-
Amerika Serikat membom pangkalan rudal Iran di dekat Selat Hormuz dengan alasan membela diri.
-
Serangan militer ini terjadi di tengah negosiasi damai dan perpanjangan gencatan senjata kedua negara.
-
Menlu AS Marco Rubio menegaskan kesepakatan nuklir hanya terjadi jika Iran menyetujui syarat yang menguntungkan.
"Mereka akan terbuka dengan satu atau lain cara, jadi mereka harus terbuka."
"Apa yang terjadi di sana melanggar hukum, ilegal, tidak berkelanjutan bagi dunia, dan tidak dapat diterima."
Tindakan sepihak Amerika Serikat ini langsung memicu reaksi keras dari pemimpin tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei. Dalam pesan tertulisnya, ia menegaskan bahwa peta geopolitik Timur Tengah kini sudah jauh berubah.
"Timur Tengah tidak akan lagi berfungsi sebagai perisai bagi pangkalan-pangkalan AS," kecam Khamenei melalui pesan tertulis menyambut ibadah haji tahunan.
"Selain tidak lagi memiliki tempat aman untuk kejahatan dan mendirikan pangkalan militer di wilayah tersebut, Amerika bergerak menjauh dari status sebelumnya dari hari ke hari."
Ketegangan bersenjata ini sebenarnya merupakan kelanjutan dari gesekan hebat antara kapal perusak AS dan armada laut Iran di Selat Hormuz pada awal Mei lalu. Meski kedua belah pihak saling melempar tuduhan sebagai pemicu bentrokan, Presiden Donald Trump saat itu tetap bersikeras bahwa kesepakatan gencatan senjata yang dimulai sejak 8 April masih berlaku efektif.
Upaya damai yang sedang digodok saat ini kabarnya mencakup rencana perpanjangan gencatan senjata selama 60 hari, pembukaan kembali Selat Hormuz secara penuh, serta penyusunan peta jalan untuk negosiasi lanjutan terkait program nuklir Teheran.
Namun, intelijen Amerika meyakini proses komunikasi terhambat karena Mojtaba Khamenei saat ini dilaporkan bersembunyi di lokasi rahasia akibat cedera dari serangan Israel yang menewaskan ayahnya tiga bulan lalu.
Persoalan krusial dalam perundingan ini mencakup desakan AS agar Iran memusnahkan atau menyerahkan cadangan uraniumnya yang telah diperkaya hingga 60 persen—ambang batas yang sangat dekat untuk menciptakan bom nuklir.
Baca Juga: Bocoran Der Spiegel: AS Berencana Pangkas Drastis Kontribusi Militer untuk NATO
Berita Terkait
Terpopuler
- 50 Orang Berambut Cepak 'Serbu' Polda Metro Jaya: 'Mau Ambil Saksi Kasus Jampidsus'
- Jampidsus Febrie Adriansyah Tengah Disorot Publik, Keberadaannya Masih Misterius
- Surat Edaran Rahasia Kejagung Bocor, Jaksa Diminta Waspada dan Dilarang Berkomentar soal Perkara
- Bedak Apa yang Bisa Menghilangkan Flek Hitam? Ini 5 Pilihan Terbaik sesuai Review dan Harga
- 4 Toko Online Terpercaya untuk Beli Sepatu Lari di Indonesia, Dijamin Original
Pilihan
-
Garda Revolusi Iran Tutup Lagi Selat Hormuz Sampai Batas Waktu Tak Ditentukan
-
Jadi Tersangka Bareng Eks Jampidsus Febrie, Don Ritto Sudah Ditahan di Rutan Polda Metro Jaya
-
Polri Tetapkan Febrie Adriansyah dan DR Tersangka Kasus Dugaan Korupsi serta TPPU
-
Jampdisus Febrie Adriansyah Akhirnya Mundur
-
Tangan Terborgol, Mulut Bungkam: Raut Wajah Bupati Sukoharjo Pakai Rompi Oranye KPK Tengah Malam
Terkini
-
Lantik Pengurus Aceh, Bahlil Tegaskan Golkar Dukung Prabowo Sampai Selesai
-
Profil Tan Kian, Bos Pacific Place yang Terseret Kasus Korupsi PLN hingga Asabri
-
Norwegia Tersingkir dari Piala Dunia, Cak Imin Pindah Haluan Dukung Argentina
-
Kematian Misterius Kauana Bilhar Influencer Brasil, Jatuh dari Lantai 27 di Dubai
-
Garda Revolusi Iran Tutup Lagi Selat Hormuz Sampai Batas Waktu Tak Ditentukan
-
Amerika Serikat Balas Serangan ke Iran, Ketegangan Memuncak di Selat Hormuz
-
Prakiraan Cuaca Hari Ini: Waspada Hujan Lebat Imbas Bibit Siklon 97 W
-
Akademisi: Korupsi Batu Bara PLTU Jangan Berhenti di Eks Jampidsus, Ungkap Seluruh yang Terlibat
-
Panja Awasi Kasus Korupsi Febrie, DPR: Biar Tak Ada Fitnah, Jangan Emas Batangan Ditukar Cokelat
-
DPR Desak Hukuman Mati untuk Febrie Adriansyah: Penghianat Hukum yang Lukai Rakyat!