Yang pertama, keyakinan (confidence) mengacu pada keyakinan seseorang terhadap kemanjuran dan keamanan vaksin; sistem kesehatan yang menyediakannya, termasuk kompetensi fasilitas dan tenaga kesehatan; dan motivasi pengambil kebijakan program vaksinasi.
Kedua, kelengahan (complacency), terjadi jika persepsi seseorang mengenai risiko penularan suatu penyakit yang bisa dicegah melalui vaksinasi cenderung rendah. Dengan persepsi ini, vaksinasi tidak dianggap sebagai langkah pencegahan yang penting.
Ketiga, kenyamanan (convenience), yang mencakup keterjangkauan biaya, ketersediaan vaksin, akses terhadap pelayanan kesehatan, pengetahuan dan literasi kesehatan, dan banyak lagi. Kenyamanan merupakan determinan yang paling menonjol dalam menentukan keputusan vaksinasi.
Selanjutnya, keputusan vaksinasi mungkin akan bergantung ada perhitungan manfaat-kerugian (calculation) yang dihasilkan dari evaluasi seseorang atas berbagai informasi yang ia terima mengenai program vaksinasi.
Selain itu, program vaksinasi harus dilihat sebagai tanggung jawab bersama (collective responsibility) karena program vaksinasi baru hanya terlihat manfaatnya jika ada cukup banyak orang berhasil divaksin sehingga membentuk kekebalan komunitas.
Oleh karena itu, tidak berlebihan apabila vaksin disebut sebagai barang publik, yang hambatan aksesnya harus ditekan sekecil mungkin.
Target spesifik kampanye program vaksinasi
Sebuah riset di Australia menemukan bukti bahwa individu yang ragu-ragu dan menolak vaksin memiliki preferensi moral yang kuat mengenai kebebasan dan hak-hak individual. Memberikan denda atau sanksi lainnya hanya membuat mereka justru semakin resistan.
Orang yang ragu-ragu juga mudah dipersuasi oleh kampanye kelompok antivaksin. Faktanya, meski antivaksin cenderung kecil jumlahnya, tapi mereka sangat militan dan berisik dalam berkampanye.
Baca Juga: Studi: Tunda Dosis Kedua Vaksin Covid-19 Bisa Picu Kemunculan Varian Baru
Suatu studi yang memetakan grup-grup antivaksin di Facebook menunjukkan fenomena yang amat mengkhawatirkan. Grup-grup ini memang sangat kecil klusternya, namun sangat aktif dan berpengaruh sehingga menyebabkan ledakan jumlah narasi antivaksin yang mulai dideteksi sejak 2019.
Kluster ini amat menarik kontennya, jika kita bandingkan dengan informasi pro-vaksin yang monoton, sulit dipahami awam, dan membosankan. Sehingga mereka berhasil meraih perhatian dan keterlibatan kelompok yang masih ragu-ragu.
Yang paling mencemaskan, studi ini memperkirakan narasi antivaksin akan terus mendominasi percakapan di Facebook setidaknya sampai satu dekade ke depan. Meski ada harapan dampaknya bisa dikurangi setelah Facebook memperketat kebijakannya.
Hal yang telah nyata bahwa sejak 2019 cakupan imunisasi campak dan tiga dosis vaksin DPT3 (difteri, pertusis, dan tetanus) menurun sampai 85 persen di level global, bahkan sebelum pandemi COVID-19. Karena itu, kita perlu waspada bahwa kampanye antivaksin memang memiliki daya rusak yang tak bisa dianggap enteng.
Daripada mewajibkan vaksinasi, pemerintah dapat menerapkan hukuman berat bagi siapa pun yang secara aktif mengajak orang lain untuk menolak vaksinasi, mengingat besarnya dampak yang ditimbulkan.
Perlu persuasif sekaligus empati
Penelitian menunjukkan vaksinasi adalah sebuah kontrak sosial karena vaksinasi merupakan perilaku kooperatif yang dipandang memiliki konsekuensi moral. Menolak vaksinasi dapat dimaknai sebagai pelanggaran moral, meski tidak harus selalu berkonsekuensi sanksi secara hukum, akibat dampak yang mungkin ditimbulkannya.
Untuk menguatkan solidaritas, rekomendasi para peneliti perilaku sudah cukup jelas.
Pertama, individu akan cenderung bersedia kooperatif jika mereka percaya orang lain juga melakukan hal yang sama. Pemerintah dapat menekankan bahwa sebagian besar masyarakat bersedia untuk divaksin, sedangkan yang menolak hanya minoritas.
Kedua, pesan yang disampaikan harus konsisten, jelas, jujur dan penuh empati. Salah satu strategi yang bisa dilakukan adalah membuat permainan simulasi untuk menunjukkan fungsi vaksinasi dalam membentuk kekebalan kawanan dan pemberantasan penyakit.
