- Wacana pemakzulan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka semakin menguat di tengah berbagai isu politik yang melibatkan partai seperti PDI Perjuangan.
- Langkah konkret di parlemen belum terjadi karena DPR masih masa reses, komunikasi antarfraksi belum intens, dan respons anggota dewan masih normatif.
- Spekulasi suksesi dan pengganti Gibran sepenuhnya berada di ranah elite politik serta berpotensi menjadi upaya pengalihan isu penyadapan.
Suara.com - Wacana pemakzulan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dinilai semakin menguat di tengah berbagai isu politik yang menyeret posisi orang nomor dua di Indonesia tersebut.
Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia (PPI), Adi Prayitno, menyebut respons sejumlah partai politik, termasuk PDI Perjuangan, mulai menunjukkan agresivitas.
Namun, menguatnya wacana tersebut belum otomatis berujung pada langkah pemakzulan di parlemen. Adi menilai masih terdapat sejumlah hambatan yang membuat sikap politik sejumlah fraksi belum mengarah pada proses yang konkret.
"Makin menguat (wacana pemakzulan Gibran), termasuk PDIP juga merespons agresif. Mestinya PKS, Demokrat, PDIP sudah cukup bikin angket atau apalah judulnya di parlemen," kata Adi kepada Suara.com, Jumat (6/11/2026).
Meski desakan pemakzulan semakin menguat, pergerakan konkret di tingkat parlemen disebut masih berjalan lambat. Adi melihat ada sejumlah faktor teknis dan strategis yang membuat konsolidasi antarfraksi di DPR belum optimal.
"Sekarang DPR masih reses. Kedua, komunikasi antarfraksi belum intens, masih masing-masing sikap politiknya. Ketiga, anggota dewan bicaranya normatif. Belum ada yang mengarah pada hal-hal konkret," ujarnya.
Di sisi lain, munculnya sejumlah nama yang disebut-sebut berpotensi menggantikan Gibran dinilai tidak terlepas dari dinamika wacana pemakzulan. Namun, Adi mengaitkan maraknya rumor suksesi tersebut dengan dinamika politik tertutup yang sepenuhnya berada di tangan para elite partai.
"Ini tentu semuanya masih andai-andai. Pastinya masih gelap gulita, tak ada yang bisa memastikan karena pasti dinamis urusan beginian. Termasuk ini juga domain elite yang bisa menentukan," tandasnya.
"Rakyat tak terlibat. Ini murni ranah elite partai dan elite parlemen. Ini urusan dewa-dewa politik yang bisa kendalikan permainan politik," imbuhnya.
Lebih lanjut, Adi menekankan bahwa rumor suksesi maupun spekulasi mengenai sosok pengganti Gibran bisa saja sengaja dimainkan untuk mengalihkan perhatian publik dari persoalan lain yang lebih substansial.
"Segala sesuatu hari ini serba rumor, desas-desus, dan mungkin juga upaya alihkan isu dari persoalan yang sesungguhnya soal penyadapan," ujarnya.