/
Kamis, 02 Juni 2022 | 08:32 WIB
suara.com

TANTRUM - Laporan dari Crowdstrike Global Threat Report 2020, lanskap ancaman yang kini dihadapi sekitar 49 persen adalah malware dan 51 persen.

Lalu, lainnya non-malware berupa hacktivist, kejahatan siber, kriminal yang terorganisir, serangan internal, penyalahgunaan privileged account, hingga kejahatan yang sulit dicegah karena dilindungi dan dikoordinasi oleh negara.

Serangan siber saat ini, berkembang semakin canggih seiring perkembangan teknologi sehingga institusi atau perusahaan membutuhkan perlindungan endpoint untuk menghadapinya.

Keamanan atau proteksi endpoint merupakan metode keamanan siber untuk melindungi desktop, laptop, perangkat IoT (internet of things), dan perangkat yang berkomunikasi dengan jaringan pusat lainnya dari ancaman serangan siber.

Direktur Virtus Christian Atmadjaja mengatakan, ada tiga alasan mengapa keamanan endpoint menjadi tantangan tersendiri. Pertama, karena kecanggihan ancaman, di mana penyerang sudah memiliki metode tradecraft yang unggul dan memudahkan mereka mencapai target.

"Kedua, adalah outmoded defences atau sistem pertahanan yang sudah ketinggalan zaman," ujarnya, Kamis, 2 Mei 2022.

Selama ini, kata ia, banyak orang atau perusahaan, yang hanya berfokus pada menangkal serangan malware, padahal penyerang terus berevolusi. 

"Mereka sekarang menggunakan teknik tanpa file yang dengan mudah melewati antivirus dan bisa terlihat seperti user yang sah untuk mencuri kredensial. Jadi perusahaan yang hanya memiliki strategi yang berfokus pada malware saja, bisa melewatkan model ancaman lainnya," katanya.

Load More