Suara.com - Presiden RI Joko Widodo meminta Jepang jangan sekadar menjadikan Indonesia sebagai pasar, tetapi juga sebagai basis produksi yang strategis.
Presiden Jokowi dalam collective courtesy call dan forum bisnis dengan para pengusaha Jepang dan kepala lembaga pemerintahan negara itu di Hotel New Otani Tokyo, Selasa (24/3/2015) berharap agar Indonesia tidak hanya dijadikan pasar bagi Jepang.
"Saya minta agar Indonesia tidak jadi pasar, tetapi basis produksi, baik itu komponen otomotif, elektronik, mobil, maupun semua yang berorientasi ekspor," katanya.
Jika hal itu menjadi perhatian serius para pengusaha di Jepang yang ingin berinvestasi di Indonesia, Jokowi janji akan membantu dan menindaklanjuti persoalan di lapangan.
Pada kesempatan itu, Presiden RI juga berjanji akan menindaklanjuti keluhan yang disampaikan investor Jepang yang sudah berinvestasi di Indonesia maupun bagi mereka yang baru berencana menanamkan modalnya di Indonesia.
Ia mengakui masih ada berbagai hambatan investasi di Indonesia. Akan tetapi, pemerintahannya memiliki komitmen yang kuat untuk melakukan perbaikan.
"Indonesia ingin produk-produk yang ada bisa diekspor. Akan tetapi, bukan sebagai barang mentah, melainkan barang jadi atau barang setengah jadi," katanya.
Ia yakin Jepang memiliki pengalaman dan teknologi dalam hal itu sehingga diharapkan bisa membantu Indonesia untuk mewujudkannya.
Pada pertemuan itu Jokowi didampingi Menko Perekonomian Sofyan Djalil, Menteri BUMN Rini Soemarno, Menlu Retno Marsudi, Menteri Perdagangan Rachmat Gobel, Seskab Andi Widjajanto, Ketua BKPM Franky Sibarani, dan Ketua Kadin Indonesia Suryo Bambang Sulisto.
Collective Courtesy Call itu dihadiri oleh asosiasi bisnis dan lembaga pemerintah Jepang, yakni Japinda, Duta Besar Jepang ke Indonesia, Keidanren, Kadin Jepang, Jetro, Friendship Exchange Council, dan chairman dari sejumlah perusahaan besar di Jepang.
Sejumlah pengusaha yang bergabung dalam pertemuan itu, di antaranya CEO Hitachi, Daihatsu Motor Corp, IHI Corp, Inpex, Itochu, J-Power, JX Nippon Oil and Energy, Marubeni, Nikkei Inc, Sumitomo Corp, Ajinomoto, Bank of Tokyo Mitsubishi UFJ, Honda, JFE Steel, J-Trust, Mitsubishi Corp, NEC, Panasonic Corp, SMBC, dan Sojitz. (Antara)
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Pemain Top Dunia yang Berpotensi Ikuti Jejak Layvin Kurzawa Main di Super League
- Pasca Penonaktifan, 3.000 Warga Kota Yogyakarta Geruduk MPP untuk Reaktivasi PBI JK
- 10 HP OPPO RAM 8 GB dari yang Termurah hingga Flagship 2026
- 7 HP Murah Terbaru 2026 Buat Gaming: Skor AnTuTu Tinggi, Mulai Rp1 Jutaan!
- 5 Sepeda Lipat Kalcer Termurah, Model Stylish Harga Terjangkau
Pilihan
-
Polisi Jamin Mahasiswi Penabrak Jambret di Jogja Bebas Pidana, Laporan Pelaku Tak Akan Diterima
-
Komisi III DPR Tolak Hukuman Mati Ayah di Pariaman yang Bunuh Pelaku Kekerasan Seksual Anaknya
-
Bocah-bocah di Sarang Polisi: Asal Tangkap Perkara Aksi Agustus
-
Selamat Jalan 'Babeh' Romi Jahat: Ikon Rock N Roll Kotor Indonesia Tutup Usia
-
Sidang Adat Pandji Pragiwaksono di Toraja Dijaga Ketat
Terkini
-
Terkuak! Prabowo yang Minta Mundur Bos OJK dan BEI Gegara Kasus MSCI
-
IHSG Lagi Gacor Ditutup Naik 1,96%, 570 Saham Meroket
-
Cuan Gila! Modal Rp200 Ribu, Pria Malaysia Jual Domain ai.com Seharga Rp1,1 Triliun
-
Duit Nganggur Rp2.400 Triliun di Bank, OJK: Bisnis Masih Lesu, Butuh Indonesia Incorporated
-
Cara Menghitung Zakat Penghasilan atau Zakat Profesi dan Simulasinya
-
Dolar AS Keok, Rupiah Berjaya Hari Ini di Level Rp 16.786/USD
-
Kemenhub Beberkan Kronologi Penembakan Pesawat Smart Air di Boven Digoel
-
Ingin Kampung Haji Sukses, Danantara Gaet Perusahaan Arab Saudi
-
Adik Kandung Ungkap Ada Pejabat 'Telur Busuk' Dekat Presiden Prabowo
-
Tensi Panas! Menteri KKP Gerah Dengan Tuduhan Menkeu Purbaya soal Proyek Kapal