- Industri ojek online Indonesia menyesuaikan komisi menjadi 8 persen bagi aplikator guna mematuhi arahan pemerintah terkait kesejahteraan mitra pengemudi.
- Perusahaan seperti GoTo dan Grab Indonesia mengandalkan ekosistem digital terintegrasi untuk menjaga keberlangsungan bisnis di tengah penekanan margin profit.
- Ekonom INDEF memperingatkan bahwa pemotongan komisi berisiko mengurangi insentif atau kualitas layanan jika tidak dibarengi efisiensi model bisnis berkelanjutan.
Suara.com - Industri ojek online di Indonesia tengah menghadapi perubahan besar setelah skema komisi aplikator dipangkas menjadi 8 persen.
Meski berpotensi menekan margin perusahaan, ekonom menilai, pemain besar seperti GoTo lewat layanan Gojek hingga Grab Indonesia masih memiliki peluang bertahan berkat kekuatan ekosistem digital yang terintegrasi.
Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), M. Rizal Taufikurahman, menilai langkah aplikator menyesuaikan skema bagi hasil menjadi 92 persen untuk mitra pengemudi dan 8 persen untuk perusahaan merupakan bentuk adaptasi positif terhadap arahan pemerintah.
“Langkah ini dapat dilihat sebagai titik tengah antara kepatuhan terhadap arahan pemerintah, upaya menjaga kesejahteraan mitra, dan kebutuhan menjaga sustainability bisnis digital nasional,” ujar Rizal dalam keterangan resminya, Sabtu (23/5/2026).
Menurut Rizal, kekuatan utama GoTo tidak hanya berasal dari layanan transportasi online, tetapi juga dari integrasi layanan digital lain seperti pengantaran makanan, merchant, hingga layanan fintech yang saling terhubung dalam satu ekosistem.
“GoTo masih memiliki ruang bertahan cukup besar karena kekuatan utamanya bukan hanya layanan transportasi online, tetapi ekosistem digital yang terintegrasi antara mobility, delivery, merchant, dan layanan keuangan digital,” katanya.
Ia menjelaskan, penurunan komisi memang dapat memengaruhi profitabilitas perusahaan dalam jangka pendek.
Namun, dampaknya dinilai tidak akan terlalu besar apabila perusahaan mampu menjaga volume transaksi, loyalitas pengguna, efisiensi teknologi, serta monetisasi layanan digital lainnya.
Rizal juga menyoroti tantangan besar industri ride-hailing ke depan, terutama dalam mengubah strategi bisnis dari model “bakar uang” menjadi model yang lebih berkelanjutan.
Baca Juga: Pemangkasan Komisi Ojol Jadi 8% Bisa Ubah Arah Bisnis Aplikator
“Tantangan ke depan adalah bagaimana GoTo bertransformasi dari model bakar uang menuju model bisnis yang lebih sustainable, dengan menjaga keseimbangan antara kesejahteraan mitra, harga kompetitif bagi konsumen, dan profitabilitas perusahaan di tengah tekanan regulasi dan persaingan industri digital yang semakin ketat,” tuturnya.
Sebelumnya, Direktur Utama GoTo, Hans Patuwo, menyampaikan sejumlah strategi perusahaan untuk menghadapi perubahan aturan komisi ojol.
Strategi tersebut mencakup penyesuaian skema bagi hasil GoRide, penghentian program langganan GoRide Hemat bagi mitra pengemudi, hingga optimalisasi kekuatan ekosistem GoTo.
Sementara itu, CEO Grab Indonesia, Neneng Goenadi, memastikan pihaknya terus berkoordinasi dengan pemerintah agar implementasi kebijakan baru dapat berjalan lancar tanpa mengganggu pendapatan mitra pengemudi.
“Grab akan senantiasa berkoordinasi dengan pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan untuk memastikan implementasi Perpres bagi mitra pengemudi transportasi roda dua nantinya akan berjalan dengan lancar,” kata Neneng.
Rizal menegaskan, pembahasan mengenai komisi aplikator seharusnya tidak hanya dilihat dari sisi pemotongan pendapatan perusahaan semata.
Berita Terkait
-
InDrive Nilai Transparansi dan Keadilan Jadi Tantangan Industri Ride-Hailing
-
Mulai Juni 2026, Potongan Aplikasi Ojol Tak Boleh Lebih dari 8 Persen
-
Anggaran Dipangkas, Dapur Tak Ngebul: Jeritan Seniman Jogja hingga Sarjana Menganggur
-
INDEF Ungkap Bahaya Baja Impor Murah Terhadap Proyek Infrastruktur
-
Pembiaran Impor Baja China Akan Picu Gelombang PHK di Indonesia
Terpopuler
- Ratusan Honorer NTB Diberikan Tali Asih Rp3,5 Juta Usai Putus Kontrak
- Lupakan Aerox atau NMAX, Skutik Baru Yamaha Ini Punya Traksi dan Agresivitas Sempurna di Trek Basah
- Beredar Salinan Dokumen Danantara Sumberdaya Indonesia Perusahaan Swasta Bukan BUMN
- 5 Serum Penumbuh Rambut Terbaik untuk Rambut Menipis dan Area Botak
- Anggota DPR RI Mendadak Usul Bangun 1.000 Bioskop di Desa Pakai Dana APBN 2027
Pilihan
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
-
Nathalie Holshcer Sebut Pengawal Pribadinya Ditembak Polisi, Minta Tanggung Jawab Polri
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
-
Bawa Bukti ke Istana, Purbaya 'Bongkar' 10 Perusahaan Sawit Manipulasi Harga Ekspor
-
Beredar Salinan Dokumen Danantara Sumberdaya Indonesia Perusahaan Swasta Bukan BUMN
Terkini
-
Palo Alto Networks Luncurkan Idira, Platform Keamanan Identitas AI untuk Lawan Ancaman Siber Modern
-
58 Kode Redeem FF Terbaru 23 Mei 2026: Klaim Skin Eclipse, Ada Hujan Diamond
-
Penjualan Kacamata Pintar Google Diprediksi Tembus 2 Juta, Tantang Dominasi Meta
-
iQOO 16 dan Vivo V80 Muncul di Database IMEI, Skor AnTuTu Tembus 5 Juta?
-
POCO X9 Pro Max Dirumorkan Bawa Baterai 12.000 mAh, Usung 'Spek Dewa'
-
Oppo Pad 6 Segera Rilis: Andalkan Chip Flagship Dimensity, Skor AnTuTu Tembus 3 Juta
-
Huawei Watch Fit 5 Series Mulai Tersedia, Punya Fitur Deteksi Risiko Diabetes Pertama di Smartwatch
-
Ada Peningkatan, Nintendo Targetkan Produksi Switch 2 Sebanyak 20 Juta Unit
-
Xiaomi 17T Debut Global dengan Kamera Leica Akhir Mei, Bersiap ke Indonesia
-
HP Vivo yang Bagus Seri Apa? Ini Rekomendasi Seri X, V, dan Y Sesuai Kebutuhan