Suara.com - "Apa yang dilakukan seseorang ketika menghadapi kenyataan jauh lebih sulit dari yang kalian pikirkan." Ucapan itu dilontarkan Diana Prince, tokoh utama di film superhero terkemuka dunia, Wonder Woman.
Pernyataan itu mungkin terasa biasa saja bagi kebanyakan orang. Namun bagi Diana Prince dan Ni Nengah Widiasih kata-kata itu bisa berarti sebuah motivasi besar.
Diana Prince adalah sosok fiksional dari komik DC ciptaan William Moulton Marston dan Harry G. Peter.
Baca Juga: Asian Para Games : Jokowi Harap 2 Cabor Ini Jadi Lumbung Emas
Meski digambarkan sebagai sosok wanita Amazon, Diana Prince berani keluar dari kampung halamannya dan mengemban tugas besar melindungi banyak orang dari kejahatan.
Premis yang ditawarkan kisah Wonder Woman banyak mengilhami orang-orang, khususnya para wanita yang mengalami keterbatasan untuk berjuang mewujudkan mimpi. Salah satunya Ni Nengah Widiasih.
Ni Nengah Widiasih merupakan atlet powerlifting disabilitas yang akan membela Indonesia di perhelatan akbar Asian Para Games 2018.
Terlahir Normal, Berobat ke Dokter hingga Dukun
Sebelum menjadi atlet, Ni Nengah Widiasih terlahir normal. Kehidupannya mulai berubah saat memasuki usia tiga tahun.
"Dahulu saya dilahirkan normal sampai ketika usia 3 tahun saya terkena demam. Orang tua saya membawa saya ke dokter, tapi saat disuntik dan diberi obat saya malah semakin demam hingga kaki saya akhirnya lemas total dan tak bisa berjalan," kata Ni Nengah Widiasih saat ditemui di kawasan SCBD, Jakarta Selatan, Selasa (18/9/2018).
Baca Juga: Peraih Emas Asian Para Games Dapat Bonus Tambahan Rp 100 Juta
"Orang tua saya sudah mencoba segala pengobatan dari dokter hingga dukun agar saya bisa kembali normal, tapi Tuhan berkata lain," imbuhnya.
Mendapati kenyataan tak bisa lagi berjalan akibat kedua kakinya terserang lumpuh, atlet yang akrab disapa Widi ini mengaku sempat frustasi.
Saat duduk di Sekolah Dasar (SD), dirinya sering membanding-bandingkan mengapa dirinya berbeda dengan anak-anak lain.
Saat teman-temannya asyik bermain dan berlarian, dirinya hanya mampu menonton sambil terduduk di kursi roda.
"Saat kecil saya sering merasa berbeda. Waktu itu saya belum mengerti mengapa saya tak bisa berlari seperti teman-teman," kata Ni Nengah Widiasih.
Titik Balik, Mengenal Olahraga Powerlifting
Harus menghadapi kenyataan pahit diusia belia, nyatanya tak membuat Ni Nengah Widiasih kehilangan arah hidup.
Hidup berdekatan dengan lingkungan atlet di kota asalnya, Bali, membuat Ni Nengah Widiasih menemukan titik balik.
"Ayah bilang bahwa saya sebenarnya tidak berbeda, namun saya spesial. Ayah mengatakan saya mungkin belum mengerti saat ini, tapi saat tumbuh dewasa saya pasti akan mengerti dengan sendirinya," ujarnya.
Baca Juga: Modal Satu Kaki, Jendi Panggabean Siap Harumkan Bumi Pertiwi
Harapan akhirnya datang saat sang kakak yang merupakan atlet angkat besi mengajaknya berkunjung ke gelanggang olahraga, hingga akhirnya diajak ikut berlatih bersama para lifter lainnya.
"Saya bertemu pelatih dan diajak untuk ikut berlatih. Meski saya berbeda, pelatih berusaha sebisa mungkin untuk melatih saya dengan kondisi seperti ini," ungkap Widi mengenang.
Mulai dari situ, bakat Ni Nengah Widiasih kian terlihat. Puncaknya, saat mendapat panggilan mengikuti pelatnas atlet paralimpik di Solo pada 2007.
Sejak saat itu, berbagai medali terus dipersembahkan perempuan kelahiran Karangasem, Bali, 1989 silam tersebut.
Runtuhkan Batas, Harumkan Indonesia
Seperti halnya Wonder Woman, Ni Nengah Widiasih juga meruntuhkan batas. Dirinya membuktikan bahwa seorang perempuan yang bahkan menyandang disabilitas mampu melakukan hal-hal luar biasa.
Dirinya ingin membuktikan bahwa suatu kekurangan dan batasan akan bisa dilalui jika diiringi dengan kemauan dan kerja keras.
