- Perkara korupsi mantan Jampidsus Febrie Adriansyah dilimpahkan dari kepolisian ke Kejaksaan Agung pada 11 Juli 2026.
- Kasus sistemik ini menyebabkan kerugian negara mencapai Rp34,6 triliun dari proyek PT Asabri dan PT Krakatau Steel.
- Amnesty International mendesak penanganan kasus secara transparan demi menjaga kepercayaan investor dan stabilitas perekonomian nasional Indonesia.
Suara.com - Perkara korupsi yang menyeret mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Febrie Adriansyah dinilai sebagai "mega korupsi" yang bersifat sistemik. Bila kasus ini tidak segera dibongkar, hal tersebut dikhawatirkan akan semakin memperburuk roda perekonomian nasional dan menurunkan kepercayaan investor internasional.
Atas dasar kekhawatiran itu, Direktur Amnesty International Indonesia Usman Hamid menekankan agar kasus ini segera diusut melalui proses yang benar dan menghasilkan kepastian hukum.
Kasus dugaan tindak pidana korupsi yang menyeret mantan Jampidsus Febrie Adriansyah kini telah dilimpahkan dari kepolisian ke Kejaksaan Agung pada Sabtu (11/7/2026).
Kapuspenkum Kejaksaan Agung Anang Supriatna menyatakan pihaknya akan menyusun struktur tim penyidik yang independen dan bebas dari hubungan personal dengan tersangka.
Namun, terkait pelimpahan perkara tersebut, Usman menilai Presiden perlu bersikap tegas dengan memastikan proses penyidikan yang sebelumnya dilakukan Polri berjalan hingga tuntas, termasuk terhadap status hukum tersangka.
Jika hal itu tidak dapat dilakukan, ia menyatakan perlu dibentuk tim khusus sebagai jalan tengah antara Kejaksaan Agung dan Polri. Ia mencontohkan pembentukan "Tim Delapan" saat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menengahi konflik antara Polri dan KPK.
"Siapa timnya? Harus independen, harus orang di luar Kejaksaan. Atau menyerahkan kepada KPK gitu," katanya kepada awak media di Kampus Universitas Indonesia Salemba, Jakarta, Rabu (15/7/2026).
Namun, Usman memandang Presiden Prabowo Subianto kurang tegas ketika polemik antara Kejaksaan Agung dan Polri terjadi. Menurutnya, pelimpahan perkara ke Kejaksaan Agung justru berpotensi menimbulkan konflik kepentingan. Karena itu, ia menilai kasus tersebut sebaiknya ditangani oleh KPK yang dinilainya memiliki posisi lebih independen.
"Kalau Presiden tegas, mestinya sejak awal ya sudah di Kepolisian saja dulu sampai ia (Febrie) ditahan," katanya.
Baca Juga: Eks Pimpinan KPK Desak Prabowo Perintahkan KPK Ambil Alih Kasus Febrie Adriansyah, Ini Alasannya
Dampak Ekonomi Kasus Jampidsus
Perkara dugaan korupsi di lingkungan korporasi yang diduga melibatkan mantan Jampidsus tersebut diperkirakan menyebabkan kerugian negara hingga Rp34,6 triliun.
Perkara di PT Asabri mencatatkan kerugian negara sebesar Rp22,78 triliun pada periode 2013–2019. Selain itu, terdapat kerugian negara sebesar Rp6,9 triliun dalam pembangunan proyek Blast Furnace Complex (BFC) PT Krakatau Steel pada periode 2011–2019.
Usman memandang apabila kasus ini tidak segera dibongkar, dampaknya akan merusak jalannya roda perekonomian Indonesia.
"Jadi justru sebaliknya, kalau ini ditutup-tutupi, dia akan mengurangi dan semakin mengurangi kepercayaan masyarakat ekonomi baik nasional maupun internasional, terutama para investor dan juga para pemegang saham," jelasnya.
Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 4,7 persen pada 2026. Angka tersebut turun dibandingkan proyeksi pertumbuhan ekonomi 2025 yang mencapai 5 persen.
Sementara itu, berdasarkan catatan Economist Intelligence Unit (EIU) dalam The Democracy Index 2024, indeks demokrasi Indonesia berada di angka 6,44, menurun dari 6,53 pada 2023.
Tag
Berita Terkait
-
Eks Pimpinan KPK Desak Prabowo Perintahkan KPK Ambil Alih Kasus Febrie Adriansyah, Ini Alasannya
-
Komjak Wanti-wanti Jaksa di Kasus Febrie Adriansyah, Jangan Lembek Meski Lawan Kolega
-
Geledah Rumah Bupati Sukoharjo, KPK Amankan Uang Hingga Perhiasan
-
Cabut Perpres TNI Jaga Jaksa! Marzuki Darusman Yakin Kejagung Mampu Mandiri Usut Kasus Febrie
-
Sahroni Dukung Kuntadi Jadi Jampidsus Baru: Pilihan Jaksa Agung Pasti yang Terbaik
Terpopuler
- 5 HP Murah dengan NFC Harga Rp1 Jutaan untuk Multitasking dan Transaksi Cashless Lancar
- 11 Merek Sepatu Lari Buatan Indonesia yang Populer, Kualitas Lokal Tak Bisa Diremehkan
- 6 Shio yang Menarik Keberuntungan 14 Juli 2026, Banyak Teka-teki Akhirnya Terjawab
- Bagaimana Dody Hanggodo Memanfaatkan Kekuasaannya sebagai Menteri di Kementerian PU
- Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Potensi Menang Praperadilan: Siasat Redam Konflik Polri-Kejagung
Pilihan
-
Isu Mutasi Besar-besaran di Kementerian PU Buntut Dokumen Menteri Dody Tersebar
-
Gianni Infantino Resmi Digugat! Hubungan Gelap dengan Donald Trump Dibongkar
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
-
Kejagung Akhirnya Buka Suara Soal Temuan 74 Kg Emas di Rumah Febrie Adriansyah: Kami Tak Tahu
-
Ada Ancaman Teror Bom, Seluruh Siswa dan Guru SDN 15 Srengseh Sawah Dipulangkan
Terkini
-
Kapan Zinedine Zidane Diumumkan sebagai Pelatih Baru Prancis?
-
Bawa Spanyol ke Final Piala Dunia 2026, Rumah Lamine Yamal Nyaris Dibobol Rampok
-
Prancis Tersingkir di Semifinal Piala Dunia 2026, Michael Olise Dihujani Kritik Pedas
-
Messi Anak Emas FIFA! Petisi Coret Argentina dari Piala Dunia Tembus 10 Juta Tanda Tangan
-
Susunan Pemain Argentina vs Inggris: Tuchel dan Scaloni Bikin Kejutan di Starting XI
-
The Beatles Warnai Rivalitas Argentina vs Inggris: Dominasi Tangga Lagu hingga Skandal Band Palsu
-
Kursi Botol Berterbangan, Suporter Argentina Bakul Pukul Jelang Lawan Inggris
-
10 Trik Kotor Kiper Argentina Emiliano Martinez Bikin Publik Inggris Ketar-ketir
-
Makna Tersembunyi Jersey Argentina Lawan Inggris: Warisan Budaya hingga Memori 1986
-
AI Prediksi Hasil Inggris vs Argentina: Albiceleste Menang Dramatis, Messi dan Kane Cetak Gol?