Suara.com - Penurunan tingkat penjualan properti di sektor perumahan di sejumlah daerah pada kuartal-II tahun 2015 ini, dinilai masih dalam batas kewajaran.
"Meski secara umum pasar perumahan masih mengalami kontraksi di tahun 2015, namun Indonesia Property Watch melihat hal ini masih dalam batas wajar dan diperkirakan akan pasar perumahan akan segera memasuki fase baru di akhir 2015 atau di awal 2016," kata Direktur Eksekutif Indonesia Property Watch Ali Tranghanda, dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Selasa (14/7/2015).
Menurut Ali, siklus perlambatan yang ada saat ini merupakan siklus alamiah yang harus dicermati oleh para pengembang untuk melakukan konsolidasi internal terkait pasar yang disasar. Karena, ujarnya, selama jangka waktu tiga tahun terakhir seakan-akan pengembang melupakan pasar yang gemuk itu di segmen menengah bawah.
Berdasarkan data Indonesia Property Watch, penjualan di segmen bawah mengalami penurunan terbesar diantara segmen lainnya yaitu sebesar minus 26,9 persen dibanding segmen besar minus 24,7 persen dan segmen menengah yang hanya minus 16,8 persen.
Meski terjadi penurunan penjualan, bila dilihat dari komposisi unit terjual selama kuartal-II/2105, maka segmen menengah sampai bawah memperlihatkan komposisi terbesar masing-masing 25,8 persen dan 68,5 persen, serta hanya 5,7 persen saat ini penjualan berasal dari segmen besar.
Ia memperkirakan kebijakan pelonggaran "loan-to-value" (LTV) pada Juli 2015 sedikit banyak akan berdampak pada penjualan rumah di segmen menengah.
"Meskipun LTV akan memengaruhi pasar investor di menengah atas, namun dengan kondisi harga pasar yang sudah terlalu tinggi di segmen ini, maka dampaknya tidak terlalu berasa," katanya.
Dengan demikian, lanjutnya, pasar menengah akan kembali menjadi primadona dan para pengembang diharapkan dapat melakukan strategi tepat dengan merilis produk sesuai kebutuhan pasar.
Sebagaimana diberitakan, kebijakan "loan-to-value" (LTV) sektor properti atau proporsi antara uang muka dan cicilan yang diturunkan dari minimal 30-70 persen menjadi minimal 20-80 persen seharusnya juga disertai dengan langkah penurunan tingkat suku bunga acuan.
Sementara Ferry Salanto dari konsultan properti Colliers International Indonesia, revisi uang muka rumah pertama dari sebelumnya 30 persen menjadi 20 persen akan mendorong pertumbuhan properti ke depannya.
Selain itu, ujar dia, kebijakan LTV tersebut juga diharapkan dapat mendorong perekonomian nasional yang saat ini sedang melambat secara keseluruhan.
Namun, ia mengingatkan bahwa cicilan mencapai 80 persen sebenarnya bisa mendorong properti bergerak agar kebijakan suku bunga juga harus dapat diturunkan agar dampaknya bisa berbarengan.
"Tidak hanya uang mukanya turun, tetapi suku bunga pinjaman juga seharusnya turun," katanya.
Menurut dia, tingkat suku bunga untuk Kredit Pemilikan Properti yang sekitar 12 persen itu dinilai sangat berat karena tingkat suku bunga itu umumnya lebih tinggi daripada suku bunga properti di sejumlah negara asing lainnya.
Berita Terkait
-
Sinyal Bahaya Pasar Properti: BI Ungkap Penjualan Rumah Anjlok, Harga Ikut Melambat
-
Fahri Hamzah Usul Pajak Rumah Tapak Dinaikkan, Amarah Publik Meledak: Bapak Pindah Kuburan Aja!
-
Paramount Land Siapkan Strategi Genjot Penjualan Rumah di Awal Tahun
-
Viral Suami Ceraikan Istri Gegara Tak Kirim Gaji Full Selama Jadi TKW, Kini Ogah Hasil Penjualan Rumah Dibagi Dua
Terpopuler
- Sepeda Dewasa Merek Apa yang Murah dan Awet? Ini 5 Pilihan Terbaik untuk Harian
- 7 Pilihan Lipstik yang Awet 12 Jam, Anti Pudar Terkena Air dan Minyak
- Begini Respons Kopassus Usai Beredar Isu Orang Istana Digampar Pangkopassus
- 5 Parfum Indomaret dengan Wangi Segar Tahan Lama, Cocok Dipakai saat Cuaca Panas
- 12 Promo Makanan Hari Kartini 2026, Diskon Melimpah untuk Rayakan Momen Spesial
Pilihan
-
Rugikan Negara Rp285 T, Eks Dirut Pertamina Patra Niaga Alfian Nasution Dituntut 14 Tahun Bui
-
Terungkap Jalur Gelap 10 Ton Pupuk Subsidi di Sumsel, Dijual ke Pihak Tak Berhak
-
Garap Kasus Haji, KPK Panggil Ustaz Khalid Basalamah Hari Ini
-
Merantau ke Kota Kecil, Danu Tetap Sulit Cari Kerja: Sampai Melamar Pawang Satwa
-
Purbaya Copot Febrio dan Luky dari Dirjen Kemenkeu
Terkini
-
BP Batam 'Ngebut' di 2026: Investasi Tembus Rp17,4 Triliun, Sektor Elektronik Jadi Jawara
-
7 Hari Menuju Ambang Batas: Trump di Ujung Tanduk, Kongres Beri 'Cek Kosong' Perang?
-
Lewat Kartini BISA Fest, Telkom Perkuat Peran Perempuan di Era Digital
-
Babak Akhir Utang 'Whoosh', RI Siap Sodorkan Skema Restrukturisasi ke China
-
Pemerintah Gunakan Cara Baru Pantau BBM Subsidi Agar Tak Bocor
-
Pengguna Aktif GoPay Tembus 26 Juta
-
Danantara Umbar Biang Kerok Kinerja Garuda Indonesia Masih Seret
-
Pegang 42 Persen Cadangan Dunia, Nikel Masih Jadi 'Raja' Investasi Hilirisasi RI
-
Jumlah BUMN Dipangkas Jadi Hanya 300, Begini Klaster-klasternya
-
Pemerintah Diminta Tak Wajibkan Penggunaan Dolar AS untuk Transaksi Batu Bara DMO