/
Jum'at, 07 April 2023 | 18:00 WIB
Buya Yahya jelaskan hukum mengidolakan orang non-muslim. ((Tangkapan Layar YouTube/Al-Bahjah TV))

SUARA TASIKMALAYAMengidolakan non Muslim adalah ciri orang tak beriman, benarkah? Simak penjelasan berikut dari Buya Yahya.

Setiap orang pasti memiliki sosok yang dikagumi dan diidolakan, baik dari segi fisik, bakat, hingga perilakunya. 

Di kalangan umat muslim sendiri, saat ini sudah banyak dari mereka yang mengidolakan orang-orang non-muslim atau bisa disebut sebagai orang kafir. 

Kafir di sini merujuk pada mereka yang tidak mempercayai perkataan dan ajaran Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi dan Rasul penutup. 

Tak hanya sekedar mengidolakan, mereka bahkan mengikuti cara hingga gaya hidup orang non-muslim tersebut. 

Lalu bagaimana hukumnya apabila ada umat muslim yang mengidolakan orang-orang non-muslim?

Menurut Buya Yahya, dalam hadist sudah dijelaskan bahwa Rasulullah SAW melarang keras umatnya untuk mengikuti perbuatan orang non-muslim. 

Karena tidak sesuai dengan syariat Islam, serta biasanya dapat memudharatkan diri sendiri. 

Perbuatan ini dianggap sebagai ciri umat muslim yang tidak beriman, karena telah menyukai, mengikuti, bahkan mempercayai orang non-muslim. 

Baca Juga: Daftar Hotel di Tasikmalaya yang Menyediakan Menu Berbuka Puasa Ramadhan 2023, Ada Menu All You Can Eat

Hal ini juga menjadi tanda bahwa umat tersebut memiliki iman yang lemah, sebab mudah terbawa hawa nafsu yang sebenarnya dilarang. 

Buya Yahya menjelaskan, mengikuti perbuatan orang kafir itu dilakukan secara spontan dan sedikit-sedikit. 

Pergeseran nilai dan iman ini dibentuk dari hasil didikan orang tua atau orang terdekatnya, sehingga ia bisa menyukai dan mengagungkan orang lain selain Allah SWT dan Rasulullah SAW. 

Jadi, penting untuk selalu mengingatkan mereka agar tidak mengidolakan orang di luar muslim karena dilarang oleh Allah SWT dan Rasulnya.

Selain itu, mengidolakan seseorang juga tanda bahwa mereka mencintai orang tersebut. Hal ini bisa menjadi fatal, karena ketika di padang mahsyar nanti kita akan ditemani oleh orang yang dicintai. 

Maka alih-alih ditemani oleh Nabi atau Rasul, kita malah akan bersama dengan orang-orang yang amalannya jelas tidak baik. (*)

Load More