Terlahir Normal, Berobat ke Dokter hingga Dukun
Sebelum menjadi atlet, Ni Nengah Widiasih terlahir normal. Kehidupannya mulai berubah saat memasuki usia tiga tahun.
"Dahulu saya dilahirkan normal sampai ketika usia 3 tahun saya terkena demam. Orang tua saya membawa saya ke dokter, tapi saat disuntik dan diberi obat saya malah semakin demam hingga kaki saya akhirnya lemas total dan tak bisa berjalan," kata Ni Nengah Widiasih saat ditemui di kawasan SCBD, Jakarta Selatan, Selasa (18/9/2018).
Baca Juga: Peraih Emas Asian Para Games Dapat Bonus Tambahan Rp 100 Juta
"Orang tua saya sudah mencoba segala pengobatan dari dokter hingga dukun agar saya bisa kembali normal, tapi Tuhan berkata lain," imbuhnya.
Mendapati kenyataan tak bisa lagi berjalan akibat kedua kakinya terserang lumpuh, atlet yang akrab disapa Widi ini mengaku sempat frustasi.
Saat duduk di Sekolah Dasar (SD), dirinya sering membanding-bandingkan mengapa dirinya berbeda dengan anak-anak lain.
Saat teman-temannya asyik bermain dan berlarian, dirinya hanya mampu menonton sambil terduduk di kursi roda.
"Saat kecil saya sering merasa berbeda. Waktu itu saya belum mengerti mengapa saya tak bisa berlari seperti teman-teman," kata Ni Nengah Widiasih.
Titik Balik, Mengenal Olahraga Powerlifting
Harus menghadapi kenyataan pahit diusia belia, nyatanya tak membuat Ni Nengah Widiasih kehilangan arah hidup.
Hidup berdekatan dengan lingkungan atlet di kota asalnya, Bali, membuat Ni Nengah Widiasih menemukan titik balik.
"Ayah bilang bahwa saya sebenarnya tidak berbeda, namun saya spesial. Ayah mengatakan saya mungkin belum mengerti saat ini, tapi saat tumbuh dewasa saya pasti akan mengerti dengan sendirinya," ujarnya.
Baca Juga: Modal Satu Kaki, Jendi Panggabean Siap Harumkan Bumi Pertiwi
Harapan akhirnya datang saat sang kakak yang merupakan atlet angkat besi mengajaknya berkunjung ke gelanggang olahraga, hingga akhirnya diajak ikut berlatih bersama para lifter lainnya.
"Saya bertemu pelatih dan diajak untuk ikut berlatih. Meski saya berbeda, pelatih berusaha sebisa mungkin untuk melatih saya dengan kondisi seperti ini," ungkap Widi mengenang.
Mulai dari situ, bakat Ni Nengah Widiasih kian terlihat. Puncaknya, saat mendapat panggilan mengikuti pelatnas atlet paralimpik di Solo pada 2007.
Sejak saat itu, berbagai medali terus dipersembahkan perempuan kelahiran Karangasem, Bali, 1989 silam tersebut.
Runtuhkan Batas, Harumkan Indonesia
Seperti halnya Wonder Woman, Ni Nengah Widiasih juga meruntuhkan batas. Dirinya membuktikan bahwa seorang perempuan yang bahkan menyandang disabilitas mampu melakukan hal-hal luar biasa.
Dirinya ingin membuktikan bahwa suatu kekurangan dan batasan akan bisa dilalui jika diiringi dengan kemauan dan kerja keras.
Baca Juga: Atlet Para Renang Jendi Pangabean : Jangan Takut Menggapai Mimpi
"Mengikuti ASEAN Para Games pertama kali di Thailand pada 2008, saya mendapatkan medali perunggu. Dari situ saya termotivasi untuk terus berlatih dan berlatih lebih keras," kata Ni Nengah Widiasih.
Jatuh cintanya pada olahraga powelifting pada akhirnya tak bertepuk sebelah tangan. Gelar demi gelar berhasil diraihnya.
Meski mengalami kelumpuhan, dirinya membuktikan seorang wanita yang kakinya tak berfungsi mampu mengahrumkan nama Indonesia di pentas Internasional.
