Suara.com - PBB memperingatkan bahwa tingkat gas rumah kaca global masih berada di tingkat tertinggi pada catatan rekor. Meskipun pandemi virus Corona (Covid-19) terjadi dan diberlakukannya penguncian atau lockdown, aturan itu tidak memberikan dampak signifikan secara berkelanjutan.
Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) mengatakan akan ada pengurangan emisi CO2 global untuk tahun 2020, tetapi itu tidak akan mempengaruhi tingkat CO2 di atmosfer lebih dari fluktuasi tahun ke tahun secara normal.
Tingkat CO2 tercatat mencapai 410 bagian per juta pada tahun 2019 dan angka akhir untuk tahun 2020 diperkirakan akan lebih tinggi.
Meskipun aturan lockdown mengurangi lebih sedikit CO2 ke atmosfer. Tetapi kadar CO2 yang sudah ada di atmosfer terlalu banyak sehingga pengurangan tahun ini kemungkinan tidak akan berdampak besar dalam jangka panjang.
"Karbondioksida tetap berada di atmosfer selama berabad-abad dan bahkan di lautan lebih lama. Terakhir kali Bumi mengalami konsentrasi karbon dioksida yang sebanding adalah 3-5 juta tahun yang lalu, ketika suhu lebih hangat 2-3 derajat Celcius dan permukaan laut 10-20 meter lebih tinggi dari sekarang," kata Profesor Petteri Taalas, Sekretaris Jenderal WMO, seperti dikutip Science Alert pada Jumat (27/11/2020).
Para ilmuwan telah memperingatkan selama beberapa dekade bahwa lebih banyak CO2 di atmosfer berarti lebih banyak panas yang terperangkap di Bumi. Ini akan membuat suhu naik, es mencair, peristiwa cuaca ekstrem lebih sering terjadi, serta lautan menjadi asam dan menjadi kurang ramah bagi kehidupan laut.
Sejak tahun 1990, WMO melaporkan gas rumah kaca yang menempel di udara telah menyebabkan peningkatan total pancaran radiasi sebesar 45 persen, di mana CO2 menyumbang empat perlima dari dampak tersebut.
Penelitian lain juga setuju dengan kesimpulan bahwa tingkat gas rumah kaca di atmosfer masih meningkat, di mana peningkatan tersebut disebabkan banyak faktor yang tidak terkait dengan penguncian pandemi.
"Kami melampaui ambang batas global 400 bagian per juta C02 pada tahun 2015 dan hanya empat tahun kemudian, kami melewati 410 bagian per juta. Peningkatan seperti itu belum pernah terlihat dalam sejarah catatan kami," tambah Taalas.
Baca Juga: Palang Merah Internasional: Perubahan Iklim Lebih Mengerikan dari Covid-19
Meski begitu, aturan lockdown karena pandemi setidaknya membuat sedikit perbedaan. WMO memperkirakan bahwa emisi CO2 berkurang hingga 17 persen di beberapa titik dalam setahun dan bisa turun 4,2 hingga 7,2 persen selama tahun 2020.
Namun, itu hanya bersifat sementara pada kenaikan level CO2 di atmosfer. Jumlah CO2 kemungkinan akan naik lagi, meskipun tidak sebanyak tahun-tahun sebelumnya. Taalas mengatakan harus ada transformasi lengkap dari sistem industri, energi, dan transportasi yang efektif untuk menurunkan CO2 di atmosfer.
Berita Terkait
-
Mengenal Fitoplankton: Sumber Oksigen untuk Bumi Selain Hutan
-
Bagaimana Perubahan Iklim Bisa Tingkatkan Ancaman Penyakit Zoonosis?
-
Dampak Pemanasan Global terhadap Ekosistem Pesisir Indonesia
-
9 Penyakit 'Calon Pandemi' yang Diwaspadai WHO, Salah Satunya Pernah Kita Hadapi
-
Suara Penyandang Disabilitas di Forum Iklim: Tuntutan Keadilan di Tengah Krisis
Terpopuler
- 4 HP RAM 8 GB Harga di Bawah Rp1,5 Juta: Kamera Bagus, Performa Juara
- Link Gratis Baca Buku Broken Strings, Memoar Pilu Aurelie Moeremans yang Viral
- 28 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 10 Januari 2026, Ada 15.000 Gems dan Pemain 111-115
- 4 Mobil Bekas Rp50 Jutaan yang Ideal untuk Harian: Irit, Gesit Pas di Gang Sempit
- 5 Cat Rambut untuk Menutupi Uban: Hasil Natural, Penampilan Lebih Muda
Pilihan
-
Gurita Bisnis Adik Prabowo, Kini Kuasai Blok Gas di Natuna
-
Klaim "Anti Banjir" PIK2 Jebol, Saham PANI Milik Aguan Langsung Anjlok Hampir 6 Persen
-
Profil Beckham Putra, King Etam Perobek Gawang Persija di Stadion GBLA
-
4 HP Snapdragon RAM 8 GB Paling Murah untuk Gaming, Harga Mulai Rp2 Jutaan
-
Rupiah Terancam Tembus Rp17.000
Terkini
-
65 Kode Redeem FF Terbaru 12 Januari 2026: Raih Skin SG2, Scar Megalodon, dan Sports Car
-
Poster Vivo X200T Terungkap: Bawa Kamera Zeiss, Andalkan Chip Kencang MediaTek
-
7 HP Murah Chip Kencang dengan Memori 256 GB Januari 2026, Harga Mulai 1 Jutaan!
-
Update Bracket Swiss Stage M7: AE Butuh 1 Kemenangan, ONIC Masih Berjuang
-
4 HP Snapdragon RAM 8 GB Paling Murah untuk Gaming, Harga Mulai Rp2 Jutaan
-
CES 2026: LG Perkenalkan AI in Action, AI Nyata Untuk Rumah Sampai Kendaraan
-
Honor Siapkan HP Murah Baterai 10.000 mAh, Usung Layar 1.5K dan Chip Snapdragon
-
46 Kode Redeem FF Terbaru Aktif Januari 2026, Sambut Event Jujutsu Kaisen
-
Spesifikasi TheoTown: Game Viral Bangun Kota, Simulasi Jadi Pejabat Semena-mena
-
Baldur's Gate 3 Tak Tersedia di Nintendo Switch 2, Developer Ungkap Alasannya