Bisnis / Makro
Senin, 03 Maret 2014 | 11:20 WIB
Asap pekat sisa kebakaran lahan dan hutan menyelimuti Bandara Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru, Minggu (2/3). (foto: ANTARA FOTO/FB Anggoro)

Suara.com - Otoritas Bandara Internasional Sultan Syarif Kasim II Riau mengaku maskapai penebangan yang beroperasi menekan kerugian dengan cara menunda keberangkatan pesawat dari bandara asal sampai dapat kepastian akibat kabut asap.

"Kalau sekarangan, maskapai tidak mau terbang sebelum ada kepastian. Mereka lebih baik menunda, dari pada mengalihkan pendaratan," ujar Airport Duty Manager Bandara Internasional Sultan Syarif Kasim II Hasnan Siregar di Pekanbaru, Senin (3/3/3014) seperti dilansir Antara.

Lazimnya, jika cuaca tidak menentu untuk melakukan pendaratan pesawat di bandara tujuan, maka maskapai mengalihkan ke bandara terdekat seperti Batam, Palembang, Batam dan Medan.

Namun khusus untuk tujuan ke Pekanbaru, baik dari bandara asal seperti Jakarta, Bandung, Batam, Medan dan bahkan untuk rute internasional seperti Singapura serta Malaysia menunda atau membatalkan keberangkatan dengan tujuan menghemat bahan bakar.

Seperti Jumat (28/2), sedikitnya ada tujuh rute penerbangan dari beberapa perusahaan maskapai tujuan ke Pekanbaru. Kemudian Sabtu (1/3), ada 24 rute yang melakukan penundaan keberangkatan dari bandara asal menuju Pekanbaru ditengah sepinya penumpang.

Jarak pandang pilot pesawat di Bandara Internasional Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru pada 05.00 Wib sampai pukul 07.00 Wib lazimnya masih sangat buruk yakni hanya berkisar 800 meter.

Sedangkan jarak pandang pukul 07.00 Wib hingga pukul 10.00 Wib atau pukul 13.00 Wib masih buruk sekitar 1.000 meter dan dikhawatirkan maskapai dapat menganggu keselamatan penerbangan.

"Ini yang terjadi pada Jumat lalu. Jarak padang masih buruk mulai jam 05.00 Wib sampai pukul 13.00 Wib. Sehingga hanya pesawat kecil berani melakukan pendaratan, sedangkan Boeing 737 atar Airbus 330 tidak berani," katanya.

"Kalau bagi pesawat yang melakukan lepas landas dari Pekanbaru, tidak masalah. Yang bermasalah itu, sewaktu melakukan pendaratan. Bila jarak pandang masih 1.000 meter, maka pilot belum berani. Kecuali di atas itu jarak pandang," ucap Siregar.

Load More