SuaraSoreang.id - Hari Valentine yang jatuh setiap tanggal 14 Februari identik dengan hal-hal yang manis dan romantis.
Hampir semua pasangan di dunia ini merayakan Valentine dengan memberikan coklat atau bunga untuk pujaan hati mereka.
Namun, sebenarnya sejarah hari Valentine sendiri tidaklah romantis.
Sebaliknya, sejarah Valentine justru berlangsung menyeramkan dan kelam.
Kata ‘valentine’ diambil dari nama seorang Romawi, Santo Valentinus, dari abad ke 208-270 masehi.
Santo Valentinus merupakan seorang pemuka agama yang menentang kebijakan Kaisar Claudius II, di mana pada masa itu pemuda Romawi dilarang untuk menikah dan memiliki hubungan romantis.
Tujuan pelarangan tersebut sebenarnya adalah untuk membuat para pemuda/tentara fokus dalam menjaga Kekaisaran Romawi.
Sepanjang perjuangannya membela cinta yang dimiliki oleh pemuda Romawi untuk menikah dan menjalin hubungan romantis, Santo Valentinus pada akhirnya ditangkap oleh Kekaisaran Romawi.
Ia pun dieksekusi mati pada 269 masehi karena dianggap menentang pemerintahan. Hari kematiannya kemudian diperingati sebagai Hari Kasih Sayang untuk mengenang jasanya dalam memperjuangkan cinta pemuda Romawi pada masa itu.
Baca Juga: Mitos dan Sejarah Halloween, Kultur Horor yang Bertahan Lama sampai Kini
(*)
Sumber: Youtube The 700 Club berjudul The History Behind St. Valentine / 16 Februari 2019.
Berita Terkait
Terpopuler
- Duduk Perkara Gibran Tipu Malaysia, Anwar Ibrahim Buka Suara Parlemen Bakal Usut
- Lawan Pernyataan Eki Pitung, Pemuda Kaum Betawi Percaya dengan Warga Pati yang Demo 27 Agustus
- Siapa Chika Yenalovy? Istri Kasespri Prabowo yang Jejak Digitalnya Misterius
- 5 Sepatu Lari yang Nyaman untuk Jalan Jauh, Sol Empuk Bisa Buat Traveling
- 3 Rice Cooker untuk Nasi Tahan 2 Hari dan Tidak Lengket Sesuai Klaim
Pilihan
-
Tokyo Diguncang Gempa 5,9 M: 37 Orang Terluka, Transportasi Terganggu
-
Jet Tempur Sukhoi TNI AU Tergelincir Nyaris Hantam Jalan Raya di Maros
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
Terkini
-
BEM Persatuan se-DKI Ajak AMPB Jaga Ruang Demokrasi Jelang Aksi di DPR
-
Situasi Terbaru Bukit Serelo Lahat Terbakar, Karhutla Diperkirakan Capai 350 Hektar
-
Program KPR Renovasi BRI, Ketentuan Suku Bunga Ringan dan Tenor Panjang
-
Dari Kebab ke QRIS, Cerita Farhan Kebab Tumbuh Bersama Bank Sumsel Babel
-
Amnesty International Soroti Kemunduran Demokrasi: Banyak Partai, tapi Suaranya Satu
-
Panas Bumi Jadi Andalan Transisi Energi, Pemerintah Dorong Pemanfaatannya Lebih Cepat
-
Katarak Kongenital pada Anak dan Pentingnya Deteksi Sejak Dini
-
Semarak Turnamen Bulu Tangkis di Mall Solo, 219 Peserta Ikut Bertanding
-
Komunikasi Politik Prabowo Dinilai Kerap Blunder, Akademisi: Bisa Rugikan Pemerintah
-
PTBA Hadir untuk NTT, Salurkan Bantuan bagi Warga Terdampak Bencana