Suara.com - Sebuah penelitian terbaru menemukan bahwa kontaminasi Perfluoroalkyl and Polyfluoroalkyl Substances (PFAS) atau yang kerap disebut “bahan kimia abadi” dapat bertahan di lingkungan selama puluhan tahun setelah terjadi satu insiden pencemaran.
Penelitian yang dikutip dari Phys.org meneliti dampak dua kecelakaan truk tangki bahan bakar yang terjadi di kawasan tangkapan air minum Australia, yakni di Medlow Bath, Blue Mountains pada 1992 dan Ourimbah pada 2000.
Dalam kedua peristiwa tersebut, petugas pemadam kebakaran menggunakan busa pemadam api yang mengandung perfluorooktana sulfonat (PFOS), salah satu jenis PFAS yang saat itu banyak digunakan secara global.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kontaminasi PFAS dari proses pemadaman kebakaran tersebut tidak terdeteksi selama 24 hingga 33 tahun. Tidak adanya sistem pemantauan khusus membuat pencemaran berlangsung tanpa diketahui hingga akhirnya ditemukan dalam pengujian terbaru.
PFAS merupakan kelompok ribuan bahan kimia sintetis yang banyak digunakan dalam berbagai produk sehari-hari, mulai dari peralatan masak anti lengket, tekstil tahan air, hingga kemasan makanan. Senyawa ini dikenal sangat sulit terurai secara alami sehingga dapat bertahan lama di tanah, air, dan jaringan makhluk hidup.
Berbagai penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa paparan PFAS dalam jangka panjang dapat dikaitkan dengan peningkatan risiko sejumlah masalah kesehatan, seperti gangguan kesuburan, tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, penyakit hati, obesitas, hingga beberapa jenis kanker.
Mencemari Pasokan Air Minum
Dampak pencemaran tersebut juga ditemukan pada sumber air minum masyarakat. Di kawasan Upper Blue Mountains yang memasok kebutuhan air bagi sekitar 40.000 penduduk, kadar PFOS dalam air minum tercatat mencapai 16,4 nanogram per liter pada Juni 2024.
Angka tersebut melampaui batas aman yang direkomendasikan dalam pedoman setempat dan menyebabkan dua waduk penyimpanan air harus ditutup sementara untuk mencegah risiko paparan lebih lanjut.
Baca Juga: Zero Waste dan Tekanan Sosial: Saat Peduli Lingkungan Jadi Ajang Kompetisi
Pengujian lanjutan pada Oktober 2025 menemukan kondisi yang lebih mengkhawatirkan. Kadar PFOS di sungai yang terkontaminasi tercatat berada pada kisaran 2.000 hingga 2.400 nanogram per liter atau sekitar 250 hingga 300 kali lebih tinggi dibanding ambang batas aman maksimum yang direkomendasikan, yaitu di bawah 8 nanogram per liter.
Kontaminasi juga ditemukan di kawasan Warisan Dunia UNESCO Blue Mountains. Di sejumlah lokasi, kadar PFAS dilaporkan melebihi ambang batas perlindungan spesies air tawar hingga 100 kali lipat, menimbulkan kekhawatiran terhadap kesehatan ekosistem setempat.
Pentingnya Pemantauan Jangka Panjang
Peneliti menyoroti bahwa hingga kini belum ada upaya remediasi atau pembersihan tanah dan sumber air yang terkontaminasi di lokasi tersebut. Kondisi itu menunjukkan bahwa satu insiden pencemaran yang melibatkan PFAS dapat meninggalkan dampak lingkungan dalam jangka waktu yang sangat panjang.
Temuan ini sekaligus menegaskan pentingnya sistem pemantauan kualitas air dan lingkungan yang berkelanjutan, terutama di kawasan sumber air minum. Menurut para peneliti, deteksi dini dapat membantu mencegah pencemaran meluas dan mengurangi risiko kesehatan masyarakat maupun kerusakan ekosistem di masa depan.
Studi tersebut menambah bukti bahwa PFAS merupakan salah satu tantangan lingkungan yang membutuhkan perhatian jangka panjang. Meski penggunaannya telah dibatasi di banyak negara, jejak pencemaran dari masa lalu masih dapat ditemukan puluhan tahun kemudian dan terus memengaruhi kualitas lingkungan serta sumber daya air.
Penulis: Vicka Rumanti
Berita Terkait
Terpopuler
- Lupakan Aerox atau NMAX, Skutik Baru Yamaha Ini Punya Traksi dan Agresivitas Sempurna di Trek Basah
- Ratusan Honorer NTB Diberikan Tali Asih Rp3,5 Juta Usai Putus Kontrak
- 3 Sampo yang Mengandung Niacinamide untuk Atasi Rambut Rontok dan Ketombe
- Anggota DPR RI Mendadak Usul Bangun 1.000 Bioskop di Desa Pakai Dana APBN 2027
- 4 Bedak Padat Wardah yang Tahan 12 Jam, Coverage Tinggi dan Nyaman Dipakai Seharian
Pilihan
-
Staf Ahli Gubernur Kaltim Bawa-Bawa Status "Cucu Nabi" Demi Redam Demo Massa
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
-
Nathalie Holshcer Sebut Pengawal Pribadinya Ditembak Polisi, Minta Tanggung Jawab Polri
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
-
Bawa Bukti ke Istana, Purbaya 'Bongkar' 10 Perusahaan Sawit Manipulasi Harga Ekspor
Terkini
-
Polri Pastikan Blackout di Sumatera Bukan Sabotase, Ini Penyebab Aslinya
-
Misteri Matematika 80 Tahun Terpecahkan! OpenAI Selesaikan Soal Geometri Paling Sulit di Dunia
-
Dari Dapur hingga Ladang: Bagaimana Krisis Iklim Memengaruhi Kehidupan Perempuan?
-
Bukan Mistis! Anggota DPR Ungkap Dampak Ngeri Hoaks 'Pocong Begal' bagi Ekonomi Warga
-
Gelombang Panas Ekstrem di India Tewaskan 16 Orang, Suhu Tembus 45 Derajat
-
Piala Dunia 2026 dan Haji Jadi Jalan Damai AS-Iran? Negosiasi Disebut Hampir Rampung
-
Perang AS-Iran 'Libur', Kini Rudal Hipersonik Rusia Hantam Kyiv
-
Senin Pagi Mencekam di Klender: Tawuran Bersenjata Busur Panah Pecah di Tengah Jam Sibuk
-
Bom Bunuh Diri Guncang Pakistan, Kereta Militer Hancur Tewaskan Lebih dari 20 Orang
-
Gaduh Alfamart di Lombok Tengah Dipaksa Tutup, Ini Regulasi yang Sebenarnya!