-
Iran membatasi izin lintas bebas Selat Hormuz hanya selama 60 hari kepada Amerika Serikat.
-
Teheran siap menghadapi perang terbuka jika Washington melanggar kesepakatan memorandum damai yang ada.
-
Pencairan aset senilai 12 miliar dolar AS memulihkan ekspor minyak mentah ekonomi Iran.
Gencatan senjata yang rapuh ini berada di bawah pengawasan ketat korps militer Iran yang siap melakukan pembalasan total. Washington diperingatkan untuk tidak memicu konfrontasi bersenjata yang dapat menghentikan sirkulasi energi global.
"Jika AS menginginkan perang, kami tahu betul bagaimana cara bertarung," tegas Qalibaf memperingatkan Washington.
Skenario pemblokiran total ekspor minyak menjadi ancaman nyata yang siap dieksekusi jika Amerika Serikat kembali menerapkan pembatasan sepihak. Iran memastikan bahwa kehancuran ekonomi akibat konflik akan ditanggung bersama oleh seluruh dunia.
"Jika mereka ingin merampas hak kami untuk menjual minyak, maka tidak ada yang akan mendapat keuntungan dari minyak," ancam Qalibaf.
Serangan strategis terhadap Israel sebelumnya diklaim sebagai bentuk solidaritas pertahanan terhadap kedaulatan Lebanon yang digempur konflik. Di sisi lain, tim gabungan bilateral kini tengah dirancang untuk merumuskan resolusi jangka panjang.
Qalibaf menyatakan bahwa Iran telah menargetkan Israel "karena membela Lebanon," sembari terus menuntut implementasi penuh dari memorandum tersebut. Komite bersama perwakilan Iran dan AS akan segera dibentuk untuk mengakhiri perang di Lebanon.
Ketegangan ini berakar dari memorandum kesepahaman yang dimediasi oleh Pakistan dan mulai berlaku pada 18 Juni lalu. Dokumen penting tersebut ditandatangani secara elektronik oleh Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan Presiden AS Donald Trump.
Kesepakatan ini menggarisbawahi kerangka kerja penghentian permusuhan, pemulihan ekonomi, penyelesaian berkas nuklir, hingga pembukaan kembali Selat Hormuz. Jalur diplomasi ini menjadi ujian krusial bagi arsitektur keamanan regional di kawasan Timur Tengah.
Baca Juga: Pasar Antisipasi Perundingan AS - Iran di Doha, Harga Minyak Dunia Melemah
Berita Terkait
Terpopuler
- Demi Ketenangan Almarhum, Orang Tua Affan Kurniawan Mohon Tak Ada Peringatan Setahun Kematian
- Masuk Desil 10 Padahal Penghasilan Pas-pasan? Jangan Panik, Ini Arti dan Penjelasan Resminya
- 12 Ikan Hias Pembawa Keberuntungan Menurut Feng Shui, Cocok untuk Akuarium di Rumah
- Jelang FIFA ASEAN Cup 2026, Kevin Diks Tegas Sistem Empat Bek Lebih Cocok
- Mau Terlihat Lebih Muda? Ini 5 Pilihan Warna Lipstik yang Bisa Dicoba
Pilihan
-
Gempa 6,4M Guncang Sumatera Utara sampai Sumbar
-
Masih Banyak Warga NTT Terjebak di Bawah Reruntuhan Bangunan, 2000 Orang Mengungsi
-
Info Terbaru Gempa NTT: 15 Warga Manggarai Tewas, 280 Bangunan Jadi Puing
-
5 Bandara Rusak Diguncang Gempa NTT, Landasan Pacu Sampai Retak
-
Pesona Masjid Pancasila Kediri: Sederhana di Luar, Bikin Pangling di Dalam
Terkini
-
Soroti Manuver Politik di Kasus Eks Jampidsus, Sejumlah Akademisi Minta Prabowo Turun Tangan
-
Dua Pidato di DPR Tunjukkan Arah Ekonomi Prabowo Semakin Jelas
-
Gempa NTT, Selly Gantina Minta Pemerintah Segera Tembus Daerah Berdampak
-
PTBA Kembali Hadirkan BIDIKSIBA, Buka Jalan Generasi Muda Menuju Pendidikan Tinggi
-
Spot 17-an Kekinian di Blok M: Dari Secret Gig sampai Tantangan Senyum!
-
Beras Fortifikasi Jadi Pelarian Produsen Akibat Melonjaknya Harga Gabah
-
Hendardi Singgung Manuver Hukum Eks Jampidsus, Dinilai Kelabui Publik Soal Substansi Perkara
-
Skuad Terbaik Persija Pilihan Shin Tae-yong Diketahui Saat Uji Coba Kontra Chiangrai United
-
Terungkap, Rahasia Pilot Malaysia Bawa Narkoba Rp160 M Lolos Pemeriksaan KLIA
-
KAI Palembang Buka Akses Magang, PKL, dan Penelitian secara Digital melalui InternHub