SuaraTasikmalaya.id -Arema bertemu seteru abadi mereka di atas lapangan hijau, Persebaya.
Saat itu tempik sorak bergema di segala penjuru Stadion Kanjuruhan, Krajan, Kedungpedaringan, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang.
Ahmad Wahyudi bersama istrinya Sulastri, larut dalam gemuruh massa Aremania.
Bagi Ahmad Kanjuruhan dan Arema ada jiwa yang sama untuk mendapat kebahagiaa.
Makanya, mereka membawa ketiga keponakan, menantu, dan cucunya hanya untuk memanjakan diri berbahagia bersama Aremania dan Arema.
Tapi keriaan itu seketika berubah menjadi mencekam.
Aparat yang punya tugas mengamankan menghalau sejumlah Aremania yang memasuki lapangan hendak bersalaman dengan skuat kesayangannya.
Seolah sudah firasat dan suasana memang sudah tak asyik lagi, Wahyudi yang berusia 40 tahun mengajak sang istri dan semua keluarganya untuk keluar lebih dulu.
"Ayo bu, kita keluar saja,” kata Wahyudi.
“Kenapa pak?” jawab Sulastri.
“Enggak baik anak kecil lihat kayak begini. Kita keluar saja cari makan, daripada cucu lihat begini,” katanya menceritakan.
Sulastri dan lainnya mengikuti langkah Wahyudi menuju tangga ke arah pintu keluar tribun nomor dua belas.
“Bu, pegangan besi biar enggak jatuh,“ katanya lagi.
"Sulastri menuruti perkataan sang suami—usianya sudah masuk kepala lima, tubuhnya tak lagi kuat bila meniti anak tangga.
Dalam waktu bersamaan, Sulastri sempat melihat benda berasap melayang di atas kepalanya.
Seketika itu pula mata Sulastri mulai terasa perih.
Benda itu gas air mata yang ditembakkan aparat dari pinggir lapangan.
Saking perihnya, Sulastri tak bisa membuka mata.
Pada kesempatan terakhir melihat, ia menggamit tangan Wahyudi.
“Pegangan semua, pegangan,” perintah Wahyudi.
Wahyudi berada paling depan. Kemudian diikuti Sulastri, menantu, cucu, dan ketiga keponakannya.
Dari sekitar tangga, persisnya di tribun nomor 12, Aremania lainnya banyak berteriak ketakutan.
Aparat menembaki mereka memakai gas air mata.
Demi menyelamatkan diri, penonton bergegas ke tangga menuju pintu 12.
Saat itu Wahyudi sekeluarga harus melawan arus massa untuk sampai ke gerbang.
Ratusan orang berdesak-desakan, mencari jalan keluar.
Tapi, pintu 12 hanya dibuka satu sisi.
Wahyudi mencari cara agar bisa menyelamatkan keenam anggota keluarganya.
Sembari terus berpegangan tangan, mereka menyeruak mendekati pintu.
Sementara dorongan Aremania dari arah belakang semakin kuat.
Tak ayal, pegangan Wahyudi dengan keenam keluarganya terlepas.
Sulastri terombang-ambing di tengah massa yang berdesak-desakkan.
Ia terdorong ke sana-ke mari oleh suporter yang juga ingin selamat.
Dada Sulastri semakin sesak, kedua matanya tak bisa melihat karena perih.
Dalam hati, ia hanya pasrah bila harus mati di pintu 12. Setelahnya, dia tak sadarkan diri.
Ketika siuman, Sulastri justru harus menerima kabar buruk, suaminya tewas.
Sementara cucu, menantu, dan ketiga keponakannya berhasil keluar selamat dari stadion.
“Bapak meninggal demi menyelamatkan kami dan cucunya," kata Sulastri, Senin 3 Oktober.
Suaranya masih parau. Sulastri bersama belasan penyintas tragedi Kanjuruhan larut dalam kesedihan yang sama di kantor Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, saat mengenang peristiwa tersebut.
Berita Terkait
-
Gerak PSSI Lebih Cepat dari Timsus dan Polri, Anak Buah Iwan Bule Vonis Security Bersalah Atas Ratusan Nyawa Melayang di Kajuruhan
-
5 Gerakan Mahfud MD Hasil Rakor dengan Pihak Terkait Usut Tuntas Tragedi Kanjuruhan
-
Buntut Tragedi Kanjuruhan, Mahfud MD Pimpin Tim Gabungan Independen Pencari Fakta (TGIPF)
-
Bentuk Empati Tragedi Kanjuruhan, Valentino Jebreet Simanjuntak Resmi Mundur Sebagai Komentator Liga 1
-
Nasib Kapolda Jatim Irjen Nico Afinta, antara Pusaran Ferdy Sambo dan Ratusan Jiwa Meninggal dalam Tragedi Mematikan Stadion Kanjuruhan
Terpopuler
- Daftar Prodi Berpotensi Ditutup Imbas Fokus Industri Strategis Nasional
- 5 Parfum Scarlett yang Wanginya Paling Tahan Lama, Harga Terjangkau
- Perjalanan Terakhir Nuryati, Korban Tragedi KRL Bekasi Timur yang Ingin Menengok Cucu
- Meledak! ! Ahmad Dhani Serang Maia Estianty Sampai Ungkit Dugaan Perselingkuhan dengan Petinggi TV
- Membedah 'Urat Nadi' Baru Lampung: Shortcut 37 KM dan Jalur Ganda Siap Usir Macet Akibat Babaranjang
Pilihan
-
7 Sabun Mandi Cair Wangi Mewah yang Bikin Rileks Setelah Pulang Kerja, Ada yang Mirip Aroma Spa
-
Mantan Istri Andre Taulany Dilaporkan ke Polisi, Diduga Aniaya Karyawan
-
Stasiun Bekasi Timur akan Kembali Beroperasi Lagi Siang Ini
-
Truk Tangki BBM Meledak Hebat di Banyuasin, 4 Pekerja Terbakar saat Api Membumbung Tinggi
-
RS Polri Berhasil Identifikasi 10 Jenazah Korban Tabrakan Kereta di Bekasi Timur, Ini Nama-namanya
Terkini
-
Presiden Prabowo Lakukan Groundbreaking 13 Proyek Hilirisasi Nasional Tahap II Senilai Rp116 Triliun
-
Bawa Mobil Pakai Infus, Kepala DPMPTSP Pandeglang Tabrak Kerumunan Siswa SD: 1 Meninggal, 1 Kritis
-
Mulai Hari Ini Belanja di China Bisa Pakai QRIS
-
Tok! Bayar Pajak Kendaraan di Banten Kini Tak Perlu KTP Pemilik Lama, Berlaku 1 Mei31 Desember 2026
-
Kerasnya Evaluasi Bojan Hodak Usai Persib Kembali ke Puncak
-
Analis Politik Senior Bongkar Makna di Balik Blusukan Wapres Gibran
-
Isu Penutupan Jalan Diponegoro Beredar, Ini Penjelasan Pemprov Jabar
-
Bukan Orang Sembarangan! Tambang Emas Ilegal di Bogor Raup Omzet Rp9 Miliar per Bulan
-
Sukabumi Jadi Markas "Cinta Palsu" Antarnegara: 16 WNA Spesialis Love Scamming Digulung Imigrasi!
-
Wakil Ketua Komisi VIII Abidin Fikri Buka Suara Penangkapan 3 WNI Terkait Haji Ilegal