News / Nasional
Selasa, 02 Juni 2026 | 15:15 WIB
Momen keakraban antara Presiden Prabowo Subianto dan Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri, saat mengahdiri acara Peringatan Hari Lahir Pancasila di Gedung Pancasila, Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Senin (1/6/2026). [Suara.com/tangkapan layar]
Baca 10 detik
  • Ketua DPP PDIP Said Abdullah menegaskan hubungan Prabowo Subianto dan Megawati Soekarnoputri terjalin sangat kokoh dan tulus.
  • Kedekatan kedua tokoh tersebut berlandaskan sejarah perjuangan bersama, profesionalitas kenegaraan, serta visi politik kebangsaan yang melampaui perbedaan.
  • Keakraban saat peringatan Hari Lahir Pancasila mencerminkan sinergi positif antara Fraksi PDIP dan Gerindra di parlemen Indonesia.

Suara.com - Ketua DPP PDI Perjuangan (PDIP) Said Abdullah memberikan catatan mendalam mengenai momen keakraban antara Presiden Prabowo Subianto dan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri pada peringatan Hari Lahir Pancasila, Minggu (1/6).

Ia menegaskan, bahwa kedekatan kedua tokoh bangsa tersebut memiliki fondasi yang jauh lebih kuat dari apa yang sering dipersepsikan publik.

"Persahabatan kedua beliau ini kokoh, bukan hanya sebatas pertemanan 'nasi goreng' yang seringkali dilihat oleh publik. Pertemanan kedua beliau ini tulus, tak ada cela," ujar Said Abdullah dalam keterangan resminya dikutip Suara.com, Selasa (2/6/2026).

Istilah "nasi goreng" merujuk pada memori publik saat Prabowo berkunjung ke kediaman Megawati di Teuku Umar beberapa tahun lalu, yang kala itu mencairkan ketegangan politik. Namun bagi Said, hubungan tersebut jauh melampaui simbol pertemuan makan malam.

Said memaparkan tiga aspek utama yang membuat hubungan ini tetap "awet". Pertama, aspek historis di mana keduanya pernah berjuang bersama sebagai pasangan capres-cawapres pada Pilpres 2009.

Meski setelah itu mereka kerap berada di kubu yang berseberangan, termasuk saat PDIP mengusung Joko Widodo, silaturahmi tetap terjaga.

Kedua, aspek profesionalitas kenegaraan. Said menyoroti bagaimana Presiden Prabowo tetap mempercayakan posisi Ketua Dewan Pengarah BPIP dan BRIN kepada Megawati, meskipun PDIP saat ini berperan sebagai partai penyeimbang di luar pemerintahan.

"Artinya, Presiden Prabowo memandang Ibu Mega memiliki kapasitas kenegarawanan. Urusan Pancasila ini melampaui segala-galanya, dan itulah yang dipedomani oleh kedua beliau. Kemesraan pada acara Hari Pancasila itu adalah manifestasi dari hal ini," lanjutnya.

Aspek ketiga adalah pandangan politik kebangsaan yang disebut Said sebagai level political beyond.

Baca Juga: Gerindra Sebut Keakraban Prabowo dan Megawati Sebagai Simbol Persatuan Hadapi Tantangan Global

Di mana perbedaan jalan politik tidak dianggap sebagai permusuhan. Said menyebut Prabowo sangat menghargai masukan-masukan kritis dari kader PDIP di DPR.

Keteladanan dari "puncak pimpinan" ini, menurut Said, telah merembes hingga ke akar rumput parlemen. Ia mengungkapkan bahwa hubungan antara Fraksi PDIP dan Fraksi Gerindra di DPR saat ini sangat cair dan saling menghargai.

"Kedua fraksi bisa cair saling berdiskusi, bertukar pandangan dalam membahas kebijakan dan program pemerintah. Meskipun ada perbedaan pandangan, keduanya tetap memahami posisi masing-masing sebagai sahabat politik yang tetap bisa bersinergi demi bangsa dan negara," pungkas Said.

Load More