-
Skandal penyadapan Presiden Prabowo Subianto melibatkan mantan Kapolri dan dua perwira tinggi kepolisian.
-
Penyadapan presiden merupakan kasus berulang yang pernah menimpa BJ Habibie, SBY, hingga Jokowi.
-
Megawati Soekarnoputri mengarahkan penggunaan ponsel asisten demi menghindari pengawasan komunikasi ilegal yang marak.
Suara.com - Dugaan penyadapan terhadap Presiden Prabowo Subianto mempertegas rapuhnya keamanan komunikasi elit politik di Istana Negara. Kasus terbaru ini membuktikan bahwa praktik pengawasan ilegal terhadap kepala negara terus berulang sejak era Reformasi.
Mantan Kapolri Listyo Sigit Prabowo bersama dua perwira tinggi kepolisian telah ditetapkan sebagai tersangka dalam operasi intelijen internal tersebut. Pengungkapan ini memberi sudut pandang baru bahwa ancaman penyadapan kini justru datang dari lingkaran dalam pemerintahan sendiri.
Peristiwa ini menambah daftar panjang riwayat peretasan ruang pribadi para pemimpin Indonesia oleh pihak luar maupun instansi internal. Dikutip dari CNA, berikut ini insiden kebocoran rekaman suara Presiden BJ Habibie hingga penyadapan intelijen asing terhadap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
1. Komunikasi Presiden BJ Habibie Bisa Bocor ke Publik
Kebocoran rekaman percakapan telepon antara Presiden BJ Habibie dan Jaksa Agung Andi M. Ghalib pada Desember 1998 menjadi kasus penyadapan pertama di era Reformasi. Percakapan sensitif tersebut membahas penanganan hukum mantan Presiden Soeharto yang baru saja lengser.
Transkrip pembicaraan itu tersebar luas di media nasional pada Februari 1999 dan memicu kekhawatiran publik atas privasi Istana. Sebuah mikrofon berukuran kecil diduga telah disembunyikan di dalam ruang kerja presiden.
Hingga saat ini, pelaku utama di balik pemasangan alat sadap dan pembocoran transkrip tersebut tidak pernah terungkap ke publik. Kasus ini menjadi catatan kelam perlindungan rahasia negara di tengah masa transisi demokrasi.
2. Megawati Soekarnoputri Begitu Khawatir Terhadap Penyadapan
Presiden ke-5 Republik Indonesia Megawati Soekarnoputri mengaku secara terbuka bahwa dirinya menjadi sasaran empuk pengawasan komunikasi secara berkala. Hal tersebut ia sampaikan saat menghadiri peresmian markas baru organisasi pemuda partainya di Jakarta pada Oktober 2024.
Megawati dengan tegas mengungkapkan alasan dirinya sengaja menghindari penggunaan ponsel pribadi agar percakapannya tidak dimonitor orang lain. Kebiasaan tersebut membuatnya harus menggunakan cara khusus saat ingin berkomunikasi.
"Setiap kali saya perlu menghubungi seseorang, saya meminjam ponsel asisten saya," kata Megawati Soekarnoputri.
Ketua Umum PDI-P tersebut juga mengaku pernah meluapkan kemarahannya secara langsung kepada pihak yang ia curigai melakukan pengawasan. Meski demikian, identitas para oknum penyadap tersebut tidak pernah dibuka kepada khalayak umum.
3. Intelijen Australia Menyadap Ponsel Presiden SBY
Hubungan diplomatik antara Indonesia dan Australia sempat memanas akibat aksi intelijen Defense Signals Directorate Australia yang menyadap telepon Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada Agustus 2009. Informasi ini terbongkar ke publik pada November 2013 setelah dokumen rahasia pembocor dokumen NSA Edward Snowden dipublikasikan media internasional.
Penyadapan tersebut berlangsung selama 15 hari untuk merekam rekam jejak panggilan serta mengincar isi percakapan Presiden SBY. Selain sang presiden, ibu negara Ani Yudhoyono, Wapres Boediono, serta mantan Wapres Jusuf Kalla juga masuk dalam daftar target intelijen asing.