-
Pelaku penembakan Gedung Putih bernama Nasire Best tewas diterjang peluru tajam agen Dinas Rahasia.
-
Pemuda berusia 21 tahun tersebut memiliki riwayat gangguan jiwa berat dan delusi keagamaan ekstrem.
-
Dokumen hukum mengungkap pelaku sebelumnya pernah ditahan dan dipaksa masuk rumah sakit jiwa.
Suara.com - Tragedi berdarah di ring satu Amerika Serikat membuka tabir kegagalan mitigasi psikologis terhadap individu berisiko tinggi. Nasire Best, pemuda yang tewas ditembus peluru tajam di depan Gedung Putih, ternyata memiliki riwayat gangguan mental akut dan obsesi ekstrem terhadap kawasan tersebut.
Aparat keamanan terbukti kecolongan dalam mengawasi pergerakan pria berusia 21 tahun ini. Padahal, catatan medis dan hukum menunjukkan pelaku berulang kali memicu alarm bahaya di sekitar pusat kekuasaan.
Dikutip dari CNN, insiden ini memicu pertanyaan besar mengenai efektivitas pengawasan Secret Service terhadap figur-figur yang masuk dalam daftar pantauan merah. Best bukan wajah baru, melainkan ancaman berjalan yang sudah berulang kali mengetuk pintu istana negara.
Dinas Rahasia AS terpaksa mengambil tindakan fatal ketika pelaku mendekati pos pemeriksaan luar secara agresif. Situasi berubah mencekam saat pemuda tersebut melepaskan tembakan ke arah petugas yang berjaga.
Kontak senjata yang terjadi dalam hitungan detik itu tidak hanya menewaskan pelaku di tempat kejadian. Peluru nyasar di tengah baku tembak dilaporkan turut melukai seorang warga sipil yang berada di lokasi.
Presiden Donald Trump yang berada di dalam gedung saat peristiwa berlangsung dipastikan selamat tanpa cedera. Namun, investigasi digital segera mengungkap jejak digital pelaku yang penuh dengan pesan ancaman dan delusi religius.
Melalui akun media sosial pribadinya, Best pernah mengunggah pernyataan yang secara terbuka mengancam keselamatan Presiden Trump.
Pada unggahan lain, ia secara kontroversial menulis, “Saya sebenarnya adalah anak Tuhan.”
Fakta persidangan membuktikan bahwa interaksi Best dengan Secret Service sudah berlangsung intensif sejak musim panas tahun lalu. Berdasarkan dokumen resmi, ia kerap berkeliaran di sekitar kompleks sembari menginterogasi petugas tentang cara menembus barikade.
Baca Juga: Rentetan Tembakan Mencekam Paksa Gedung Putih Lockdown Total
Aktivitas mencurigakan tersebut sempat dihentikan paksa oleh otoritas berwenang pada pertengahan tahun lalu. Dokumen pengadilan mencatat ia dimasukkan ke RS jiwa secara paksa pada 26 Juni 2025 karena “menghalangi jalur masuk kendaraan”.
Sifat delusif pelaku semakin memuncak hanya dalam hitungan minggu setelah ia dibebaskan dari fasilitas perawatan. Ia kembali melanggar batas perimeter keamanan tanpa mengindahkan peringatan keras dari barisan penjaga.
Ketika dikepung oleh banyak petugas di area terlarang pada 10 Juli 2025, Best berteriak histeris di hadapan aparat. Laporan resmi mencatat saat itu Best mengklaim dirinya sebagai Yesus dan menyatakan “bahwa dia ingin ditangkap”.
Rentetan insiden di tahun 2025 tersebut kini menjadi sorotan tajam publik pasca-terjadinya penembakan fatal pada hari Sabtu. Kasus ini memperpanjang daftar panjang ancaman keamanan nyata yang dihadapi oleh para pemimpin negara di Gedung Putih.
Kawasan Gedung Putih sendiri terkenal dengan sistem pengamanan berlapis paling ketat di dunia yang dijaga ketat oleh agen bersenjata otomatis. Kendati demikian, celah keamanan dari individu dengan gangguan psikologis berat tetap menjadi tantangan domestik yang belum terpecahkan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Kinerja Tim Komunikasi Buruk, Prabowo Diingatkan Segera Reshuffle Seskab Teddy hingga Kapolri
- Desil Mendadak Melonjak, Warga Jogja Terancam Kehilangan Bansos
- Lawan Pernyataan Eki Pitung, Pemuda Kaum Betawi Percaya dengan Warga Pati yang Demo 27 Agustus
- 3 Rice Cooker untuk Nasi Tahan 2 Hari dan Tidak Lengket Sesuai Klaim
- Anggaran Bencana Tak Ditemukan, Istana Malah Beli Merpati Rp305 Juta untuk Perayaan HUT ke-81 RI
Pilihan
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
Terkini
-
Dear Mom, Kabut Asap Makin Pekat, Ini Tanda Anak Mulai Terdampak
-
Kabut Asap Palembang Makin Pekat, Kapan Sekolah Mulai Belajar dari Rumah?
-
Ekonom Ungkap Efek Domino Karhutla: Dari Biaya Berobat hingga Pendapatan Warga Tertekan
-
Sumsel Dikepung 1.742 Hotspot, Seberapa Aman Warga dari Kabut Asap?
-
Viral Debt Collector Cek Nomor Mesin Kendaraan, Anggota DPR: Ya Sudah Lha
-
Lahan Perkebunan Indofood di Muba Terbakar, Mengapa Sumber Api Diminta Diusut?
-
Tak Perlu Transit, Citilink Kini Terbang Langsung Palembang-Yogyakarta Setiap Hari
-
Megawati Sentil Pragmatisme Politik: Jangan Jadikan Uang dan Kekuasaan sebagai Tujuan
-
Rekening Aktivis Pati Dibekukan, Koalisi Sipil: Jangan Jadikan Bank Alat Membungkam Kritik
-
Kebakaran Desa Adat Sade, Gubernur NTB Ungkap Dugaan Awal: Masalah Listrik