- Dampak Energi Biomassa berisiko memicu kerusakan ekosistem dan keanekaragaman hutan.
- Dampak Energi Biomassa mengancam keberlangsungan hutan alam serta masyarakat setempat.
- Dampak Energi Biomassa membutuhkan koreksi kebijakan demi pencegahan krisis iklim.
Suara.com - Dunia hari ini tengah menghadapi kenyataan yang tak bisa dipungkiri. Perubahan iklim bukan lagi ancaman di masa depan, melainkan bencana nyata yang terjadi di mana-mana.
Mulai dari gelombang panas ekstrem hingga banjir bandang yang datang tiba-tiba. Bumi kita jelas sedang tidak baik-baik saja.
Namun, di tengah kepanikan global ini, cara dunia mengatasi krisis iklim justru sering kali memicu ironi baru. Banyak negara terobsesi mengejar target angka net zero emission (nol emisi karbon) lewat cara-cara instan.
Celakanya, alih-alih menyembuhkan bumi secara tuntas, berbagai kebijakan ambisius tersebut justru menjadikan hutan alam sebagai korban utama.
Membakar Hutan Atas Nama “Energi Terbarukan”
Dikutip dari Forests News, dalam penelitian yang berjudul "Forests, climate change, and biodiversity: Win-win-win" karya Ewa Hermanowicz, ditekankan bahwa hutan yang sehat, beragam, dan dibiarkan hidup secara alami jauh lebih tangguh menghadapi perubahan iklim.
Selain itu, hutan jenis ini paling andal dalam menyerap karbon dioksida di udara.
Sayangnya, praktiknya di lapangan sering melenceng jauh. Demi mengejar target transisi energi terbarukan, banyak pihak yang membakar biomassa kayu untuk pembangkit listrik atau pemanas, lalu melabelinya sebagai "energi terbarukan".
Padahal, jika dinalar secara sederhana, membakar kayu sama saja melepaskan gas karbon dioksida kembali ke udara. Artinya, solusi ini sama sekali tidak mengurangi polusi, melainkan menciptakan masalah baru.
Belum lagi, demi memenuhi pasokan kayu yang cepat tumbuh, lahan-lahan hutan disulap menjadi perkebunan monokultur (satu jenis pohon saja).
Padahal, IPCC sudah mewanti-wanti cara paling ampuh menekan emisi gas rumah kaca justru dengan menghentikan perusakan hutan dan merestorasi hutan yang sudah rusak, bukan malah menanam pohon sejenis secara besar-besaran demi kepentingan industri.
Hutan Monokultur yang Rentan Rusak
Selama ini, sektor kehutanan terlalu bernafsu mengejar profit cepat dari budidaya satu jenis pohon. Hal tersebut mengorbankan hutan alam yang lebat dan kaya hayati, menggantinya dengan deretan tanaman industri yang serba seragam.
Masalahnya, hutan monokultur ini sangat rapuh. Dari segi ketahanan cuaca, hutan alam asli yang kaya hayati yang lebih tahan dan resisten serta tahan terhadap guncangan cuaca ekstrem, sedangkan perkebunan monokultur industri jauh lebih rapuh dan mudah mati karena serangan hama, kekeringan, atau kebakaran.
Selain itu, dalam hal kemampuan menyerap dan menahan karbon, hutan alam mampu menyimpan karbon dalam jangka panjang di dalam tanah dan vegetasinya yang padat.
Sebaliknya, cadangan karbon pada perkebunan monokultur bersifat sementara dan mudah lepas begitu pohonnya ditebang atau dibakar.
Dampak terhadap lingkungan sekitar pun sangat kontras. Hutan alam berfungsi menjaga keseimbangan ekosistem dan ruang hidup warga sekitar, sementara ekspansi perkebunan monokultur sering kali berisiko merusak kualitas tanah dan memicu konflik lahan dengan masyarakat lokal.
Jangan Sampai Solusi Iklim Malah Bikin Masalah Baru
Ambisi ini terkadang kebablasan di lapangan. Ada kalanya kawasan hutan asli justru dibabat habis hanya karena ingin dialihfungsikan dan dipasang dengan “sumber energi terbarukan”.
Padahal, fasilitas energi terbarukan itu bisa dibangun di lahan-lahan kosong bekas pertanian yang sudah terbengkalai, tanpa harus merusak ekosistem hutan yang masih asri.
Di sisi lain, jika memang harus ditebang demi pemanfaatan berkelanjutan, kayu sebaiknya dialihfungsikan sebagai material konstruksi pengganti semen atau baja (mass timber).
Lewat metode ini, struktur bangunan berfungsi sebagai tempat penyimpanan karbon jangka panjang, alih-alih berakhir sebagai abu dari pembakaran bahan bakar.
Saatnya Kembali ke Jalan yang Benar
Komitmen menyelamatkan bumi tidak boleh berhenti sebagai wacana. Agar penanganan krisis iklim berjalan tepat sasaran, ada beberapa perbaikan mendasar yang harus segera dilakukan:
- Lindungi Hutan Asli: Standar konservasi global dan harus ada sertifikasi yang mewajibkan sebagian besar kawasan hutan untuk benar-benar dilindungi demi menjaga kelestariannya.
- Koreksi Aturan Energi Biomassa: Hentikan subsidi untuk praktik pembakaran kayu yang selama ini salah kaprah dan merusak fungsi penyerapan karbon hutan.
- Libatkan Masyarakat Lokal: Transisi energi tidak boleh berjalan sendiri dengan mengabaikan hak-hak masyarakat di akar rumput yang selama ini paling peduli pada kelestarian alam.
Krisis iklim tidak akan pernah bisa diselesaikan dengan cara-cara instan yang justru merusak alam itu sendiri. Menjaga alam berarti merawat kehidupannya secara utuh bukan sekadar mengejar angka-angka laporan di atas kertas.
Kontributor : Muhammad Ikhwan Nur Ariyansyah