatkan?
-
Duduk Perkara Gibran Tipu Malaysia, Anwar Ibrahim Buka Suara Parlemen Bakal Usut
-
Karhutla Kembali Kepung Kalimantan, Ini Dampaknya bagi Iklim
-
Kabut Asap Selimuti Palembang, Warga Tetap CFD: Sehat atau Malah Berisiko?
-
Bruno Fernandes Banjir Kritik Usai Manchester United Dipermalukan Hull City
-
Inter Milan Kunci Lautaro Martinez, Barcelona Harus Gigit Jari
-
AMAN Kalbar Minta Karhutla Ditangani Objektif, Jangan Kriminalisasi Masyarakat Adat
-
Tarif Parkir Rp60 Ribu Jakarta: Bukan soal Angka, tapi Kepercayaan
-
Viral Catatan Seskab Teddy Soal Karhutla Bikin Publik Geram: Siapa yang Gak Beradab?