/
Rabu, 18 Mei 2022 | 18:18 WIB
BMKG

TANTRUM - Pusat Riset Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyebutkan musim hujan berpotensi masih terjadi di Indonesia sejak bulan April 2022.

Peneliti Klimatologi Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN Erma Yulihastin menuturkan musim hujan yang seharusnya berakhir pada bulan Maret dan berubah menjadi periode transisi yaitu Maret – Mei 2022 menuju musim kemarau, ternyata tidak terjadi sehingga musim hujan berpotensi berlanjut atau mengalami perpanjangan. 

"Ini dibuktikan berdasarkan data satelit hujan Global Satellite Mapping of Precipitation (GSMaP) yang menunjukkan akumulasi rata-rata intensitas curah hujan selama 10 harian atau dasarian yang masih berkisar antara 100-300 mm selama satu bulan terakhir di sebagian besar wilayah Indonesia," ujar Erma ditulis Bandung, Rabu, 18 Mei 2022.

Menurut Erma kondisi basah di selatan Indonesia sejak akhir Maret hingga pertengahan April 2022 bahkan terus terjadi meskipun siklon tropis Malakas yang terbentuk di dekat Filiphina telah berdampak pada kondisi minim awan atau clear sky di barat Indonesia. 

Hal ini menunjukkan aktivitas konvektif skala meso atau luas yang berpotensi menimbulkan hujan persisten tidak terjadi di barat Indonesia. 

"Meskipun demikian, hujan di sebagian besar kawasan barat Indonesia diantaranya di Jawa, Sumatra dan Kalimantan tetap terbentuk hampir setiap hari berupa hujan diurnal siang, sore, atau malam hari di atas daratan," kata Erma.

Hujan harian atau diurnal ini lebih dipengaruhi oleh penguatan sirkulasi diurnal angin darat-laut atau angin gunung-lembah. 

Indikasi hujan diurnal yang dibangkitkan oleh angin laut ini dapat pula diketahui dari pembentukan awan-awan cumulus tunggal yang terbentuk pada pagi menjelang siang hari sekitar pukul 09.00 WIB. 

"Seiring dengan pemanasan radiasi matahari yang optimal pada siang hari, awan-awan tersebut pun tumbuh meninggi dan menyatu dengan awan-awan stratus di lapisan atasnya yang telah terbentuk merata di atmosfer pada hari-hari sebelumnya," ungkap Erma.

Erma menjelaskan percampuran antara awan cumulus dan strato-cumulus yang pada sore hari sebagian awan tersebut lekas berubah menjadi awan-awan hujan rendah yang dinamakan dengan awan nimbo-stratus. 

Awan nimbostratus berwarna keabuan biasanya membentuk lapisan di bagian atas sedangkan bagian bawah awan tersebut masih berwarna putih cerah yang menandakan pertumbuhan awan rendah cumulus masih terus terjadi di bagian yang lebih rendah.

"Di sisi lain, angin musim kemarau sudah mulai terbentuk khususnya di tenggara Indonesia meskipun tidak disertai dengan pengurangan intensitas hujan untuk sebagian besar wilayah monsunal Indonesia," tukas Erma.

Erma mengatakan ini membuktikan bahwa angin monsun tidak lagi menjadi penentu utama sifat musim hujan atau kemarau di Indonesia, setidaknya telah dibuktikan selama beberapa tahun belakangan ini.

Terdapat variasi di atmosfer dengan skala intra-musiman (sub-seasonal) dan antar-tahunan (inter-annulal) yang lebih dominan dalam mengontrol musim di Indonesia akhir-akhir ini.

"Perpanjangan musim hujan atau kecenderungan musim kemarau basah yang dapat terjadi di sebagian Pulau Jawa bagian tengah dan selatan pada tahun ini disebabkan pertama oleh peluang terjadinya perpanjangan La Nina hingga Mei 2022 bahkan mungkin dapat terus berlanjut berdasarkan data prediksi dari berbagai model global," ucap Erma.

Load More