Ahli biomedis seperti Ahmad Rusdan Utomo, mulai mengambil peran sebagai komunikator sains yang berupaya menjelaskan proses pembuatan dan fungsi vaksin dengan bahasa yang mudah dipahami awam.
Ketiga, memberikan stimulus finansial pada masyarakat yang bersedia divaksinasi. Misalnya, pemerintah bisa mengintegrasikannya dengan program transfer tunai bersyarat seperti Program Keluarga Harapan (PKH), mungkin justru akan meningkatkan cakupan vaksinasi. Hal ini terutama pada masyarakat dengan sosioekonomi rendah.
Penelitian eksperimen perilaku memberikan dukungan bukti bahwa strategi ini efektif meningkatkan intensi vaksinasi.
Memberikan penguatan (reinforcement) negatif dengan misalnya, tidak membolehkan orang yang tak mau divaksinasi masuk ke tempat umum, seperti sekolah, perkantoran, tempat peribadatan, atau perbelanjaan juga bisa diterapkan.
Terakhir, kampanye provaksin tidak hanya berfokus pada menonjolkan keuntungan pribadi. Pemerintah perlu menjelaskan bahwa bersedia divaksinasi berarti individu mengambil peran untuk bergotong-royong melindungi orang-orang dari kelompok rentan yang tak mungkin melakukan hal yang sama.
Pesannya harus kuat bahwa bersedia divaksinasi adalah kewajiban moral bagi setiap individu.
Indonesia dikenal sebagai negara yang paling dermawan di dunia sehingga saya kira narasi pro-sosial semacam ini akan diterima dengan baik oleh sebagian masyarakat kita yang masih ragu-ragu.
Artikel ini sudah tayang di The Conversation.
Berita Terkait
-
Wamenkes Dante: Kelompok Anti Vaksin Tetap Ada, Lawannya Bukan Larangan tapi Informasi Akurat
-
Kota Yogyakarta Catat 6 Kasus Positif Campak, Dinkes Sebut Masih Ada Warga Anti Vaksin
-
Profil Carina Joe, Pahlawan Vaksin Covid-19 Raih Bintang Jasa Utama dari Presiden Prabowo
-
CEK FAKTA: Joe Biden Terserang Kanker Gara-gara Vaksin Covid-19, Benarkah?
-
Trump Tunjuk Aktivis Anti-Vaksin Robert F. Kennedy Jr. Jadi Menteri Kesehatan!
Terpopuler
- Singapura Diguncang Gelombang Protes Rakyatnya, Buntut Rencana Penggundulan Hutan untuk Perumahan
- Daihatsu Kenalkan Mobil 120 Jutaan, 1 Liter Jalan 27 Km
- Cara Membersihkan Bunga Es dengan Aman dan Cepat Tanpa Merusak Freezer
- 6 HP Realme RAM 12 GB dengan Performa Kencang, Mulai Rp2 Jutaan
- Erick Thohir Buka Hasil Evaluasi Timnas Indonesia usai Gagal di Piala AFF 2026
Pilihan
-
Diseret dari Gang ke Jalan! Kronologi Pedagang Cermin Tewas Dikeroyok Saat Demo Ricuh
-
Senayan Kondusif: Tol Dalam Kota Normal dan Blokade Jalan Dibuka Pasca Bentrok 27 Agustus
-
Ada Isu Aksi Demo Lanjutan, BEI Minta Investor Tak Panik
-
Admin Medsos dan Pengkritik Jadi Target Penangkapan Jelang Demo Agustus
-
3 Pesawat Tempur F16 'Rally' di Langit Jakarta Jumat Pagi, Ini Klarifikasi TNI AU
Terkini
-
Sering Tertukar? Ini Cara Mudah Membedakan Soal Cerita KPK dan FPB dalam Matematika
-
Sejumlah Pejabat Polda Riau Dimutasi, Karo SDM hingga 3 Kapolres
-
Terdampak Kabut Asap, Penerbangan Bandara Tjilik Riwut Lumpuh
-
Selat Hormuz Memanas, Harga Minyak Tembus US$90 Lagi
-
Profil Gus Kikin, Ketum Baru PBNU: Pewaris Sanad Hasyim Asyari hingga Pengusaha
-
Profil KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin): Silsilah, Karier, dan Gurita Bisnis
-
Pemilik Lahan di Bengkalis Jadi Tersangka Karhutla
-
Bukan Cuma Koruptor, UU Perampasan Aset Bakal Sasar 13 Jenis Kejahatan
-
Menelusuri Jejak Rahasia 3.427 Arsip Kuno: Ketika Batik Indonesia Menggebrak Pasar Global
-
Emas Antam Diprediksi Fluktuatif, Rupiah Jadi Penopang Harga di Rp2,81 Juta