/
Senin, 02 Januari 2023 | 20:38 WIB
Kedaulatan pangan oleh Walikota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu atau Mbak Ita. (Semarang.suara.com)

SUARA SEMARANG - Jauh hari sebelum Presiden Jokowi mendengungkan kedaulatan pangan sebab isu 2023 krisis energi dan pangan, Kota Semarang telah menjalankan kebijakan tersebut lebih dahulu.

Program kedaulatan pangan telah dijalankan Hevearita Gunaryanti Rahayu atau Mbak Ita sejak ia menjabat Wakil Walikota Semarang. Hingga kini sebagai Plt, kebijakan tersebut terus dijalankan.

Bersama jajarannya, Mbak Ita telah aktif mendorong kegiatan menanam bahan makanan di pekarangan rumah sebagai bentuk upaya menekan pengeluaran belanja bahan makanan.

Tidak hanya di rumah-rumah warga, kegiatan menanam bahan makanan ini juga diterapkan di sekolah-sekolah untuk menumbuhkan minat berkebun sejak dini bagi siswa sekaligus sebagai wujud pendidikan karakter.

Karenanya, kedaulatan pangan menjadi prioritas pembangunan yang ingin diwujudkan Pemerintah Kota Semarang di tahun 2023.

Hal ini ditegaskan dalam Rapat Paripurna Pembukaan Masa Persidangan I tahun 2023 bersama DPRD Kota Semarang. 

"Semarang kan tidak punya tambang minyak atau pun batubara. Makanya yang bisa kita lakukan adalah bagaimana ketahanan pangannya,” kata Mbak Ita, Senin (2/1/2022) di Gedung DPRD Kota Semarang.

Melalui program kedaulatan pangan, Mbak Ita telah menggerakkan menanam di tiap Kelurahan dan rumah-rumah mulai dari sayur mayur, buah, serta makanan pengganti beras.

“Ini yang dilakukan oleh Pemkot yaitu gerakan menanam dan pengentasan kemiskinan ekstrim atau prioritas," katanya.

Baca Juga: Wow, Terjawab Ini Lokasi The Pakuwon Mall Semarang, Apakah Pamularsih ? Ini Kata Mbak Ita Walikota Semarang

Gerakan ini banyak dimotori oleh para emak-emak serta kelompok tani dan para siswa di sekolah.

“Bagaimana menata tata niaga lokal untuk masalah pangan, tentu juga gerakan menanam dari siswa sekolah, ibu-ibu, kelompok-kelompok, yang tentunya bisa menyangga. 

Ia mencontohkan seperti menanam bayam, sayuran, tomat, ketela pohon, dan ubi.

Konsepnya dengan penanganan pangan dari hulu hingga hilir sehingga mampu mencukupi kebutuhan di dalam kota terlebih dahulu.

"Jangan sampai hasil di kota ini dijual dulu keluar, harus memenuhi dulu di Kota Semarang. Kemudian kerja sama dengan kabupaten sekitar, sehingga harga-harga bisa ditekan,” kata Mbak Ita.

Dirinya juga menghimbau masyarakat Kota Semarang untuk bisa menerapkan gaya hidup baru dengan mengkonsumsi makanan pokok non beras untuk mendukung keragaman pangan. 

Kendati membutuhkan waktu dan adaptasi yang tidak sebentar, namun dirinya berharap masyarakat mau mulai mencoba dari sekarang.

“Masyarakat melakukan perubahan gaya hidup, bisa memakan pendamping beras. Maka kita galakkan lomba-lomba bagaimana memasak makanan non beras yang bisa mendukung ketahanan pangan. Karena itu yang paling penting, kalau kita bisa mandiri Insyaa Allah kita bisa berjalan,” kata Mbak Ita.

Load More