Baca Juga: Atlet Para Renang Jendi Pangabean : Jangan Takut Menggapai Mimpi
"Mengikuti ASEAN Para Games pertama kali di Thailand pada 2008, saya mendapatkan medali perunggu. Dari situ saya termotivasi untuk terus berlatih dan berlatih lebih keras," kata Ni Nengah Widiasih.
Jatuh cintanya pada olahraga powelifting pada akhirnya tak bertepuk sebelah tangan. Gelar demi gelar berhasil diraihnya.
Meski mengalami kelumpuhan, dirinya membuktikan seorang wanita yang kakinya tak berfungsi mampu mengahrumkan nama Indonesia di pentas Internasional.
Prestasi tertinggi Ni Nengah Widiasih datang saat mengikuti Paralimpiade 2016 Rio de Janeiro, Brasil. Dirinya yang turun di nomor 41 kg, menempati peringkat ketiga dan berhak meraih medali perunggu.
Kini, Ni Nengah Widiasih akan membela nama Indonesia dalam gelaran yang tak kalah besar, Asian Para Games 2018.
Baca Juga: 7 Fakta Menarik Asian Para Games, dari Harga Tiket hingga Momo
Berbekal raihan medali Paralimpiade 2016, dirinya yakin di pesta olahraga atlet difabel terbesar bangsa Asia ini dirinya mampu memberikan prestasi terbaik.
"Saat ini saya menempati ranking dua dunia. Untuk world record-nya masih dipegang atlet Cina, dia sangat kuat sekali. Semoga di Asian Para Games 2018, saya bisa memberikan prestasi yang lebih baik lagi," ujarnya.
Tag
Berita Terkait
-
Nasib Buruh Perempuan hingga Korban MBG Jadi Sorotan Tajam API
-
API Soroti Femisida dan Bias Hukum Jelang Hari Perempuan Internasional
-
OPPO Reno15 Series: Selfie Ultra Wide 0,6x, Baterai 7.000mAh untuk Aktivitas Anak Muda Tanpa Batas
-
Samsung Galaxy A07 5G Resmi Rilis di Indonesia: HP Rp2 Jutaan dengan Baterai 6000mAh dan Fitur AI
-
Indonesia Dapat Dukungan Uzbekistan untuk Jadi Tuan Rumah Piala Dunia Futsal
Terpopuler
- Dari Koruptor Kembali ke Rakyat: Aset Rp16,39 Miliar Kini Disulap Jadi Sekolah hingga Taman di Jabar
- Teman Sentil Taqy Malik Ambil Untung Besar dari Wakaf Alquran di Tanah Suci: Jangan Serakah!
- HP Bagus Minimal RAM Berapa? Ini 4 Rekomendasi di Kelas Entry Level
- Simulasi TKA: 15 Soal Matematika Kelas 6 SD Materi Bangun Ruang dan Statistika
- Link Download 40 Poster Ramadhan 2026 Gratis, Lengkap dengan Cara Edit
Pilihan
-
Opsen Pajak Bikin Resah, Beban Baru Pemilik Motor dan Mobil di Jateng
-
Here We Go! Putra Saparua Susul Tijjani Reijnders Main di Premier League
-
Kabar Baik dari Elkan Baggott untuk Timnas Indonesia
-
Jaminan Kesehatan Dicabut, Ribuan Warga Miskin Magelang Tercekik Cemas: Bagaimana Jika Saya Sakit?
-
Lagu "Cita-citaku (Ga Jadi Polisi)" Milik Gandhi Sehat Ditarik dari Peredaran, Ada Apa?
Terkini
-
Jakarta Electric PLN Mobile Tumbangkan Medan Falcons di Putaran Kedua Proliga 2026
-
PB Djarum Gelar Kejuaraan Klub Mitra 2026: Adopsi Format Piala Thomas, Uber, dan Sudirman
-
Alasan Bank Jakarta Bantu Pelita Jaya Arungi IBL 2026
-
Bank Jakarta Gandeng Pelita Jaya, Targetkan Prestasi dan Sport Tourism
-
Jorge Martin Pulih dari Cedera, Siap Ikuti Tes MotoGP di Buriram
-
Satu Hati untuk Jakarta: Pelita Jaya dan Persija Resmi Berkolaborasi
-
Jelang GFNY Belitung 2026, Komunitas Roadbike Jakarta Gelar Group Ride 40 Km
-
Anthony Garbelotto Bongkar Kunci Kestaria Bengawan Solo Jungkalkan Dewa United
-
BWF Ubah Format Indonesia Open Jadi 11 Hari, PBSI: Kesempatan Emas untuk Pebulu Tangkis
-
Menggiurkan! BWF Ubah Aturan Bulu Tangkis: Jadwal Makin Padat, Hadiah Tembus Rp452 M