-
Donald Trump mengategorikan pemboman terbaru Amerika Serikat ke Iran sebagai bentrokan militer biasa.
-
Target awal operasi empat hingga enam minggu kini telah terlampaui menjadi empat bulan.
-
Proses negosiasi damai mengalami kebuntuan karena pihak Iran meminta pembahasan lebih lanjut.
Suara.com - Presiden Donald Trump menegaskan kampanye pemboman terbaru Amerika Serikat terhadap Iran hanya sebuah bentrokan militer biasa. Langkah ini diambil di tengah ketidakpastian mengenai durasi pasti dari operasi bersenjata tersebut.
Kebijakan ini memicu sorotan tajam karena tidak adanya kejelasan kapan ketegangan bersenjata akan berakhir. Kubu Washington kini terus melanjutkan tekanan udara demi melemahkan kekuatan pertahanan teheran.
"Kita harus melakukan apa yang sedang kita lakukan," kata Trump saat merespons pertanyaan wartawan.
"Kita telah memangkas kemampuan mereka secara sangat substansial, tetapi mereka akan bertempur untuk beberapa waktu."
Gedung Putih terus meremehkan sifat terbuka dari perang yang kini sedang berlangsung ini. Padahal durasi pertempuran tersebut telah melampaui target awal yang direncanakan oleh pemerintah.
Awalnya administrasi pemerintahan memproyeksikan operasi tempur ini hanya memakan waktu empat hingga enam minggu. Kendati demikian, realita di lapangan menunjukkan dinamika yang jauh berbeda dari perkiraan awal.
Trump mencoba membandingkan keterlibatan militer saat ini dengan konflik historis masa lalu. Ia menilai pencapaian pasukannya sudah sangat besar dalam hitungan bulan yang singkat.
"Kita berada di Vietnam selama 19 years. Kita berada di sini selama empat bulan, jadi menurut saya kita telah berbuat banyak," ujarnya.
Pihak eksekutif tidak menjabarkan strategi terperinci guna mengakhiri konfrontasi bersenjata ini secara permanen. Pemimpin AS tersebut justru bersikeras bahwa jalan negosiasi dengan rezim Iran tetap terbuka.
Baca Juga: Amerika Serikat Kembali Blokir Selat Hormuz, Pasang Tarif Lintas 20 Persen
Kendati demikian, prospek kesepakatan damai dalam waktu dekat tampaknya masih sangat sulit terwujud. Hambatan komunikasi politik antara kedua belah pihak menjadi pemicu utama kebuntuan ini.
"Anda harus mendapatkan orang-orang yang ingin membuat sesuatu," tutur Trump menjabarkan kondisi dialog.
"Kita memiliki kesepakatan dengan mereka dua hari lalu, dan kemudian mereka berkata, 'Oh, kita tidak bisa membuat kesepakatan itu. Kita harus menegosiasikannya lebih jauh.'"
Konteks ketegangan ini berakar dari pembaharuan serangan udara berkala yang dilakukan militer Amerika Serikat. Konflik ini berkembang menjadi ujian diplomatik baru yang menguji stabilitas kawasan Timur Tengah.
Perang Vietnam (1955–1975) adalah konflik Perang Dingin antara Vietnam Utara (didukung Uni Soviet dan Tiongkok) melawan Vietnam Selatan (didukung Amerika Serikat).
AS akhirnya menarik diri pada 1973 akibat tekanan publik, berujung pada bersatunya Vietnam di bawah komunisme pada 1975.
Berita Terkait
Terpopuler
- LHKPN Tembus Rp7,2 Miliar, Kendaraan Plt Jampidsus Rudi Margono Cuma Motor Honda Seharga Rp5 Juta
- 4 Shio yang Menarik Keberuntungan 12 Juli 2026, Masa Sulit Diprediksi Berakhir
- HP Murah Tapi Bagus HP Apa? Ini 9 Rekomendasi Terbaik Mulai Rp1 Jutaan
- 5 Sepatu Kanky Warna Putih Mulai Rp160 Ribuan, Nyaman dan Stylish
- 5 Pilihan Motor Anti Low Back Pain, Cocok Buat Touring di Akhir Pekan
Pilihan
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
-
Kejagung Akhirnya Buka Suara Soal Temuan 74 Kg Emas di Rumah Febrie Adriansyah: Kami Tak Tahu
-
Ada Ancaman Teror Bom, Seluruh Siswa dan Guru SDN 15 Srengseh Sawah Dipulangkan
-
Hari Pertama Sekolah Mencekam! SDN Srengseng Sawah 15 Diteror Bom, Gegana dan Densus 88 Turun Tangan
-
Iran Luncurkan Serangan Balasan ke Amerika, Serbuan Drone Meluncur
Terkini
-
45 Orang Hilang di Lokasi Kebakaran Maut Bar Bangkok
-
Raksasa Mobil Ini Mau PHK 100 Ribu Pekerja: Kami Mau Lebi Efisien dan Kurangi Biaya
-
Orang India Jadi Korban Serangan Iran, 2 Tanker Uni Emirat Arab Dirudal
-
Perang Timur Tengah Memanas: Iran Serang Dua Kapal Tanker di Selat Hormuz, 1 Tewas
-
Amerika Serikat Kembali Blokir Selat Hormuz, Pasang Tarif Lintas 20 Persen
-
Mojtaba Khamenei: Kami Janji Balas Darah Ali Khamenei yang Mati Syahid
-
Pangkalan Laut Iran Hancur Diterjang Rentetan Ledakan di Kawasan Selat Hormuz
-
Harga Minyak Dunia Makin Menggila Usai Amerika Serikat dan Iran Perang Lagi
-
Bukan Cuma Iseng, Pelaku Teror Bom SDN Srengseng Sawah Ternyata Pernah Ancam Pak RT
-
Pilu! Korban Rudapaksa Jagakarsa Melahirkan, Bayi Terpaksa Diserahkan ke Dinsos