/
Selasa, 17 Mei 2022 | 19:26 WIB
OJK

TANTRUM - Berkembangnya digitalisasi di sektor keuangan telah memudahkan orang untuk melakukan berbagai transaksi. Namun, kondisi ini juga meningkatkan probabilitas serangan siber terhadap industri keuangan.

Tercatat, serangan siber yang terjadi pada 10 besar industri pada 2021 sebanyak 22,4 persennya terjadi di sektor keuangan. Jika dirinci ada 70 persen serangan yang ditujukan kepada perbankan, 16 persen perusahaan asuransi, dan 14 persen sektor keuangan lainnya.

"Probabilitas serangan siber di sektor keuangan ke depan diprediksi bisa mencapai 86,7 persen dan memang diprediksi akan sukses apabila bank-bank tidak siap untuk melakukan mitigasi kepada keamanan siber," ujar Deputi Direktur Basel & Perbankan Internasional, Departemen Penelitian dan Pengaturan Perbankan OJK Tony  di Jakarta, Selasa, 17 Mei 2022.

Ia menegaskan, ancaman keamanan siber berpotensi menimbulkan risiko besar bagi bisnis perbankan digital pada beberapa tahun mendatang. Paling tidak, Berdasarkan data International Monetary Fund (IMF) tahun 2020, estimasi total kerugian rata-rata tahunan yang dialami sektor jasa keuangan secara global yang disebabkan oleh serangan siber yaitu senilai 100 miliar dolar AS atau lebih dari Rp 1.433 triliun.

Chief Information Security Officer Bank Mandiri Saladin D Effendi mengatakan, digitalisasi yang terus berkembang dalam memberikan kenyamanan para nasabah, tentu dibarengi dengan ancaman risiko serangan. Hal tersebut tentu harus diantisipasi oleh perbankan.

Paling tidak, lanjut iam ada tiga ancaman kejahatan siber teratas global 2022 yaitu social engineering dan ransomware, identity dan access control attack, serta supply chain attack.

Dalam kasus social engineering dan ransomware, yang banyak terjadi adalah orang-orang jadi sering klak-klik gara-gara kerja di rumah. Bahkan, sebanyak 47 persen ternyata terjebak pada phishing email yang diklik, jadi mengaktifkan ransomware.

Tercatat, ransomware terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Misalnya, dari 2020 ke 2021 pemeningkat 435 persen.

"Ini yang jadi threat nomor satu, threat keduanya itu identity dan access control attack, dan threat ketiga itu supply chain attack," ujarnya. 

Load More