Prestasi tertinggi Ni Nengah Widiasih datang saat mengikuti Paralimpiade 2016 Rio de Janeiro, Brasil. Dirinya yang turun di nomor 41 kg, menempati peringkat ketiga dan berhak meraih medali perunggu.
Kini, Ni Nengah Widiasih akan membela nama Indonesia dalam gelaran yang tak kalah besar, Asian Para Games 2018.
Baca Juga: 7 Fakta Menarik Asian Para Games, dari Harga Tiket hingga Momo
Berbekal raihan medali Paralimpiade 2016, dirinya yakin di pesta olahraga atlet difabel terbesar bangsa Asia ini dirinya mampu memberikan prestasi terbaik.
"Saat ini saya menempati ranking dua dunia. Untuk world record-nya masih dipegang atlet Cina, dia sangat kuat sekali. Semoga di Asian Para Games 2018, saya bisa memberikan prestasi yang lebih baik lagi," ujarnya.
Tag
Berita Terkait
-
ABM LOC Pastikan Timnas Indonesia U-17 vs Malaysia Siap Digelar di Stadion Manahan
-
BUMN Logistik Baru Mulai Terbentuk, Merger dari 7 Perusahan
-
Indonesia Gelontorkan Rp73,5 Triliun Per Tahun Atasi Masalah Iklim
-
Tujuh BUMN Logistik Resmi Melebur di bawah PT Multi Terminal Indonesia
-
DPR RI Setujui Naturalisasi Mitchell Baker dan Luke Vickery! Selangkah Lagi Bela Timnas Indonesia
Terpopuler
- 4 Sepatu Kanky Terlaris di Shopee, Nyaman Dipakai Seharian Sesuai Review Pembeli
- 5 Shio yang Menarik Keberuntungan 28 Juni 2026, Hari Penuh Hoki dan Kesempatan
- 4 Sepatu Lari Skechers yang Diskon sampai 50 Persen di Sport Station, Mulai Rp500 Ribuan
- 10 Promo Sepatu Lari di Sports Station: Adidas, Reebok, dan New Balance Mulai Rp299 Ribuan
- 6 Sunscreen di Alfamart untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas sesuai Review
Pilihan
-
Prabowo ke Polisi: Gaji dan Senjata Kalian dari Rakyat, Jadi Jangan Menyusahkan Rakyat
-
Prabowo: Hukum Tak Boleh Dipakai untuk Balas Dendam Politik
-
Kompak Turun: Ini Harga BBM di Pertamina hingga Shell
-
Hakim Andi Sebut Nadiem Makarim Seharusnya Dibebaskan
-
Selain 10 Tahun Penjara, Nadiem Makarim Wajib Bayar Uang Pengganti Rp809,59 Miliar
Terkini
-
Draymond Green Tolak Kontrak Rp443 Miliar, Buka Pintu Lebar Bagi LeBron James ke Warriors
-
Timnas Voli Indonesia Tembus Peringkat 43 Dunia Usai Segel Gelar Juara AVC Cup 2026
-
Perombakan Besar Yamaha! Fabio Quartararo dan Alex Rins Dipastikan Hengkang di Akhir Musim 2026
-
Padukan Olahraga dan Festival Budaya, Bhinneka Run 2026 Janjikan Pengalaman Lari Berbeda di TMII
-
Erick Thohir Puji IBL, Lima Musim Hadirkan Lima Juara Berbeda
-
Ranking FIVB Timnas Voli Indonesia Usai Juara AVC Cup 2026
-
Drama 5 Game Final Berakhir Manis, Cesar Camara Puji Mentalitas Juara Bogor Hornbills
-
David Nuban Ungkap Kunci Bogor Hornbills Juara IBL 2026: Bukan Cuma Thibodeaux!
-
Sejarah Baru! Bogor Hornbills Resmi Jadi Juara IBL 2026 Usai Bungkam Pelita Jaya di Game Penentuan
-
Reaksi Geram Publik Korsel Usai Timnas Voli Indonesia Cetak Sejarah di AVC Cup 2026