- Bongkahan es berukuran sekitar 20 sentimeter menjebol atap rumah Veronika Suharti di Bantul pada Senin pagi.
- Peristiwa tanpa didahului hujan tersebut mengakibatkan kerusakan parah pada bagian atap galvalum, plafon, serta kursi kayu tamu.
- BPBD Bantul bersama BMKG hingga kini masih menyelidiki asal-usul jatuhnya bongkahan es yang tergolong sangat langka tersebut.
Suara.com - Bongkahan es berukuran sekitar 20 sentimeter menjebol atap rumah warga di Dusun Jodog, Kelurahan Gilangharjo, Kapanewon Pandak, Kabupaten Bantul, DIY, Senin (2/11/2026) pagi. Kejadian tersebut membuat warga geger karena tidak didahului hujan.
Bongkahan es itu menghantam rumah milik Veronika Suharti hingga merusak atap galvalum pasir, plafon PVC beserta rangkanya, serta kursi kayu di ruang tamu. Saat kejadian, rumah dalam keadaan kosong.
Kepala Dusun Jodog, Bayu Yunarto, mengatakan warga pertama kali mengetahui kejadian itu setelah mendengar suara dentuman keras.
"Tadi pagi ada warga yang datang ke tempat saya untuk memberitahukan kalau ada benda asing yang masuk ke rumahnya, mendengar suara yang cukup keras tadi dan ternyata itu es. Jatuh dari atas," tutur Bayu saat dihubungi, Senin (2/11/2026).
Menurut Bayu, bongkahan es tersebut pecah setelah menghantam atap rumah. Dua pecahan berukuran sekitar 20 sentimeter ditemukan bersama banyak serpihan kecil.
"Dua bagian yang agak besar tadi itu ya sekitar 20 sentian, terus yang lain kecil-kecil tuh banyak. Jadi kayaknya setelah nabrak atap rumah itu pecah itu kayaknya, esnya itu. Wong yang kecil-kecil tuh banyak pecahannya itu," ujarnya.
Bayu menyebut kejadian hanya terjadi di satu titik. Rumah-rumah di sekitarnya tidak mengalami hal serupa dan tidak turun hujan saat peristiwa berlangsung.
"Enggak ada hujan, enggak ada apa-apa, cuman satu titik itu tok," imbuhnya.
BPBD Telusuri Asal Usul Bonglahan Es
BPBD Bantul kemudian berkoordinasi dengan BMKG untuk mencari tahu asal-usul bongkahan es tersebut. Namun, hingga kini penyebabnya belum diketahui.
Kepala Bidang Kedaruratan, Logistik, dan Peralatan BPBD Bantul, Antoni Hutagaol, mengatakan pihaknya belum menemukan petunjuk mengenai peristiwa tersebut.
"Jadi memang tidak ada sesuatu, misalnya ada hujan atau apa, tidak ada. Tau-tau kita mendapatkan informasi kok rumah itu ada kena bongkahan es itu. Kita coba tanyakan ke BMKG, BMKG juga tidak tahu. Tidak ada seperti sesuatu peristiwa atau apa, ada awan apa, tidak," ujar Antoni.
Antoni menambahkan, ukuran bongkahan es tersebut jauh lebih besar dibandingkan butiran es yang biasanya ditemukan saat hujan es.
"Hujan itu es itu kalau pengalaman-pengalaman itu paling besarnya ya seperti es-es itu paling besar pun seperti bola pingpong, sebesar itu. Jadi kalau ini pun makanya juga saya melihat ini, wah ini kok, kok lebih besar dari bola pingpong. Saya juga enggak pernah, kami enggak pernah mendengar," ungkapnya.
Ia menyebut kejadian tersebut tergolong langka jika benar merupakan fenomena alam.
"Nah iya, ini langka ini makanya. Kalau bener-bener fenomena alam itu berarti sesuatu yang langka ini pasti," tandasnya.
Kekinian BPBD Bantul bersama instansi terkait masih berkoordinasi untuk menelusuri penyebab jatuhnya bongkahan es tersebut.