- Mendiktisaintek Brian Yuliarto menegaskan pemerintah tidak akan menutup program studi perguruan tinggi meski terdapat isu penyesuaian industri.
- Pemerintah akan berfokus pada pembinaan serta pengembangan kurikulum agar substansi pembelajaran tetap relevan dengan perkembangan teknologi terkini.
- Setiap program studi diwajibkan mengevaluasi kurikulum secara berkala setiap tiga hingga empat tahun untuk mengoptimalkan kompetensi lulusan.
Suara.com - Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto membantah anggapan bahwa pemerintah akan menutup program studi yang dinilai tidak sesuai dengan kebutuhan industri di masa depan.
Penegasan itu disampaikan Brian dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi X DPR RI setelah muncul isu mengenai rencana penyesuaian jurusan perguruan tinggi dengan kebutuhan pasar kerja.
"Jadi terkait dengan isu yang kemudian berkembang bahwa Kementerian Pendidikan Tinggi akan melakukan penutupan program studi untuk penyesuaian dengan industri yang akan berkembang di masa depan, kami dapat menyampaikan bahwa hal tersebut tidak menjadi kebijakan kami," kata Brian di Senayan, Jakarta, Selasa (2/6/2026).
Menurut dia, pendekatan yang ditempuh pemerintah bukan menutup program studi, melainkan melakukan pembinaan dan pengembangan kurikulum agar tetap relevan dengan perkembangan zaman.
"Jadi yang ada adalah program untuk pembinaan dan pengembangan program studi," ujarnya.
Brian menjelaskan bahwa perubahan yang dilakukan lebih menyasar substansi pembelajaran, bukan menghilangkan bidang ilmu tertentu.
Sebagai contoh, program studi Teknik Elektro dapat menyesuaikan kurikulumnya dengan perkembangan teknologi terkini seperti kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), machine learning, maupun robotika.
"Sesungguhnya program studi itu tidak ditutup tetapi lebih kepada substansinya, misalnya yang sebelumnya jurusan teknik elektro, kemudian sekarang berkembang menjadi AI atau machine learning atau robotics," katanya.
Ia mengatakan evaluasi kurikulum secara berkala memang diperlukan agar lulusan perguruan tinggi tetap memiliki kompetensi yang sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan kebutuhan dunia kerja.
Baca Juga: Angka Kecurangan Capai 99 Persen, Ada Apa dengan Fakultas Kedokteran di SNBT 2026?
Karena itu, kementerian mendorong setiap program studi melakukan evaluasi dalam rentang tiga hingga empat tahun melalui asosiasi atau badan kerja program studi di masing-masing bidang keilmuan.
"Mereka setiap tiga atau empat tahun melakukan evaluasi untuk mencari atau mengoptimalkan bagaimana perkembangan keilmuan di bidang tersebut," ujar Brian.
Menurut dia, hasil evaluasi tersebut nantinya akan menjadi dasar rekomendasi terkait materi yang perlu dipertahankan, diperkuat, atau disesuaikan dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan industri.
"Alih-alih kita menutup, tetapi kita mengembangkan program studi untuk bisa sesuai, matching, dengan kebutuhan industri. Tetapi bukan atau tidak dengan menutup program studi, melainkan mengembangkan dan menyesuaikan substansi yang diajarkan," tuturnya.
Brian menegaskan pendekatan tersebut berlaku untuk seluruh program studi, termasuk jurusan pendidikan yang belakangan juga disebut-sebut berpotensi terdampak penyesuaian kebutuhan industri.
Berita Terkait
Terpopuler
- Prabowo Disebut Habiskan Rp5,8 Miliar untuk Hotel di Paris, Sandhy Sondoro: Asoy Geboy Gemoy
- Budget Rp2 Juta Dapat HP Samsung Apa? Ini 3 Pilihan dengan RAM 8 GB, Kamera OIS, Layar AMOLED
- Pandji Pragiwaksono Soroti 'Pengakuan Terbuka' Prabowo Soal Keterlibatan Partai dalam Tender Negara
- Sepatu Lari Cocok untuk Jalan Kaki? Ini 3 Sepatu Terbaik Menurut Pakar Beserta Harganya
- 5 Sunscreen Lokal untuk Hempas Flek Hitam, Lengkap dengan Review dan Harganya
Pilihan
-
674 Korban Kebakaran Kemayoran Mengungsi, Posko Bantuan dan Layanan Kesehatan Disiagakan
-
Kebakaran Kemayoran: Ratusan KK Terdampak, Korban Dievakuasi ke RS Hermina
-
Atma Jaya Yogyakarta Temukan Empat Mahasiswa Terlibat Kasus Riset AI, Kampus Siapkan Sanksi
-
Prabowo: Kalau Kita Lapar, Tidak Ada Bangsa Lain yang Kasihan dan Bantu
-
Prabowo Tabuh Genderang Perang: Kita Lawan Kelompok Anti Tanah Air
Terkini
-
Lebanon Bongkar Kebohongan Israel di PBB: Klaim Bela Diri, tapi Serang RS hingga Situs Warisan Dunia
-
RUU Polri Dikhawatirkan Bikin Karier Mandek dan Regenerasi Tersumbat
-
Ditjen Imigrasi Dorong Penguatan Wewenang melalui Revisi UU TPPO
-
Kurang Sowan, Nadiem Akui Banyak Kesalahan Saat Jadi Menteri
-
Prabowo Lahap Nikmati MBG Bareng Siswa SMP, Tanya Cita-cita hingga Nyanyi Bersama
-
Tenaga Surya Tak Cukup, NASA Nekat Bangun Pembangkit Nuklir Demi Bangun Koloni di Bulan
-
Nadiem Makarim: Profesional Muda Kini Takut Jadi Korban Kriminalisasi Berikutnya
-
Pakar Hukum Kompak Sebut Kerry Riza Seharusnya Divonis Bebas: Unsur Pidana Tak Terbukti
-
Anies Baswedan Skakmat Seskab Teddy yang Sebut Dino Patti Djalal 'Pejabat Cuma 3 Bulan'
-
Bukan Cuma Satu, Ini Bocoran Calon Tersangka Pembubaran Ibadah Gereja di Bantul