News / Nasional
Selasa, 02 Juni 2026 | 20:58 WIB
Ikan mati massal di saluran irigasi Karawang. ANTARA/Ali Khumaini.
Baca 10 detik
  • DLH Karawang melarang warga mengonsumsi ikan mati massal di saluran irigasi Karawang Timur karena penyebabnya belum teridentifikasi.
  • Petugas DLH dan Satgas Citarum Harum sedang meneliti sampel air di laboratorium untuk menentukan penyebab kematian ikan tersebut.
  • Pemerintah daerah mengimbau masyarakat agar tetap waspada serta menghindari pengambilan ikan mati demi mencegah risiko masalah kesehatan serius.

Suara.com - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Karawang mengeluarkan peringatan kepada masyarakat agar tidak mengonsumsi ikan yang ditemukan mati massal di saluran irigasi wilayah Karawang Timur. Imbauan itu disampaikan karena penyebab kematian ikan masih dalam tahap penyelidikan dan kualitas air masih diuji di laboratorium.

Kepala Bidang Tata Lingkungan dan Penataan Peraturan DLH Karawang, Luki Mantera Dwi Putra Romly, mengatakan pihaknya belum dapat memastikan apakah kematian ribuan ikan tersebut disebabkan oleh pencemaran, keracunan, atau faktor lainnya.

Menurutnya, hingga saat ini kandungan air di saluran irigasi yang diduga menjadi lokasi matinya ikan secara massal juga masih dalam proses pemeriksaan.

Fenomena tersebut menarik perhatian warga. Banyak masyarakat datang ke lokasi untuk melihat langsung ikan-ikan yang mengambang di permukaan air. Bahkan, sebagian warga diketahui mengambil ikan tersebut untuk dibawa pulang.

"Jadi supaya aman, kami mengimbau agar ikan yang mati massal itu jangan dikonsumsi, karena kita belum tahu kandungan di dalam ikan sampai mati mengambang," katanya.

DLH Karawang bersama Satgas Citarum Harum kini tengah menelusuri sumber penyebab kematian ikan di saluran irigasi yang berada di Kelurahan Karawang Wetan, Kecamatan Karawang Timur.

Petugas telah melakukan pemeriksaan awal terhadap kualitas air, termasuk pengukuran tingkat keasaman atau pH. Dari hasil pengujian sementara, nilai pH tercatat berada di angka 6, yang masih masuk dalam ambang baku mutu lingkungan antara 6 hingga 9.

Namun, hasil tersebut belum cukup untuk menjelaskan penyebab pasti kematian ikan dalam jumlah besar.

Untuk mendapatkan gambaran yang lebih lengkap, DLH telah mengambil sampel air dari lokasi kejadian dan mengirimkannya ke laboratorium lingkungan untuk dianalisis lebih lanjut.

Baca Juga: Geger Eks Pegawai Sudin LH Jakpus Tewas Usai Diduga Lompat dari Jembatan Cawang

"Kami masih belum bisa menyimpulkan penyebabnya dan masih menunggu hasil laboratorium," kata dia.

Pemerintah daerah mengingatkan masyarakat agar tetap berhati-hati dan tidak mengonsumsi ikan yang ditemukan mati di saluran irigasi sampai hasil pemeriksaan laboratorium keluar. Langkah tersebut dilakukan untuk mencegah kemungkinan risiko kesehatan akibat mengonsumsi ikan yang penyebab kematiannya belum diketahui secara pasti.

Load More