/
Rabu, 18 Januari 2023 | 22:11 WIB
Ilustrasi hujan deras ((Pixabay.com))

PURWOKERTO.SUARA.COM – Hujan masih berpotensi terjadi di Jawa Tengah (Jateng) bagian selatan hingga Maret 2023. Hal itu disampaikan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang  meskipun sebagian wilayah itu sudah melewati puncak musim hujan pada November 2022.

Teguh Wardoyo, Kepala Kelompok Teknisi BMKG Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung Cilacap mengatakan hingga saat ini masih berlangsung musim hujan.

Namun seperti yang pernah ia sampaikan sebelumnya, khusus untuk wilayah Kabupaten Cilacap bagian selatan, puncak musim hujan sudah berlangsung pada November 2022.

Menurut Teguh, pada pekan kedua bulan Januari 2023, di sebagian wilayah Jateng selatan khususnya Kabupaten Banyumas, Cilacap, dan sekitarnya jarang terjadi hujan.

Bahkan, kondisi cuaca di wilayah tersebut cenderung cerah dan kalaupun terjadi hujan, intensitasnya ringan hingga sedang dan tidak lama serta sporadis.

Akan tetapi sejak Minggu (15/01/2023), hujan dengan intensitas sedang hingga lebat dan kadang disertai petir kembali terjadi di wilayah Banyumas, Cilacap, dan sekitarnya.

Terkait dengan hal tersebut, Teguh mengungkapkan hujan yang kembali terjadi dalam beberapa hari terakhir dipicu oleh beberapa faktor yang mengakibatkan peningkatan pertumbuhan awan hujan sejumlah wilayah di Indonesia termasuk Jateng.

Berdasarkan informasi dinamika pada tanggal 17 Januari kemarin, indeks El Nino-Southern Oscillation (ENSO) di Nino 3.4 menunjukkan angka minus 0,59, normalnya lebih kuran 0,5.

“Hal inilah yang memperpengaruhi signifikan terhadap peningkatan hujan di wilayah Indonesia," katanya dikutip Antara. Rabu, (18/01/2023).

Baca Juga: Persebaya Awali Putaran Kedua dengan Kemenangan Telak 5 - 0 atas Tuan Rumah Persita Tangerang

Selain itu, lanjut Teguh, terdapat belokan angin dan konvergensi di wilayah Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Banten, DKI Jakarta, Jateng, Kalimantan Barat, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Bali, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Utara, Maluku, Papua Barat, dan Papua.

Sementara anomali suhu permukaan laut di Laut China Selatan, Laut Natuna, Selat Karimata, Laut Jawa, Selat Makassar, Laut Sulawesi, Teluk Tomini, Laut Maluku, Laut Seram, Laut Halmahera, Teluk Cendrawasih, dan Samudra Pasifik utara Papua masih berkisar 0,5 derajat Celcius hingga 2 derajat Celcius, sehingga ada potensi penguapan atau penambahan massa uap air.

Disinggung mengenai ancaman El Nino pada tahun 2023 seperti yang diulas dalam berbagai pemberitaan, Teguh mengatakan hingga saat ini BMKG belum mengeluarkan rilis terkait dengan fenomena El Nino yang berpotensi mengakibatkan terjadinya kekeringan.

"Belum ada rilis El Nino, sekarang masih musim hujan. Sepertinya sampai Maret kondisi baru mulai netral, sekarang masih La Nina lemah," ujarnya.

Kendati demikian, Teguh mengakui jika potensi terjadinya El Nino biasanya dikaitkan dengan kejadian La Nina yang selama tiga tahun berturut-turut terjadi.***

Load More