Suara.com - Teluk Yos Sudarso menjadi arena pertandingan dua cabang olahraga Pekan Olahraga Nasional (PON) XX Papua, yakni renang perairan terbuka dan selam laut, yang memperebutkan dua emas terakhir, Kamis (14/10/2021).
Selain berada di pusat kota Jayapura, tepatnya di depan kantor gubernur, teluk Yos Sudarso menawarkan keindahan alam dengan air yang jernih hingga hingga tak jarang gerombolan ikan kecil nampak jelas bahkan dengan mata telanjang.
Terlepas dari hal itu, seperti namanya yang mengusung nama pahlawan, teluk tersebut menyimpan sejarah yang menarik untuk diketahui.
"Teluk Yos Sudarso ini zaman Belanda menjadi tempat perebutan sekutu, dan bagaimana pemerintah Indonesia memegang tempat ini, merawat tempat ini, sehingga dengan Jenderal Yos Sudarso datang ke sini, sehingga tempat ini dinamakan sebagai Teluk Yos Sudarso," ujar Wali kota Jayapura Benhur Tomi Mano kepada Antara.
Sebelum dinamai teluk Yos Sudarso, teluk tersebut memiliki nama Teluk Numbay. Menyusuri perjalanan sejarah di Tanah Papua khususnya di dataran Numbay tercatat bahwa pada 13 Agustus 1768 seorang pelaut berkebangsaan Perancis bernama L.A. Bougainvelle berlabuh di Teluk Numbay dan memberi nama Gunung Dobonsolo dengan nama Cyclop dalam bahasa Yunani/Grika yang berarti raksasa bermata satu.
Dia juga memberi nama pada sebuah Gunung disebelah Timur Jayapura yang terletak di sekitar Skouw dengan namanya sendiri yaitu Gunung Bougenville, dikutip dari laman resmi pemerintah kabupaten Jayapura, menurut Permendagri No.66 Tahun 2011.
Ibu kota Jayapura hingga kini tetap diapit oleh Samudara Pasifik disebelah Timur dan sebelah Baratnya terbentang lekuk-lekuk Gugusan Pegunungan Cyclop/Dobonsolo.
Berdirinya Kota/Kabupaten Jayapura
Kota Jayapura memiliki beberapa nama yang berbeda. Tahun 1900-1910 dimulai dengan pembukaan Pos Pemerintahan di Pulau Debi yang terletak di Teluk Yotefa antara Kampung Tobati dan Enggros, Jayapura memiliki nama daratan Numbay.
Baca Juga: Final Sepak Bola PON Papua: Papua Ungguli Aceh 2-0 di Babak Pertama
Tahun 1909 satu Detasemen Militer yang terdiri dari empat Perwira dan 80 Prajurit dibawah Pimpinan Kapten Infantri F.J.P Sachese dengan menumpang Kapal Perang EDI bertolak dari Manokwari menuju daratan Numbay.
Satu bulan kemudian tepatnya 28 September 1909 mereka berhasil mendarat di Teluk Numbay/Humbolt dan membuat markas di Taman Imbi atau yang sekarang dikenal dengan Gedung Sarinah dan Percetakan Labor Jayapura.
Pada 7 Maret 1910 atau tepatnya enam bulan kemudian Kapten Infantri F.J.P. Sachese memproklamirkan dataran Numbay dengan sebutan baru yaitu Hollandia dan dikukuhkan sebagai Ibu Kota Pemerintahan menggantikan Pos Pemerintahan di Pulau Debi yang ditutup.
Tiga puluh dua tahun tepatnya pada 1942 setelah Ibu Kota Hollandia berdiri, tentara Jepang berhasil mendarat dan menguasai Tanah Papua termasuk Ibu Kota Hollandia.
Dua tahun kemudian setelah perang Dunia kedua akan berakhir atau tepatnya pada 1944, Belanda kembali menguasai Tanah Papua dan memindahkan Ibu Kota Hollandia yang terletak di daratan Numbay teluk Humbolt ke daratan Makanwai.
Pada 1944-1946 dataran Makanwai diganti namanya menjadi Kota NICA dan menjadi Ibu Kota Keresidenan New Guinea -- sekarang lebih dikenal dengan Kampung Harapan.
Berita Terkait
-
Reshuffle Kabinet Terkini, Kenapa Prabowo Pilih Senin Wage dan Tinggalkan Tradisi Rabu Pon Jokowi?
-
KONI Isyaratkan PON 2028 Prioritaskan Cabor Olimpiade
-
Kalender Jawa Weton 2 November 2025: Watak Minggu Pon, Rezeki, dan Jodoh Menurut Primbon
-
Kalender Jawa 28 Oktober 2025 Selasa Pon: Mengungkap Sifat dan Peruntungan Weton Lainnya
-
PON Bela Diri Kudus 2025 Rampung, DKI Jakarta Kunci Juara Umum
Terpopuler
- 6 Pilihan HP Flagship Paling Murah, Spek Sultan Harga Teman
- 5 HP 5G Terbaru RAM 12 GB, Spek Kencang untuk Budget Rp3 Juta
- 5 Pilihan Sepatu Lari Hoka Murah di Sports Station, Harga Diskon 50 Persen
- 5 Parfum Aroma Segar Buat Pesepeda, Anti Bau Badan Meski Gowes Seharian
- 5 Sepeda Listrik Jarak Tempuh Terjauh, Tahan Air dan Aman Melintasi Gerimis
Pilihan
-
Truk Tangki BBM Meledak Hebat di Banyuasin, 4 Pekerja Terbakar saat Api Membumbung Tinggi
-
RS Polri Berhasil Identifikasi 10 Jenazah Korban Tabrakan Kereta di Bekasi Timur, Ini Nama-namanya
-
Sempat Hilang Kontak, Ain Karyawan Kompas TV Meninggal dalam Kecelakaan KRL di Bekasi
-
4 Pemain Anyar di Skuad Timnas Indonesia untuk TC Piala AFF 2026, 2 Statusnya Debutan!
-
Korban Kecelakaan KRL Vs KA Argo Bromo Bertambah, AHY: 15 Jiwa Meninggal dan 88 Orang Luka-Luka
Terkini
-
Tak Hanya Balap, Kiandra Ramadhipa Asah Public Speaking demi Karier Profesional
-
Piala Thomas 2026: Laga Hidup Mati Indonesia vs Prancis, Wajib Menang Demi Juara Grup
-
Sihir Jerez Kembali Hidup, Alex Marquez Raih Kemenangan Perdana Musim 2026
-
PBVSI Panggil 17 Pemain untuk Tiga Kejuaraan Internasional, Ada Debutan
-
Start dari Posisi 17, Veda Ega Pratama Finis Keenam di Moto3 Spanyol 2026
-
Pecco Bagnaia Ungkap Alasan Mundur dari MotoGP Spanyol 2026
-
Kiandra Ramadhipa Ungkap Rahasia Manuver Nekat di Lap Terakhir GP Spanyol
-
Siapa Kiandra Ramadhipa? Remaja Asal Sleman Taklukkan Sirkuit Jerez Juarai MotoGP Rookies Cup 2026
-
Bangka Belitung B dan Sulawesi Selatan Juara Kejurnas ORADO 2026
-
Aksi Gila Pembalap 16 Tahun Indonesia Asapi Rider Eropa di Sirkuit Jerez Spanyol