- Kemenkeu membuka peluang kenaikan harga BBM subsidi sebagai opsi terakhir jika APBN tidak sanggup.
- Menteri ESDM memastikan harga Pertalite aman dan tidak akan naik pada bulan suci Ramadhan.
- Harga jenis BBM nonsubsidi akan dibiarkan berfluktuasi mengikuti dinamika pergerakan minyak mentah pasar global.
Suara.com - Perang kembali meletus di Timur Tengah, dan efek dominonya langsung terasa hingga ke Tanah Air. Eskalasi konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran pada akhir Februari 2026 ini sukses membuat harga minyak dunia langsung "terbang".
Wajar saja jika banyak dari kita yang mendadak ketar-ketir memikirkan satu hal penting: Apakah harga BBM di Indonesia, khususnya Pertalite, bakal ikut meroket gila-gilaan?
Apalagi momen ketegangan geopolitik ini terjadi bertepatan dengan bulan suci Ramadhan, di mana kekhawatiran soal naiknya biaya hidup tentu membayangi isi dompet masyarakat.
Namun, sebelum Anda panik dan berniat antre panjang di SPBU terdekat, mari kita bedah situasi ini secara jernih.
Berikut adalah deretan fakta menarik terkait nasib harga BBM subsidi dan nonsubsidi di tengah gejolak global saat ini!
1. Lonjakan Harga Minyak Dunia Gara-Gara Konflik
Fakta pertama yang harus kita hadapi adalah harga minyak mentah dunia memang sedang tidak baik-baik saja.
Akibat konflik bersenjata di Timur Tengah, harga minyak Brent dilaporkan melonjak 4,93 persen menembus level 85,41 Dolar AS per barel. Sementara itu, minyak US WTI juga ikut melompat 8,51 persen ke angka 81,01 Dolar AS per barel.
Ketidakstabilan inilah yang menjadi ancaman utama bagi anggaran energi di banyak negara, termasuk Indonesia.
Baca Juga: Viral Pemobil Vellfire Ngamuk Minta BBM Subsidi, Siapa Sebenarnya yang Berhak Isi Pertalite?
2. Kemenkeu Buka Peluang Kenaikan Sebagai "Opsi Terakhir"
Melonjaknya harga minyak dunia tentu membuat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) "berkeringat".
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, secara terbuka menyatakan bahwa menaikkan harga BBM subsidi seperti Pertalite bisa saja terjadi jika harga minyak dunia terus liar.
Berdasarkan perhitungan Kemenkeu, defisit APBN bisa bengkak hingga 3,7 persen jika harga minyak tertahan di 92 Dolar US per barel sepanjang tahun.
"Kalau memang anggarannya nggak kuat sekali, nggak ada jalan lain, kami berbagi dengan masyarakat sebagian. Artinya, ada kenaikan BBM," ujar Purbaya menegaskan skenario terburuk tersebut.
3. Indonesia Punya Pengalaman Hadapi Minyak 150 Dollar AS/Barel
Berita Terkait
Terpopuler
- Promo JSM Superindo Minggu Ini, Kue Lebaran dan Biskuit Kaleng Cuma Rp15 Ribuan
- Daftar Lokasi ATM Pecahan Rp10 Ribu dan Rp20 Ribu di Palembang
- Apakah Ada Penukaran Uang Baru BI Pintar Periode 3? Ini Pengumuman Pastinya
- 5 Body Lotion Terbaik untuk Memutihkan Kulit Sebelum Lebaran
- Di Balik Serangan ke Iran: Apa yang Ingin Dicapai AS dan Israel?
Pilihan
-
Persebaya Babak-belur di Kandang Borneo FC, Ini Dalih Bernardo Tavares
-
Here We Go! Elkan Baggott Kembali Dipanggil ke Timnas Indonesia
-
Sejumlah Artis Mendatangi Rumah Duka Vidi Aldiano, Wartawan Dilarang Masuk
-
Setelah Bertahun-tahun Berjuang, Inilah Riwayat Kanker Ginjal Vidi Aldiano
-
Vidi Aldiano Meninggal Dunia Sabtu 7 Maret Pukul 16.33 WIB
Terkini
-
Siap-Siap Mudik 2026: Skenario One Way Tol Jakarta hingga Boyolali dan Tanggal Berlakunya
-
5 Rekomendasi Rental Mobil Tepercaya di Jogja untuk Mudik dan Liburan, Bisa Lepas Kunci
-
8 Hal Penting yang Wajib Disiapkan Sebelum Mudik Lewat Tol Trans Jawa
-
5 Rekomendasi Mobil 7-Seater Irit, Tak Bikin Langganan Stop SPBU saat Mudik
-
5 Rekomendasi MPV Rp100 Jutaan dengan Kabin Senyap dan Nyaman untuk Mudik
-
Tren Pembelian Mobil Bekas di Indonesia Mulai Terapkan Garansi Mirip Unit Baru
-
Yamaha Marine Perkuat Ekosistem Maritim Indonesia Lewat Fasilitas Terpadu KBA Sunter
-
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
-
Tren Mobil Bekas Meningkat Jelang Lebaran 2026 MPV dan SUV Jadi Incaran Pemudik
-
JAECOO Aneka Karawaci Resmi Beroperasi Perkuat Jaringan SUV Premium di Tangerang