Suara.com - Ketegangan geopolitik global pasca-serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran pada 28 Februari lalu berdampak nyata pada meroketnya harga minyak dunia.
Merespons situasi ini, Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa kedaulatan energi adalah harga mati untuk menyelamatkan devisa negara yang selama ini terkuras akibat impor bahan bakar minyak (BBM).
"Untuk mengatasi krisis energi, kita sedang mempercepat produksi solar dari minyak kelapa sawit. Kita juga sedang mengkaji produksi bensin dari minyak kelapa sawit," ujar Prabowo dalam pidato penyampaian Kebijakan Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) 2027 di Sidang Paripurna DPR RI, Rabu (20/5/2026).
Selain itu, pemerintah juga tengah mempersiapkan pengembangan energi melalui teknologi gasifikasi batu bara, bahan bakar sintetis, hingga pemanfaatan limbah pertanian.
Namun, ambisi pemerintah yang berfokus pada kemandirian ini mendapatkan catatan kritis dari Institute for Essential Services Reform (IESR). Melalui sebuah keterangan tertulis, Direktur Program Transformasi Sistem Energi IESR, Deon Arinaldo, menilai usulan tersebut belum tentu menyelesaikan akar persoalan apabila krisis serupa kembali terjadi di masa depan.
Menurut Deon, krisis saat ini pada dasarnya merupakan krisis energi fosil akibat tingginya ketergantungan Indonesia pada komoditas yang harganya sangat volatil di pasar global. Memindahkan ketergantungan ke sawit dan batu bara dinilai bukan solusi jangka panjang.
"Berbagai alternatif tersebut pada dasarnya merupakan sumber energi yang lebih mahal dibandingkan energi fosil yang digantikan, sehingga berisiko menambah beban fiskal di sektor energi," tegas Deon, Rabu (20/5/26).
Bagi IESR, akar masalahnya terletak pada ketergantungan yang tinggi terhadap energi fosil dan komoditas komersial. Kelapa sawit dan batu bara tetap merupakan komoditas yang terpapar risiko serupa dengan BBM. Jika alternatif yang dipilih memiliki biaya produksi yang lebih tinggi, anggaran negara justru akan tertekan oleh beban subsidi baru.
Sebagai jalan keluar yang lebih aman, IESR mendorong pemerintah untuk fokus pada langkah sistematis meningkatkan bauran energi terbarukan. Langkah ini perlu dibarengi dengan efisiensi energi melalui elektrifikasi, baik pada sektor transportasi melalui kendaraan listrik, maupun pada kebutuhan industri dan rumah tangga.
Baca Juga: Ternyata Ini Alasan Prabowo Pidato Perdana soal Ekonomi di Rapat Paripurna DPR
Penulis: Vicka Rumanti
Berita Terkait
Terpopuler
- Apa yang Terjadi Jika Gunung Anak Krakatau Meletus?
- 3 Pimpinan BGN Dilaporkan ke Ombudsman, Diduga Rangkap Jabatan di BUMN
- Kacamata Cat Eye Cocok untuk Bentuk Wajah Apa? Ini 3 Pilihan dengan Harga Ramah di Kantong
- 5 Sepatu Lari Reebok yang Diskon di Sports Station, Harga Mulai Rp300 Ribuan
- 8 Pilihan Parfum di Alfamart yang Semakin Berkeringat Semakin Wangi
Pilihan
-
PHK 1.250 Karyawan Tokopedia Berujung Aksi Buruh ke Kantor TikTok
-
Mengapa Kursi Komisaris Layak Untuk Sang Loyalis?
-
Cristiano Ronaldo Umumkan Perpisahan! Piala Dunia 2026 Jadi Panggung Terakhir
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
Terkini
-
Kebakaran TPA Jatiwaringin Baru Padam 45 Persen Meski Tiga Helikopter Dikerahkan
-
Mendagri Serahkan Anugerah Adinata Syariah 2026, Dorong Pemda Kembangkan Potensi Ekonomi Syariah
-
Dua Aksi Demonstrasi di Jakarta Pusat Hari Ini, 413 Personel Gabungan Disiagakan
-
Mulai Tahun Ini, 13 Juli Resmi Diperingati sebagai Hari Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
-
Ekonomi Jakarta Tumbuh 5,59 Persen, Dukungan Pramono terhadap UMKM dan PKL Tuai Pujian
-
Fadli Zon Sebut Ziarah Gunung Kawi Merupakan Warisan Tradisi
-
Alasan Indonesia Tak Kirim Pejabat Tinggi ke Penghormatan Terakhir Ayatollah Khamenei
-
Biang Kerok Blackout! Polri Bongkar Korupsi Batu Bara PLTU yang Bikin Listrik Padam Massal
-
WNI Tewas Mengenaskan di Jepang, Terduga Pelaku Diduga Tabrakkan Diri ke Kereta
-
Mahfud MD Heran Fenomena UU 'Simsalabim': Tiba-tiba Jadi, Kapan Dibahasnya?