Suara.com - Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, rasio elektrifikasi Indonesia masih sangat rendah dan kalah bersaing dengan Singapura, Brunei Darussalam, dan Malaysia. Karena itu, harus ada upaya untuk menggenjotnya.
Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Jarman mengatakan sampai 1 Juni 2015, rasio elektrifikasi Indonesia mencapai 86,9 persen, sedangkan Singapura, Brunei Darussalam, dan Malaysia sudah diatas 90 persen, karena itu pemerintah memasang target rasio elektrifikasi 97 persen pada 2019.
Jarman menjelaskan pada Agustus 2014, realisasi elektrifikasi di seluruh Indonesia sudah mencapai 82,37 persen. Rata-rata, setiap provinsi suda mencapai diatas 50 persen. Hanya provinsi Papua yang sistem elektrifikasinya hanya 37,48 persen. Hal inilah yang melatarbelakangi pemerintah segera melakukan upaya untuk meningkatkan elektrifikasi di Indonesia yang ditargetkan pada 2015 naik 1,06 persen menjadi 85,18 persen dari sebelumnya 84,12 persen pada 2014. Salah satunya dengan proyek listrik 35 ribu MW.
"Tapi kalau dibandingkan dengan Singapura, Malaysia, Brunei, jauh di atas 90. Atas dasar itu mengapa proyek 35 ribu MW ini harus segera diwujudkan. Hal ini untuk memenuhi kebutuhan listrik bagi masyarakat di Indonesia. Makanya perlu usaha yang sangat keras,” katanya Jarman saat ditemui di gedung Dewan Pers, Jakarta Pusat, Minggu (13/9/2015).
Jarman mengungkapkan upaya yang dilakukan pemerintah untuk mencapai target tersebut adalah dengan program kelistrikan 35 ribu MW.
"35 ribu MW itu kebutuhan dalam rangka penuhi kebutuhan ekonomi dan elektrifikasi," katanya.
Ia menambahkan upaya lain untuk menggenjot rasio elektrifikasi adalah mengarahkan PT. PLN (Persero) sebagai pelaksana pembangun infrastruktur jaringan kelistrikan.
"PLN konsentrasi di transmisi. Ini backbone yang harus dibangun. Pembangkit harus disalurkan kepada masyarakat," katanya.
Sedangkan pembangunan pembangkit akan diserahkan ke pengembang pembangkit swasta (Independent Power Produce). Ke depan, prosi pembangunan pembangkit mayoritas dilaksanakan IPP.
"Seperti yang dijabarkan, kelihatan bahwa untuk tahun ini dan yang akan datang, mayoritas pembangkit akan dibangun oleh swasta. Alasannya, pembangkit itu butuh dana yang besar. Banyak di pembangkit karena itu di tawarkan. Pembangkit di swasta dan PLN jadi single buyer. PLN hanya bangun sebagian saja," katanya.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- 61 Kode Redeem FF Max Terbaru 20 Maret 2026: Raih THR Idul Fitri, AK47 Lava, dan Joker
- 6 Mobil 7 Seater yang Jarang Rewel untuk Jangka Panjang, Solusi Cerdas Keluarga
- 9 HP Gaming Terjangkau Rekomendasi David GadgetIn Buat Lebaran 2026, Performa Kencang!
- Apa Jawaban Minal Aidin Wal Faizin? Simak Arti dan Cara Membalasnya
- 7 HP Paling Murah yang Bisa Kamu Beli saat Idulfitri 2026
Pilihan
-
Ironi Hari Air Sedunia: Ketika Air yang Melimpah Justru Menjadi Kemewahan
-
Rudal Iran Hantam Dekat Fasilitas Nuklir Israel, 100 Orang Jadi Korban
-
Skandal Dean James Melebar! Pakar Hukum Belanda Sebut Status WNI Jadi Masalah Utama
-
Serangan AS-Israel di Malam Takbiran Tewaskan Jubir Garda Revolusi Iran
-
Mencekam! Jirayut Terjebak Baku Tembak di Thailand
Terkini
-
Hutan Lestari Pertamina: Menenun Harmoni Alam, Menuai Kesejahteraan Masyarakat
-
Krisis Energi: Harga BBM Naik Ekstrem di Negara-negara Asia, Indonesia Waspada?
-
Dukung Perjalanan Finansial PMI, Bisnis Remitansi BRI Tumbuh 27,7% YoY Jelang Lebaran 2026
-
Harga Emas Antam di Bawah 3 Juta saat Lebaran, Cek Rincian Lengkapnya di Sini!
-
Cara Transfer BRI ke DANA Melalui BRImo, ATM, dan Internet Banking
-
IHSG Senin Pekan Ini Buka atau Tidak? Ini Jadwal Lengkap Libur Bursa
-
Harga Emas Pegadaian Turun Saat Lebaran, UBS dan Galeri 24 Anjlok!
-
Cara Mencari Lokasi ATM dan Kantor Cabang BRI Terdekat
-
Nominal Uang Pensiun DPR yang Resmi Dicabut MK
-
Jadwal dan Titik One Way Garut Selama Momen Idulfitri