News / Internasional
Senin, 25 Mei 2026 | 13:12 WIB
Ketidakpercayaan publik dan misinformasi memperparah penyebaran mematikan wabah virus Ebola di Republik Demokratik Kongo. (AFP)
Baca 10 detik
  • Wabah Ebola di DRC menyebar cepat ke area perkotaan akibat misinformasi dan penolakan protokol kesehatan.
  • Konflik bersenjata, pengungsian massal, dan pemotongan dana internasional memperlambat respons medis di lapangan.
  • WHO menaikkan status risiko ke tingkat sangat tinggi sementara pengembangan vaksin diperkirakan memakan waktu berbulan-bulan.

Suara.com - Ancaman fatal wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo (DRC) kini bukan lagi sekadar krisis medis, melainkan perang melawan misinformasi yang mengakar. Keengganan masyarakat lokal dalam mempercayai keberadaan virus ini menjadi bahan bakar utama yang mempercepat transmisi horizontal di kawasan perkotaan.

Pola penolakan tersebut memicu resistensi kultural yang masif terhadap protokol kesehatan dasar. Akibatnya, rantai penularan di episentrum baru terus meluas akibat pengabaian penggunaan masker dan sanitasi minimal.

Kondisi sosiologis ini diperparah oleh infrastruktur kesehatan yang sejak awal ringkih akibat konflik bersenjata berkepanjangan. Kombinasi antara ketidakpercayaan publik dan kelangkaan logistik medis kini mengancam keruntuhan total sistem pencegahan darurat.

Ilustrasi wabah Ebola. [Pixabay/CDC]

Pedagang kakao di wilayah timur DRC, Hélène Akilimali, menjadi saksi hidup bagaimana pengabaian protokol kesehatan terjadi setiap hari di pasar-pasar lokal. Ia berada di garis depan interaksi ekonomi yang rentan tanpa daya untuk mendisiplinkan para pelanggannya.

“Ebola adalah penyakit nyata. Orang-orang harus berhenti menipu diri mereka sendiri,” kata Akilimali dikutip dari CNN, Senin (25/5/2026).

Ia juga memperingatkan bahwa hoaks, mitos seputar virus, dan sikap acuh tak acuh tengah merenggut nyawa banyak orang. Realitas di lapangan menunjukkan stratifikasi sosial yang timpang dalam kesadaran mitigasi biologis ini.

“Saya selalu mengenakan masker medis saya. Namun bagi para pelanggan, ketika mereka datang, mereka bisa saja memakai atau tidak memakai masker,” ujar Akilimali kepada jurnalis yang bertugas di lapangan. “Anda tidak mungkin mengusir mereka begitu saja.”

Ilustrasi virus Ebola. (Magnific)

Aline Kitambala Masika, warga Kota Bunia yang berasal dari Provinsi Kivu Utara, membagikan kepedihan mendalam akibat skeptisisme lingkungan sekitarnya. Ia berharap masyarakat segera sadar sebelum terlambat.

“Ebola menghancurkan seluruh keluarga saya,” ucapnya dengan penuh penyesalan.

Baca Juga: WHO Tetapkan Wabah Ebola di Kongo Darurat Internasional, Risiko Kematian 32,5 Persen

Skeptisisme ini perlahan mulai terkikis secara tragis hanya ketika kematian demi kematian mulai mengetuk pintu rumah warga satu per satu. Pengalaman empiris yang mematikan menjadi guru paksa bagi komunitas yang sebelumnya abai.

“Saat kita melihat orang-orang meninggal, kita terbiasa menganggapnya sebagai lelucon, tetapi sekarang kita bisa melihat bahwa itu nyata,” tutur Élie Ilunga, seorang warga Kota Bunia. “Penyakit ini pasti ada di sini.”

Ia berupaya keras melindungi keluarganya secara mandiri dengan menyediakan fasilitas cuci tangan di depan kediamannya. Ilunga secara konsisten meminta lingkungannya untuk segera mengakhiri keraguan terhadap epidemi ini.

“Mereka yang ragu mungkin adalah mereka yang belum mengalami (kematian) ini secara langsung atau yang keluarganya belum terdampak,” tambah Ilunga.

Namun, friksi sosial akibat distrust ini sempat meledak menjadi aksi anarkis yang membakar fasilitas karantina medis. Kerabat dari seorang pasien yang meninggal dunia menolak prosedur pemakaman standar epidemiologi.

Ketegangan tersebut berujung pada pembakaran dua tenda perawatan di Rumah Sakit Rwampara oleh massa yang emosional. Respon represif terpaksa diambil otoritas setempat dengan melarang segala bentuk kerumunan dan upacara perkabungan tradisional.

Langkah tegas ini diambil karena tradisi menyentuh jenazah dalam prosesi pemakaman lokal terbukti mempercepat replikasi virus secara masif. Jenazah korban Ebola diketahui memiliki tingkat infeksi yang sangat tinggi bagi siapa pun yang bersentuhan.

