Otomotif / Mobil
Selasa, 24 Februari 2026 | 11:46 WIB
Mahindra Scorpio (Mahindra Indonesia)
Baca 10 detik
  • Impor 105.000 pickup India senilai Rp24,66 triliun berpotensi besar mengancam industri otomotif lokal. 
  • Kapasitas produksi nasional mencapai 400.000 unit per tahun dengan TKDN lebih dari 40%. 
  • Harga pickup buatan lokal dari merek Jepang hingga China sangat kompetitif di bawah Rp200 juta. 

Suara.com - Dunia otomotif Tanah Air tengah dihebohkan oleh wacana masuknya ratusan ribu kendaraan niaga berstatus Completely Built Up (CBU) alias impor utuh dari India. Langkah ini memicu polemik karena dinilai berpotensi mematikan industri otomotif di dalam negeri yang sebenarnya sudah sangat mandiri.

Masalah bermula dari adanya rencana impor 105.000 unit kendaraan niaga senilai Rp24,66 triliun asal India.

Kendaraan ini rencananya akan didatangkan untuk mendukung operasional Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP).

Kontrak bernilai fantastis tersebut mencakup pengadaan dari dua raksasa otomotif India.

Rinciannya, 35.000 unit Scorpio Pik Up akan dipasok oleh Mahindra. Sementara itu, 70.000 unit lainnya berasal dari Tata Motors yang terdiri atas 35.000 unit Yodha Pick-Up dan 35.000 unit Ultra T.7 Light Truck.

Kapasitas Pabrik Lokal Masih "Nganggur"

Pertanyaannya, apakah Indonesia sebegitu daruratnya hingga harus mengimpor kendaraan niaga secara utuh? Fakta di lapangan berbicara sebaliknya.

Saat ini, Indonesia memiliki basis produksi kendaraan niaga ringan yang sangat kuat.

Sejumlah pabrikan besar seperti Suzuki, Isuzu, Mitsubishi, Toyota, Daihatsu, hingga jenama asal Tiongkok seperti Wuling dan DFSK telah memproduksi unitnya di dalam negeri.

Baca Juga: Dukung Dasco soal Tunda Impor Mobil Pikap India, Kadin: Nanti Jadi Bangkai

Bahkan, total kapasitas produksi pikap nasional tercatat mencapai lebih dari 400.000 unit per tahun. Ironisnya, kapasitas raksasa ini belum dimanfaatkan secara optimal.

Mayoritas kendaraan niaga yang dirakit di Indonesia merupakan tipe penggerak 4x2 yang telah memiliki Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) di atas 40 persen.

Keuntungan lain dari produk lokal adalah dukungan jaringan layanan purnajual (servis dan spare part) yang tersebar hingga ke pelosok daerah.

Bagaimana dengan kebutuhan penggerak 4x4? Kementerian Perindustrian (Kemenperin) bersama Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menegaskan bahwa industri dalam negeri sebenarnya sangat mampu memproduksi tipe 4x4.

Pabrikan lokal hanya memerlukan sedikit waktu persiapan untuk menyesuaikan jalur produksi.

Bahkan untuk urusan ketangguhan, Indonesia memiliki legenda hidup seperti Mitsubishi Colt L300 yang masih setia mempertahankan mesin diesel tangguh berkapasitas 2.500 cc sebagai kuda beban andalan para pengusaha.

Harga Kompetitif: Deretan Pickup Lokal di Bawah Rp 200 Juta

Jika alasan impor adalah faktor perekonomian, produk lokal nyatanya sangat kompetitif.

Rata-rata mobil pikap rakitan dalam negeri dijual dengan harga di bawah Rp200 juta.

Berikut adalah daftar harga kendaraan niaga ringan yang diproduksi di Indonesia:

Daihatsu Gran Max (Pilihan andalan dengan muatan luas)

Daihatsu GRAND MAX PICK UP. [Daihatsu]
  • PU 1.3 STD FH E4: Rp167.050.000
  • PU 1.5 STD MC: Rp173.050.000

Suzuki Carry (Rajanya pikap dengan jaringan servis terluas)

Suzuki Carry pikap tampil retro dengan modifikasi simpel (Carscoops)
  • Carry Flat-Deck STD: Rp170.700.000
  • Carry Wide-Deck STD: Rp171.800.000
  • Carry Flat-Deck AC-PS: Rp178.700.000
  • Carry Wide-Deck AC-PS: Rp179.600.000

Mitsubishi L300 (Sang legenda mesin diesel tangguh)

Mobil niaga pick up Mitsubishi L300. (Dok. Mitsubishi)
  • L300 Cab Chassis: Rp239.100.000
  • L300 Flat Deck: Rp241.600.000

DFSK (Penantang asal China dengan harga super miring)

DFSK Supercab. [DFSK]
  • DFSK Supercab 1.5L Bensin AC: Rp158.500.000

Wuling (Inovasi modern dengan bak super lega)

Wuling Formo Max (ANTARA/HO)
  • Wuling Formo Max: Rp168.000.000

Melihat ketersediaan unit, kapasitas produksi, tingginya komponen lokal (TKDN), hingga harga yang sangat ramah di kantong, industri otomotif Indonesia sejatinya sudah lebih dari siap memenuhi kebutuhan operasional nasional, termasuk untuk Koperasi Desa.

Mengutamakan produk rakitan lokal bukan hanya soal menghemat devisa negara, tetapi juga menjaga roda ekonomi pekerja pabrik otomotif di Indonesia tetap berputar, sekaligus menjamin kemudahan perawatan kendaraan jangka panjang bagi para penggunanya di desa-desa.

Load More