- Seorang siswa meledakkan bom rakitan di MAN 3 Padang akibat akumulasi perundungan yang dialaminya di lingkungan sekolah.
- Sosiolog UGM menilai peristiwa ini mencerminkan kegagalan sistem pendidikan dalam melindungi siswa serta minimnya pendampingan emosional bagi peserta didik.
- Pemerintah perlu segera melakukan reformasi ekosistem pendidikan secara radikal untuk mengatasi akar masalah kekerasan daripada sekadar memberikan sanksi pidana.
Suara.com - Kasus peledakan bom rakitan di MAN 3 Padang yang diduga dilakukan oleh seorang siswa dinilai bukan sekadar persoalan kriminalitas remaja. Apalagi peristiwa itu dipicu oleh akumulasi aksi perundungan (bullying) di lingkungan sekolah.
Sosiolog Universitas Gadjah Mada (UGM), Andreas Budi Widyanta, menyebut bahwa fenomena itu menggambarkan manifestasi dari kegagalan akut kontrol sosial di dalam institusi pendidikan Indonesia.
Apalagi peristiwa ini bukan pertama kali dan terus berulang. Kondisi itu menunjukkan adanya persoalan mendasar dalam sistem pendidikan yang selama ini gagal menyentuh akar masalah.
"Sistem pendidikan kita itu declining sebetulnya, betul-betul terpuruk. Sebagai institusi yang harusnya memberikan sosialisasi, mestinya menjadi sistem yang memperadabkan dari anak yang bertumbuh... tetapi nyatanya tidak," kata Abe sapaan akrabnya kepada Suara.com, Rabu (15/7/2026).
Ia menilai terdapat tiga persoalan besar yang saling berkaitan, yakni paparan teknologi digital, praktik kekerasan seperti bullying di lingkungan sekolah, serta kegagalan struktur sosial melindungi siswa.
Ketiga faktor itu yang kemudian membentuk kondisi remaja rentan melampiaskan kemarahan melalui tindakan ekstrem.
"Aksi nekat siswa tadi menurut saya itu bentuk perlawanan ekstrem ya terhadap sistem yang saya kira dianggapnya tidak mempedulikannya, tuli, tidak punya mata, tidak punya telinga untuk mendengarkan keluh kesahnya," ujarnya.
Abe mengkritik sistem pendidikan yang dinilai semakin represif. Sekolah, kata dia, lebih sibuk mengejar target administrasi dan kurikulum ketimbang membangun hubungan yang hangat dengan peserta didik.
Akibatnya, ruang dialog dan pendampingan emosional terhadap siswa semakin minim. Hal itu berdampak pada pengawasan terhadap para siswa.
Baca Juga: Prabowo Sempat Panggil Jaksa Agung Bahas Kasus Febrie Adriansyah, Begini Penjelasan Istana
Belum lagi soal praktik bullying yang selama ini kerap hanya dianggap sebagai kenakalan biasa. Padahal dapat meninggalkan luka psikologis yang mendalam. Dalam kondisi tersebut, siswa yang tertekan menjadi semakin rentan mencari jalan keluar melalui tindakan kekerasan.
"Kita terus selalu saja mengobati simtom, kita itu hanya mengobati gejala, bukan akarnya," tegasnya.
Menurut Abe, kasus di MAN 3 Padang bukan tak mungkin terulang kembali. Sebab penanganan hanya berhenti pada penghukuman pelaku.
Sedangkan tidak ada evaluasi mendasar kepada ekosistem yang membentuk lahirnya kekerasan tersebut.
Oleh karena itu, penyelesaian kasus semacam ini tidak bisa hanya dilakukan dengan memberikan sanksi pidana kepada pelaku atau memperketat pengamanan fisik sekolah.
Namun lebih besar yakni mendesak pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan untuk segera melakukan evaluasi kurikulum dan reformasi ekosistem pendidikan secara radikal agar sekolah kembali menjadi tempat yang memanusiakan manusia.
"Maka, dalam perspektif ini saya kira kita mesti melihat bahwa ini ada kegagalan kontrol sosial di dalam institusi ya. Itu bagaimana sebetulnya jangan toleran terhadap praktik bullying itu. Perhatikan betul laku perilaku siswa keseharian dan betul-betul itu mesti cura personalis," tandasnya.
Berita Terkait
-
IHSG Masih Betah di Level 6.000 pada Sesi I, BMRI dan BBCA Diserbu
-
Prabowo Sempat Panggil Jaksa Agung Bahas Kasus Febrie Adriansyah, Begini Penjelasan Istana
-
Jet Tempur Amerika Serikat Hancurkan Pos Rudal Iran
-
Lindungi Kulitmu, Ini 5 Skincare Penyelamat saat Cuaca Panas Ekstrem
-
Ikut Demo? Jangan Lakukan 5 Kesalahan Fatal Ini saat Terpapar Gas Air Mata
Terpopuler
- LHKPN Tembus Rp7,2 Miliar, Kendaraan Plt Jampidsus Rudi Margono Cuma Motor Honda Seharga Rp5 Juta
- HP Murah Tapi Bagus HP Apa? Ini 9 Rekomendasi Terbaik Mulai Rp1 Jutaan
- 5 Sepatu Kanky Warna Putih Mulai Rp160 Ribuan, Nyaman dan Stylish
- 5 HP Murah dengan NFC Harga Rp1 Jutaan untuk Multitasking dan Transaksi Cashless Lancar
- Tan Kian Orang Terkaya ke Berapa di Indonesia?
Pilihan
-
Gianni Infantino Resmi Digugat! Hubungan Gelap dengan Donald Trump Dibongkar
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
-
Kejagung Akhirnya Buka Suara Soal Temuan 74 Kg Emas di Rumah Febrie Adriansyah: Kami Tak Tahu
-
Ada Ancaman Teror Bom, Seluruh Siswa dan Guru SDN 15 Srengseh Sawah Dipulangkan
-
Hari Pertama Sekolah Mencekam! SDN Srengseng Sawah 15 Diteror Bom, Gegana dan Densus 88 Turun Tangan
Terkini
-
Prabowo Sempat Panggil Jaksa Agung Bahas Kasus Febrie Adriansyah, Begini Penjelasan Istana
-
Jet Tempur Amerika Serikat Hancurkan Pos Rudal Iran
-
Kuntadi Selangkah Lagi Jadi Jampidsus, Keppres Ditargetkan Terbit Pekan Depan
-
Jangan Asal Atur, Pengusaha Dapur MBG Minta BGN Libatkan Mitra Soal Kebijakan
-
Misteri Pengganti Febrie Adriansyah Terjawab, Mensesneg Sebut Nama Kuntadi
-
Jejak Elektronik Disita, KPK Bidik Peran Bobby Rizaldi dalam Skandal WTP Muara Enim
-
Detik-detik Bupati Gowa Pergi Saat Diperiksa Terkait Dugaan Korupsi dan Selingkuh
-
Korban Tewas Gempa Venezuela Tembus 4.734 Jiwa, 6.462 Orang Selamat
-
Indonesia Dinilai Terjebak 'Carbon Lock-in', Mengapa Target Energi Bersih Berisiko Sulit Tercapai?
-
Habis Serang AS, IRGC Iran Hasut Warga Yordania: Bebaskan Tanah Islam dari Penjajah Amerika