“Membangun kepercayaan di komunitas yang terdampak sangat penting untuk keberhasilan respons, dan merupakan salah satu prioritas tertinggi kami,” tegas Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus.

Setelah insiden kebakaran tersebut, pihak WHO menegaskan komitmennya untuk menjaga kelangsungan layanan kesehatan primer di wilayah konflik. Hingga kini, visualisasi data menunjukkan situasi yang terus memburuk dengan ratusan korban jiwa.

Tedros Adhanom Ghebreyesus melalui media sosialnya mengonfirmasi eskalasi status bahaya medis ini. Deteksi dini yang terlambat membuat proyeksi kurva epidemiologi diprediksi akan terus mengalami kenaikan.

“Lebih dari 900 kasus suspek telah diidentifikasi sejauh ini, termasuk 101 kasus konfirmasi,” ungkapnya.

WHO sebelumnya menyatakan sedikitnya 177 kematian kini diduga kuat berkaitan dengan ledakan wabah Ebola di DRC. Penularan yang bermula dari area rural kini telah menginvasi pusat kota padat penduduk seperti Bunia dan Goma.

Eskalasi ini membuat WHO menaikkan level risiko menjadi "sangat tinggi" di tingkat nasional DRC dan "tinggi" pada skala regional. Meski demikian, ancaman global dinilai masih berada pada kategori rendah untuk saat ini.

Di sisi lain, respons darurat terhambat oleh kebijakan pemotongan anggaran bantuan internasional yang dilakukan oleh Amerika Serikat sebelumnya. Pengurangan pendanaan dari USAID disebut-sebut melemahkan kesiapan logistik di garda depan.

Meskipun demikian, pejabat Departemen Luar Negeri AS membantah klaim tersebut secara sepihak. Mereka menyatakan perubahan kebijakan pemerintahan tidak memengaruhi efektivitas penanggulangan wabah di Afrika.

Direktur Save the Children untuk DRC, Greg Ramm, menyatakan lembaganya bergerak cepat mendistribusikan disinfektan dan klorin ke klinik-klinik lokal. Pendanaan kemanusiaan saat ini jauh menyusut dibanding periode beberapa tahun lalu.

“Kami sedang dalam permainan mengejar ketertinggalan. Sumber daya kesehatan tidak mencukupi,” jelas Ramm. “Ini tentang menerapkan langkah-langkah pencegahan dan pengendalian infeksi dasar ke pusat-pusat kesehatan.”

Ia menekankan pentingnya menjaga stabilitas operasional puskesmas agar warga tidak takut mencari pertolongan medis. Jika sistem kesehatan kolaps, risiko kematian akibat penyakit endemik lain seperti malaria justru akan melonjak jauh lebih tinggi.

“Tujuannya adalah menjaga agar pusat kesehatan tetap berfungsi untuk mendorong orang yang sakit Ebola atau penyakit lain mendapatkan bantuan,” cetusnya. “Hal terakhir yang kita butuhkan saat ini adalah sistem kesehatan yang berhenti beroperasi.”

Guna memutus rantai penularan, para praktisi medis di lapangan terus mengampanyekan pembatasan kontak fisik secara radikal. Edukasi intensif difokuskan pada penghentian budaya bersalaman dan interaksi dengan satwa liar.

“Setiap orang harus mengadopsi sikap preventif untuk memutus rantai infeksi ini,” imbau Dr. Mwarabu Hugue.

Langkah mitigasi ketat juga diambil negara tetangga, Uganda, yang sejauh ini mengonfirmasi lima kasus dengan dua kematian. Presiden Uganda, Yoweri Museveni, langsung menginstruksikan warganya untuk menghindari jabat tangan guna memproteksi wilayahnya.

Sementara itu, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika (Africa CDC) tengah berpacu dengan waktu dalam memproduksi regimen terapeutik. Pengembangan vaksin baru terus dikebut untuk mengatasi varian virus Ebola yang belum memiliki obat resmi ini.

“Akan memakan waktu beberapa bulan bagi kami untuk menyelesaikan vaksin ini,” urai Direktur Jenderal Africa CDC, Dr. Jean Kaseya. “Siapa pun yang memberi Anda jumlah bulan yang spesifik tidak mengatakan yang sebenarnya. Ini mungkin memakan waktu yang cukup lama.”

Krisis Ebola di wilayah timur DRC berakar dari rapuhnya sistem kesehatan akibat eksploitasi geopolitik dan konflik bersenjata selama puluhan tahun. Situasi semakin kompleks karena wilayah ini menampung sekitar dua juta pengungsi internal yang hidup dalam sanitasi buruk.

Ditambah lagi, varian virus Ebola yang mendominasi gelombang kali ini belum memiliki pengobatan yang disetujui secara klinis. Gabungan faktor kerentanan ekonomi, sosiologis, dan politik inilah yang mentransformasikan wabah medis menjadi sebuah katastrofe kemanusiaan.

Load More