/
Selasa, 04 Oktober 2022 | 07:21 WIB
Ferdy Sambo saat mnnjabat Kadim Propam Polri. (ANTARA FOTO/Aprillio Akbar)

Suara.Tasikmalaya.id – Kuasa hukum keluarga Brigadir J, Kamaruddin Simanjuntak menceritakan, jika Ferdy Sambo belum habis meski kekuatan dan kekuasaannya di Mabes Polri telah dilucuti.
 
Pernah menjabat sebagai Kadiv Propam, membuat Ferdy Sambo nyaris seperti raja dengan Duren Tiga sebagai istana yang menakutkan.
 
Kekayaan yang tidak jelas dari mana sumbernya membuat Ferdy Sambo digambarkan Kamaruddin Simanjuntak tak akan habis oleh perkara besar yang saat ini membelitnya.
 
Kecerdasaan Ferdy Sambo yang mengantarkan dirinya ke puncak karier di usia yang masih sangat muda.
 
Kepintaran dan kecerdikannya, berbuah bintang dua di pundak dan jabatan Kadiv Propam Polri yang seharusnya diemban oleh yang jauh di atasnya dan lebih layak.
 
Kamaruddin Simanjuntak begitu yakin jika tersangka utama kasus pembunuhan Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat atau Brigadir J, yakni mantan Kadiv Propam Ferdy Sambo disebut menyimpan berbagai taktik yang tak mudah ditumbangkan.
 
Benar jika berkas perkara Ferdy Sambo Cs sudah dinyatakan lengkap P21, tapi sejumlah pihak menilai Ferdy Sambo menyiapkan siasat untuk lolos dari jerat hukum maksimal.
 
Kamaruddin Simanjuntak pun mengendus gelagat Ferdy Sambo yang datang ke istana seusai membunuh ajudannya tersebut.
 
Jejak darah Brigadir J dari istana Duren Tiga pun sepertinya terbawa ke Istana Negara.
 
Hal itu menjadi dugaan Kamaruddin dalam kanal YouTube Refly Harun.
 
Kamaruddin Simanjuntak mengatakan, jika mereka yang di istana takut pada jenderal dua bintang berdarah dingin.
 
"Mereka sangat takut oleh jenderal ini. Oh rupanya karena kadiv propam setelah dicopot kok masih takut juga. Ih rupanya ada Satgas Merah Putih," ujar Kamaruddin. 
 
Namun setelah Satgas Merah Putih dibubarkan, penyidik disebut masih belum berdaya pada Ferdy Sambo.
 
Dalam hal ini, Kamaruddin menyebutkan dia mendapat laporan intelijen bahwa Ferdy Sambo mendatangi istana seusai membunuh Brigadir J.
 
"Ternyata saya pelajari berdasarkan laporan intelijen begitu dia menembak, membunuh, ternyata dia lapor ke istana, menggunakan salah satu ketua komisi," ujar Kamaruddin. 
 
"Berhasil atau tidak yang dipengaruhi ke istana saya belum dapat, kemudian ke kementerian lain, sampai ke menko dan ke lembaga-lembaga lain selalu disertai dengan dorongan amplop," tambahnya. 
 
 Nasib Kapolda Jatim Irjen Nico Afinta 
 
Irjen Nico Afinta kembali jadi sorotan. Dalam sebulan terakhir nama Nico Afinta yang menjabat sebagai Kapolda Jawa Timur ini disebut-sebut ikut dalam pusaran kasus dugaan pembunuhan berencana yang didalangi Ferdy Sambo.
 
Kini, belum kering soal nama Nico Afinta yang disebut ikut memperkuat skenario buatan Ferdy Sambo, malah ada di pusaran jasad-jasad suporter yang meninggal dalam tragedi mematikan di Stadion Kanjuruhan.
 
Dua kali publik tanah air berduka, dan dua kali juga nama Nico Afinta ikut disebut-sebut ada di dalam pusarannya.
 
Publik menyoroti kinerja Kapolda Jawa Timur, Irjen Pol. Nico Afinta antara kasus Ferdy Sambo dan tragedi mematikan di Kanjuruhan.  
 
Lagi-lagi nama Kapolda Jawa Timur yang tidak asing di telinga khalayak, kembali jadi sorotan. 
 
