-
Militer Amerika Serikat membombardir puluhan instalasi rudal dan drone di pesisir pantai Iran.
-
Presiden Donald Trump menegaskan pembatalan kesepakatan dan menolak negosiasi damai dengan Iran.
-
Konflik bersenjata ini dipicu oleh penutupan Selat Hormuz dan ancaman blokade pelabuhan.
Suara.com - Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) meluncurkan operasi udara berskala besar untuk melumpuhkan infrastruktur militer Iran di sekitar Selat Hormuz. Langkah agresif ini memicu eskalasi ketegangan baru di jalur perdagangan maritim paling strategis dunia tersebut.
Operasi pemungkas yang berlangsung pada Selasa malam (14/7) waktu setempat sengaja menyasar titik pertahanan pantai regional. Washington mengklaim aksi ini merupakan respons darurat atas pemblokiran jalur pelayaran sipil oleh Teheran.
Penghancuran aset tempur ini sekaligus menutup pintu diplomasi perdamaian antara kedua negara. Ambisi perundingan bilateral kini runtuh akibat konfrontasi bersenjata yang terus meluas.
"Komando Pusat AS (CENTCOM) telah merampungkan putaran serangan tambahan terhadap Iran pada pukul 10 malam Waktu Timur, 14 Juli, yang menghantam puluhan target militer di dekat Selat Hormuz dan daerah pesisir Iran," demikian menurut pernyataan CENTCOM, Selasa malam atau Rabu pagi WIB.
Gempuran masif tersebut berlangsung secara konstan selama 7 jam penuh tanpa henti.
Militer Amerika Serikat mengerahkan kombinasi jet tempur, pesawat tanpa awak (drone), serta kapal perang angkatan laut. Seluruh armada tempur tersebut melepaskan amunisi berpandu presisi tinggi ke jantung pertahanan musuh.
Target utama dari serangan udara ini adalah instalasi peluncuran rudal dan hanggar drone milik Iran. Penyerangan juga menyasar armada laut defensif yang mengontrol kawasan perairan pesisir.
Pentagon menegaskan bahwa operasi ini bertujuan memotong kemampuan taktis Teheran dalam mengintimidasi kapal dagang. Keselamatan awak kapal sipil menjadi alasan utama di balik agresi tersebut.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara terbuka menyatakan keengganannya untuk berdialog dengan pemerintah Iran saat ini.
Baca Juga: Dituding Penjahat Perang, Amerika Diadukan ke PBB Usai Serang Warga Sipil di Iran Selatan
"Untuk saat ini saya tidak ingin berunding. Saya tegaskan, kami tidak bernegosiasi. 3 hari yang lalu, kami memiliki kesepakatan," kata Trump pada Selasa (14/7).
Ketegangan bersenjata di kawasan Timur Tengah ini sebenarnya telah meletus sejak tanggal 8 Juli 2026. CENTCOM berdalih rangkaian serangan udara tersebut merupakan balasan atas gangguan Iran terhadap kapal komersial.
Respons cepat langsung ditunjukkan oleh pasukan elit Iran melalui serangan balasan tak kalah sengit. Mereka menembaki sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat yang tersebar di beberapa negara Timur Tengah.
Situasi semakin memburuk ketika Teheran resmi memblokir total akses pelayaran di Selat Hormuz pada hari Minggu. Penutupan jalur maritim global ini dipicu oleh kejengkelan Iran atas campur tangan luar negeri.
Pada 13 Juli 2026, Trump memproklamasikan bahwa Amerika Serikat akan bertindak sebagai pengawal tunggal Selat Hormuz. Gedung Putih juga mengancam bakal menerapkan kembali blokade ketat terhadap seluruh pelabuhan aktif milik Iran.
Berita Terkait
Terpopuler
- LHKPN Tembus Rp7,2 Miliar, Kendaraan Plt Jampidsus Rudi Margono Cuma Motor Honda Seharga Rp5 Juta
- HP Murah Tapi Bagus HP Apa? Ini 9 Rekomendasi Terbaik Mulai Rp1 Jutaan
- 5 Sepatu Kanky Warna Putih Mulai Rp160 Ribuan, Nyaman dan Stylish
- 5 HP Murah dengan NFC Harga Rp1 Jutaan untuk Multitasking dan Transaksi Cashless Lancar
- Tan Kian Orang Terkaya ke Berapa di Indonesia?
Pilihan
-
Gianni Infantino Resmi Digugat! Hubungan Gelap dengan Donald Trump Dibongkar
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
-
Kejagung Akhirnya Buka Suara Soal Temuan 74 Kg Emas di Rumah Febrie Adriansyah: Kami Tak Tahu
-
Ada Ancaman Teror Bom, Seluruh Siswa dan Guru SDN 15 Srengseh Sawah Dipulangkan
-
Hari Pertama Sekolah Mencekam! SDN Srengseng Sawah 15 Diteror Bom, Gegana dan Densus 88 Turun Tangan
Terkini
-
Kuntadi Selangkah Lagi Jadi Jampidsus, Keppres Ditargetkan Terbit Pekan Depan
-
Jangan Asal Atur, Pengusaha Dapur MBG Minta BGN Libatkan Mitra Soal Kebijakan
-
Misteri Pengganti Febrie Adriansyah Terjawab, Mensesneg Sebut Nama Kuntadi
-
Jejak Elektronik Disita, KPK Bidik Peran Bobby Rizaldi dalam Skandal WTP Muara Enim
-
Detik-detik Bupati Gowa Pergi Saat Diperiksa Terkait Dugaan Korupsi dan Selingkuh
-
Korban Tewas Gempa Venezuela Tembus 4.734 Jiwa, 6.462 Orang Selamat
-
Indonesia Dinilai Terjebak 'Carbon Lock-in', Mengapa Target Energi Bersih Berisiko Sulit Tercapai?
-
Habis Serang AS, IRGC Iran Hasut Warga Yordania: Bebaskan Tanah Islam dari Penjajah Amerika
-
Militer AS 'Berencana' Langgar Konvensi Jenewa 1949, Ancam Stabilitas Dunia
-
Tanaman Malapari Berpotensi Jadi Komoditas Bioenergi, Bagaimana BRIN Dorong Pengembangannya?