Tekno / Internet
Sabtu, 06 Juni 2026 | 08:08 WIB
Ilustrasi anak main gadget. [Unsplash]
Baca 10 detik
  • Pemerintah menerbitkan PP TUNAS guna melindungi anak dari risiko konten negatif dan perundungan di ruang digital.
  • Menteri Komunikasi dan Digital membahas perlindungan anak bersama finalis Puteri Indonesia di Jakarta pada Juni 2026.
  • Yayasan Puteri Indonesia berkomitmen mengedukasi masyarakat dan pelajar mengenai pentingnya menciptakan ruang digital yang aman bagi anak.

"Perlindungan anak adalah isu universal. Ketika Indonesia berbicara tentang masa depan digital, maka keselamatan anak harus menjadi bagian penting dari percakapan global," katanya dalam keterangan resminya, Sabtu (6/6/2026).

Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid (tengah). [Humas Kemenkomdigi]

Puteri Indonesia Soroti Risiko Pornografi dan Cyberbullying

Dukungan kuat terhadap PP TUNAS juga disampaikan oleh Agnes Aditya Rahajeng.

Ia menilai regulasi tersebut hadir pada saat yang tepat karena menjawab berbagai kekhawatiran orang tua dan masyarakat terkait ancaman yang dihadapi anak-anak saat berselancar di internet.

"Anak di bawah umur rentan terhadap bahaya pornografi, pelecehan seksual, dan bullying di media sosial. Meskipun harus diakui media sosial adalah sarana mencari informasi yang sangat powerful, di sinilah perlunya pengawasan dan perlindungan," ujar Agnes.

Sementara itu, Putri Kus Wisnu Wardani mengungkapkan bahwa pola interaksi anak saat ini telah berubah drastis dibandingkan generasi sebelumnya.

"Kami melihat anak-anak sekarang lebih banyak menghabiskan waktu dengan gawai. Berbeda dengan dulu yang lebih banyak bermain dan berkomunikasi secara langsung. Karena itu ini merupakan program yang pantas didukung oleh Yayasan Puteri Indonesia," tuturnya.

Edukasi PP TUNAS Akan Masuk ke Sekolah

Dukungan terhadap perlindungan anak di dunia digital tidak hanya berhenti pada kampanye publik.

Baca Juga: 5 HP dengan Kamera Telefoto Terbaik untuk Konten Media Sosial

Gisella Agnes Silalahi mengungkapkan rencananya untuk terjun langsung ke sekolah-sekolah guna memberikan edukasi mengenai pentingnya keamanan digital bagi pelajar.

"Saya ingin ikut menyosialisasikan PP TUNAS ke sekolah-sekolah. Selain itu, saya juga akan menggaungkan isu perlindungan anak di forum internasional untuk menjadikan ini sebagai gerakan global," kata Gisella yang akan mewakili Indonesia pada ajang Miss Charm 2026.

Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid (tengah) dan Enam Finalis Puteri Indonesia 2026. [Humas Kemenkomdigi]

Selain Gisella dan Agnes, dukungan serupa juga datang dari para Puteri Indonesia 2026 lainnya, termasuk Victoria Titisari Koesasi Putri, Karina Moudy Widodo, Glorya Stevany Yame Nayoan, serta Athalla Hartiana Putri Hardian.

Dukungan dari Puteri Indonesia 2026 menunjukkan bahwa isu keamanan digital anak kini tidak lagi menjadi tanggung jawab pemerintah semata, tetapi juga melibatkan tokoh publik, komunitas pendidikan, hingga generasi muda yang memiliki pengaruh luas di masyarakat.

Load More