- Wamenkomdigi Nezar Patria menekankan pentingnya penguatan ekosistem digital nasional agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar teknologi global.
- Indonesia berkontribusi 40 persen ekonomi digital ASEAN dengan potensi nilai hingga 360 miliar dolar AS di masa depan.
- Pemerintah menargetkan kemandirian teknologi menuju 2045 melalui kolaborasi strategis, pengembangan infrastruktur, talenta digital, serta inovasi kecerdasan artifisial.
Suara.com - Di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan artifisial (AI), ekonomi digital, dan teknologi berbasis data, Indonesia menghadapi tantangan besar untuk tidak sekadar menjadi pasar bagi produk teknologi global.
Meski memiliki jumlah pengguna internet yang masif dan menguasai porsi terbesar ekonomi digital di Asia Tenggara, Indonesia masih perlu memperkuat ekosistem digital nasional agar mampu menjadi pemain utama dalam rantai nilai teknologi dunia.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, menegaskan bahwa besarnya nilai ekonomi digital Indonesia tidak otomatis menjadikan Indonesia sebagai kekuatan teknologi global.
Menurutnya, masa depan ekonomi digital nasional akan sangat ditentukan oleh kemampuan seluruh pemangku kepentingan dalam membangun ekosistem digital yang terintegrasi, mulai dari infrastruktur, talenta digital, industri teknologi hingga inovasi berbasis AI.
"Indonesia telah mengeksplorasi delapan prioritas pembangunan ekosistem digital dengan cakupan yang luas, mulai dari peningkatan nilai tambah industri telekomunikasi hingga efisiensi biaya logistik nasional. Di setiap lapisan ekosistem, masih banyak hal yang dapat kita lakukan untuk memperkuat daya saing digital nasional," ujar Nezar dalam acara Digital Ecosystem Alignment 2026 di Jakarta Selatan, Selasa (23/6/2026).
Indonesia Kuasai 40 Persen Ekonomi Digital ASEAN
Nezar mengungkapkan bahwa Indonesia saat ini menjadi kontributor terbesar ekonomi digital di kawasan Asia Tenggara dengan porsi sekitar 40 persen dari total ekonomi digital ASEAN.
Nilai ekonomi digital Indonesia diperkirakan mencapai 105 miliar dolar AS pada 2025 dan berpotensi melonjak hingga 260 miliar dolar AS sampai 360 miliar dolar AS dalam beberapa tahun mendatang atau setara lebih dari Rp5.800 triliun berdasarkan kurs saat ini.
"Kontribusi Indonesia terhadap ekonomi digital ASEAN mencapai sekitar 40 persen. Jika ekonomi digital kawasan tumbuh hingga 1 triliun dolar AS, Indonesia berpotensi menyumbang sekitar 365 miliar dolar AS. Ini menunjukkan posisi Indonesia yang sangat strategis dalam pertumbuhan ekonomi digital regional," katanya.
Baca Juga: Ekonomi Digital Indonesia Capai 100 Miliar Dolar AS, Komdigi Dorong Kolaborasi Nasional
Meski demikian, Nezar menilai peluang besar tersebut hanya dapat diwujudkan apabila seluruh elemen ekosistem mampu berkolaborasi secara terukur dan berkelanjutan.
Kunci Indonesia Digital 2045: Kolaborasi dan Kemandirian Teknologi
Menurut Nezar, pembangunan ekosistem digital saat ini merupakan fondasi penting menuju visi Indonesia Digital 2045. Keputusan dan langkah yang diambil saat ini akan menentukan apakah Indonesia mampu mencapai kemandirian teknologi dalam dua dekade mendatang.
"Tahap yang kita lalui sekarang akan menentukan apakah pada tahun 2045 Indonesia dapat mencapai tujuan strategis nasional untuk menjadi negara yang mandiri secara teknologi. Karena itu, penguatan kolaborasi menjadi kata kunci yang harus kita internalisasi dan eksekusi bersama," tegasnya.
Ia menambahkan bahwa pemerintah tengah mendorong penguatan berbagai sektor prioritas yang menjadi fondasi transformasi digital nasional, termasuk telekomunikasi, layanan publik digital, logistik, pengembangan talenta digital, hingga teknologi kecerdasan buatan.
Belajar dari India Bangun Infrastruktur Digital Nasional
Berita Terkait
-
Bali Jadi Tuan Rumah Pertemuan Tata Kelola Internet Internasional ICANN
-
XLSMART dan Komdigi Luncurkan DigiHer, Bidik 2,4 Juta Perempuan Indonesia Melek Digital pada 2026
-
175 Platform Digital Sudah Diperiksa Komdigi, Netflix, Shopee dan PUBG Termasuk
-
Uang Hasil Peras WNA Ditampung Silmy Karim di Rekening Cleaning Service dan Office Boy
-
Ribuan Desa Masih Blank Spot, Satelit LEO Jadi Solusi Internet Indonesia
Terpopuler
- Gaji di Bawah Rp 8 Juta Kini Masuk Kategori Berpenghasilan Rendah
- 4 Genset Mini Portable Praktis dan Senyap, Solusi Saat Mati Listrik
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- 3 Pompa Air Otomatis untuk Sumur Dalam, Air Deras dan Mesin Awet
- 4 AC Hemat Listrik untuk Rumah Daya Listrik 450 VA, Pilihan Terbaik agar Tidak Jeglek
Pilihan
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
-
Pelarian Berakhir! Taufik Hidayat Penyekap dan Penyiksa Pacar 3 Tahun Ditangkap di Bandung Raya
-
UBK Nonaktifkan Ketua BEM FH dari Jabatan Usai Mengaku Terima Suap Rp20 Juta dari Oknum Polisi
-
Sisi Gelap 'Operasi Penertiban Sawit' Satgas PKH dan Tentara di Tesso Nilo
-
Pertama Kali Dalam Sejarah Piala Dunia! Badai Petir Hentikan Prancis vs Irak
Terkini
-
Bocoran! Oppo Reno16 Series Meluncur 3 Juli 2026, Usung Desain Planet 3D dan Fitur AI Unik
-
Honor Siapkan HP Gahar dengan Baterai 14.000 mAh, Bye-bye Powerbank
-
Berapa Harga iPad Paling Murah 2026? Desain Premium, Paling Worth It Dibeli
-
4 HP dengan Baterai 7000 mAh Terbaik 2026, Anti Lowbat Seharian Cocok untuk Ojol
-
3 Cara Cek Battery Health di HP Android, Lengkap dengan Tips agar Awet
-
Tanpa Ribet, Ini Cara Install Aplikasi Google di Tablet Huawei
-
Komisi Ojol Turun Jadi 8 Persen, Gojek dan Grab Terapkan Kebijakan Baru Mulai 1 Juli 2026
-
HP Vivo Rp1 Jutaan Seri Apa? Ini 3 Pilihan Terbaik untuk Multitasking Stabil
-
7 Laptop dengan Baterai Paling Awet, Tetap Produktif saat Mati Listrik
-
Microchip: Tren Migrasi Teknologi Menuju Edge AI Mulai Saingi Dominasi Cloud