Sebelumnya di kasus Ferdy Sambo, nama Nico Afinta beredar ikut andil dalam memperkuat skenario awal Ferdy Sambo soal baku tembak Bharada E dan Brigadir J.
 
Lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) 1992 disebut-sebut ikut terlibat setelah ada dugaan ikut dalam pertemuan Kapolda Metro Jaya, Irjen Fadil Imran, dan Kapolda Sumatera Utara, Irjen R.Z. Panca Putra Simanjuntak.  
 
Diduga, para perwira tinggi itu berbagi tugas dengan menyebarkan informasi tembak-menembak, serta pelecehan seksual di Duren Tiga.
 
Namun, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo langsung pasang badan dengan meluruskan kabar miring soal jajarannya itu. 
 
Secara tegas, Kapolri mengatakan jika Kapolda Jawa Timur tidak terlibat dalam skenario pembunuhan Ferdy Sambo.  
 
"Divisi Propam dan timsus sudah memeriksa (tiga jenderal), ditemukan sampai saat ini kesimpulannya tidak ada berkaitan dengan skenario kasus FS," kata Kapolri. 
 
"Ini supaya menjadi jelas dan tidak polemik," ujar Kapolri dalam konferensi pers di Jakarta, 30 September 2022. 
 
Semua seakan lurus-lurus saja, nama Nico Afinta sepertinya keluar dari pusaran polemik kasus dugaan pembunuhan berencana yang dilakukan Ferdy Sambo. 
 
Akan tetapi, lagi-lagi Polri harus bekerja keras lantaran nama Kapolda Jawa Timur ini lagi-lagi terseret kasus besar, yakni Tragedi Mematikan Stadion Kanjuruhan. 
 
Ikut tanggung jawab, pecat
 
Dalam kasus mematikan di Kanjuruhan, Kapolda Jawa Timur dianggap sebagai satu di antara sosok yang harus ikut bertanggung jawab. 
 
Nico Afinta disebut-sebut diduga lalai dalam memberikan arahan pada anak buahnya saat terjadi tragedi berdarah di Stadion Kanjuruhan.  
 
Sangat jelas, jika melihat pada adanya tindakan aparat menembakkan gas air mata, adalah bukti kesalahan atas minimnya pengawasan. 
 
Tegas-tegas FIFA telah melarang keras penggunaan senjata gas air mata di dalam sebuah pertandingan sepakbola. 
 
Melihat adanya peristiwa penembakan gas air mata, disikapi Peneliti Institute for Security and Strategis Studies (ISESS), Bambang Rukminto, dengan ungkapan Nico Afinta harus bertanggung jawab.
 
Bambang mendesak Kapolri agar mencopot dua tokoh penting di tubuh Kepolisian Daerah Jawa Timur sebagai konsekuensi lantaran diduga salah dalam melakukan penanganan. 
 
Mereka yang harus dicopot kata Bambang adalah Kapolres Malang, AKBP Ferli Hidayat, dan Nico Afinta. 
 
Jika aparat kepolisian dan panitia bisa bertindak presisi dan matang dalam memperhitungkan berbagai kemungkinan, maka kata Bambang peristiwa mematikan di Kanjuruhan tidak akan terjadi.
 
"Tragedi itu menunjukkan polisi tidak bisa melakukan prediksi dan pencegahan bila terjadi kerusuhan di dalam stadion, sehingga berjatuhan korban akibat desak-desakan di pintu yang sempit karena kepanikan suporter," ungkap Bambang seperti dikutip dari Tvone, Minggu (2/10/2022). 
 
Bambang sangat menyayangkan ketika melihat sikap Kapolda Jawa Timur yang tidak memperlihatkan rasa kemanusiaan terhadap korban jiwa di Kanjuruhan. 
 
Dia menilai, Nico Afinta seperti menyudutkan suporter tanpa melihat adanya keterlibatan aparat dalam pengamanan.
 
"Pernyataannya (Nico Afinta ) tadi, menunjukkan Kapolda Jawa Timur tidak memiliki empati pada korban sehingga menyalahkan suporter. Kapolri harus copot beliau (Kapolda Jatim)," tegas Bambang. 

Load More