Otomotif / Mobil
Senin, 15 Juni 2026 | 11:24 WIB
Logo Nissan. (Shutterstock)
Baca 10 detik
  • Nissan memangkas siklus pengembangan kendaraan dari 55 bulan menjadi 26 bulan untuk bersaing dengan produsen mobil asal China.
  • Perusahaan mengintegrasikan teknologi kecerdasan buatan ke dalam proses desain dan simulasi guna mempercepat produksi kendaraan secara efisien.
  • Model pengembangan baru akan diterapkan pada 90 persen proyek kendaraan Nissan mulai tahun fiskal 2026 mendatang.

Suara.com - Nissan Motor Co mengumumkan langkah radikal untuk memangkas separuh siklus pengembangan kendaraannya. Perusahaan raksasa asal Jepang ini berupaya mengejar ketertinggalan dengan mengurangi jangka waktu pengembangan dari 55 bulan tradisional menjadi hanya 26 bulan saja demi bisa bersaing dengan mobil China.

Pergeseran strategis yang dilakukan Nissan bertujuan mempercepat inovasi ini diakui terinspirasi oleh model iterasi cepat berbasis AI yang dipelopori oleh produsen mobil China.

Presiden Nissan Ivan Espinosa mengonfirmasi bahwa proses pengembangan baru tersebut telah divalidasi dengan Skyline generasi berikutnya yang dijadwalkan rilis pada musim dingin tahun 2026.

Perusahaan berencana untuk menerapkan alur kerja yang disederhanakan ini di 90 persen proyek kendaraannya dalam tahun fiskal 2026.

Transformasi Nissan berakar kuat pada pelajaran yang dipetik dari operasinya di Tiongkok. Melalui usaha patungan dengan Dongfeng Motor, Nissan telah mengintegrasikan keahlian dan teknologi lokal.

Langkah mengadopsi “Model China” ini menjadi krusial mengingat model N7 serba listrik yang diluncurkan pada April 2025 menjadi proyek percontohan sukses dengan siklus pengembangan hanya dua tahun.

Untuk memangkas waktu peluncuran produk secara drastis, Nissan mengintegrasikan Kecerdasan Buatan di seluruh siklus pengembangan. AI digunakan mulai dari pemodelan desain otomatis yang mengoptimalkan aerodinamika hingga simulasi virtual yang menggantikan lebih dari 60 persen pengujian prototipe.

Selain itu, analitik prediktif berbasis AI juga digunakan untuk mengantisipasi risiko rantai pasokan.

Meski terlihat revolusioner, langkah ini memicu pertanyaan besar mengenai efektivitasnya dalam membendung dominasi lawan. Pada Mei 2026, penjualan Nissan di Tiongkok justru mengalami penurunan tajam sebesar 41,1 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Baca Juga: BYD Incar Tahta Tertinggi Mobil Laris Milik Toyota, Target 5 Tahun

Durasi 26 bulan mungkin masih belum cukup kompetitif karena produk sasis dari CATL diklaim dapat membantu produsen mobil memangkas waktu pengembangan kendaraan baru menjadi 18 bulan saja.

Nissan kini berada dalam persaingan sengit untuk membuktikan bahwa strategi ini mampu menyelamatkan posisi mereka di peta industri otomotif global.

Load More