Suara.com - Suhu udara yang semakin panas membuat penggunaan Air Conditioner (AC) kian menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat perkotaan.
Di Jakarta, misalnya, suhu harian pada Mei 2026 berkisar antara 24 hingga 33 derajat Celsius menurut data BMKG. Kondisi ini mendorong semakin banyak rumah, kantor, hingga pusat perbelanjaan mengandalkan pendingin ruangan untuk menjaga kenyamanan.
Di tengah meningkatnya kebutuhan tersebut, penelitian terbaru dari Singapore University of Technology and Design (SUTD) dan Singapore-ETH Centre mengingatkan bahwa adaptasi terhadap cuaca panas tidak bisa hanya bertumpu pada pendinginan pribadi seperti AC.
Penelitian yang melibatkan 967 responden di Singapura menemukan bahwa ketergantungan yang tinggi terhadap AC dapat membuat sebagian orang merasa lebih terlindungi dari dampak panas ekstrem sehingga kurang terdorong mendukung upaya kolektif menghadapi krisis iklim.
Fenomena ini disebut sebagai behavioral insulation atau isolasi perilaku. Ketika lingkungan dalam ruangan tetap sejuk, ancaman panas yang terjadi di luar menjadi terasa lebih jauh dan kurang mendesak.
Akibatnya, dukungan terhadap berbagai solusi bersama, seperti penghematan energi, penghijauan kota, atau kebijakan adaptasi iklim, berpotensi menurun.
Temuan tersebut menjadi relevan karena penggunaan AC juga berkaitan dengan konsumsi energi yang terus meningkat.
Di Indonesia, sebagian besar listrik masih berasal dari pembangkit berbahan bakar fosil. Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menunjukkan sekitar 85 persen pembangkit listrik nasional masih bergantung pada energi fosil.
Artinya, semakin tinggi penggunaan AC, semakin besar pula kebutuhan listrik yang harus dipenuhi. Selain menghasilkan emisi dari sektor kelistrikan, penggunaan refrigeran pada sistem pendingin juga perlu dikelola dengan baik untuk mencegah dampak lingkungan apabila terjadi kebocoran.
Baca Juga: Industri Batu Bara Dituntut Tekan Emisi dan Minimalkan Kerusakan Ekosistem
Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa persoalannya bukan pada penggunaan AC itu sendiri. Di tengah suhu yang semakin ekstrem, pendingin ruangan tetap menjadi kebutuhan penting untuk menjaga kesehatan dan produktivitas masyarakat.
Tantangannya adalah bagaimana memastikan kebutuhan tersebut berjalan beriringan dengan upaya membangun lingkungan yang lebih tahan terhadap perubahan iklim.
Asisten Profesor Riset Samuel Chng, Kepala Urban Psychology Lab di LKYCIC SUTD, menilai kota-kota perlu mengembangkan strategi yang lebih menyeluruh dalam menghadapi panas ekstrem.
“Jika kota terlalu bergantung pada pendinginan pribadi, mereka berisiko meningkatkan permintaan energi sekaligus melemahkan dukungan terhadap solusi panas perkotaan yang lebih luas,” ujarnya.
Menurut para peneliti, sejumlah langkah dapat dilakukan untuk mengurangi ketergantungan terhadap pendinginan buatan dalam jangka panjang. Di antaranya memperluas ruang terbuka hijau, menambah tutupan pohon di kawasan perkotaan, memperbaiki desain bangunan agar memiliki ventilasi alami yang lebih baik, serta menghadirkan transportasi publik yang nyaman dan teduh.
Pendekatan tersebut tidak hanya membantu menurunkan suhu lingkungan secara alami, tetapi juga memperluas manfaat bagi seluruh warga, termasuk kelompok yang tidak memiliki akses terhadap AC. Dengan kata lain, menghadapi cuaca yang semakin panas tidak cukup hanya dengan menciptakan ruang yang sejuk di dalam bangunan, tetapi juga dengan membangun kota yang lebih nyaman, sehat, dan adaptif bagi semua orang.
Berita Terkait
Terpopuler
- Ruben Onsu Jadi Tersangka Kasus Dugaan Penipuan, Bakal Dipanggil Polisi Minggu Depan
- 20 Kode Redeem FF Aktif 20 Agustus 2026: Klaim Item Langka dan Bundle Spesial
- Harga Serum Penghilang Flek Hitam yang Efektif dan Aman, Ini 5 Rekomendasi Produknya
- Warga Jogja Protes Desil Naik, Status Miskin Masuk Desil 9, Pemda DIY Minta BPS Klarifikasi
- Kunjungi Korban Gempa di NTT Hari Ini, Gus Miftah Gelontorkan Bantuan Rp500 Juta
Pilihan
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
Terkini
-
Jangan Takut Gagal, Kisah Reski Menembus Pendidikan Tinggi Lewat BIDIKSIBA PTBA
-
BPK Audit Kinerja MK dalam Penanganan PHPU 2024 Meski Raih Opini WTP
-
8 dari 10 Anak Indonesia Kekurangan DHA, Ini yang Perlu Diperhatikan Orang Tua
-
Wajah Lain Krisis Karhutla: Anak Terpapar Asap, Perempuan Lebih Berat Merasakan Beban
-
Tanpa Disadari, Teknologi Ini Diam-Diam Mengubah Cara Kita Menjalani Hari
-
KAMMI Minta Aksi AMPB 27 Agustus Ditahan, Khawatir Ditunggangi hingga Picu Kerusuhan
-
PALHI Desak Kejagung Usut Tuntas Dugaan Korupsi PT TPL, Minta Big Boss Diperiksa
-
KAMMI Tolak Aksi Warga Pati di DPR, Tetap Dukung RUU Perampasan Aset
-
Sumsel Makin Membara, 449 Hotspot Karhutla Mengintai Kesehatan Pernapasan Warga
-
Menkeu Siapkan Rp31 T untuk Pengalihan Status PPPK Paruh Waktu