Suara.com - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Rizal Ramli meminta Badan Anggaran DPR setuju menaikkan anggaran Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dari Rp250 miliar menjadi Rp500 miliar pada Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2016.
"Jadi kan ada sejumlah perubahan. Dulu kementerian maritim hanya fokus ke maritim dan perikanan, sekarang tambah sumber daya. Jadi kami koordinasinya dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan, Perhubungan, Kementerian ESDM dan Pariwisata. Nah anggaran ini nantinya untuk memperkuat lembaga dan kementerian yang ada di bawah koordinasi Maritim. Dan masih banyak yang diperbaiki termasuk infrastruktur,” kata Rizal saat rapat dengan Badan Anggaran di gedung DPR, Selasa (13/10/2015).
Ia menyontohkan sektor maritim dan perikanan ada masalah tentang batas kontinental antara laut Indonesia dengan negara lain, seperti di Timor Leste. Ia menargetkan penyelesaian batas dalam enam bulan.
“Ini kan batas lautnya masih kurang jelas. Jadi kita perjelas, terutama di Timor Leste. Hal ini dilakukan agar nantinya tidak bermasalah. Karena di perbatasan ini menyimpan kekayaan yang banyak dan dapat memberikan nilai tambah terhadap perekonomian Indonesia. Lalu soal kebijakan moratorium dan penenggelaman kapal, jadi kita fokuskan ini. agar kebijakan ini bisa terus jalan,” katanya.
Kedua, perbaikan akan di lakukan di Kementerian Perhubungan. Menurutnya, dalam RAPBN 2015 akan ada pergeseran anggaran yang akan dialihkan ke wilayah timur Indonesia. Hal ini dilakukan agar tidak ada ketimpangan antara wilayah timur dan Jawa.
“Jadi nanti anggaran yang di Jawa akan mengandalkan swasta, atau bisa juga bisa ada kombinasi dengan pemerintah. Biar enggak ada gab di sini. Kan selama ini yang dikeluhkan pemerintah terlalu melakukan pembangunan di Jawa saja,” katanya.
Selain itu, kementerian akan melobi penerbangan internasional untuk menaikkan klasifikasi keamanan penerbangan di Indonesia, ke tingkat satu. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan jumlah wisatawan asing yang datang.
“Sekarang, kan penerbangan kita masih tingkat dua, ini sejajar dengan Afrika. Makanya kita akan lobi ke Kanada agar bisa naik ke tingkat satu. Nah ini biar membuktikan kalau penerbangan di Indonesia aman. Semoga ini dalam setengah tahun ke depan sudah selesai. Makanya untuk menaikkan tingkatan itu, kita perlu memperbaiki radar, airport-nya,” katanya.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Dari Koruptor Kembali ke Rakyat: Aset Rp16,39 Miliar Kini Disulap Jadi Sekolah hingga Taman di Jabar
- Teman Sentil Taqy Malik Ambil Untung Besar dari Wakaf Alquran di Tanah Suci: Jangan Serakah!
- HP Bagus Minimal RAM Berapa? Ini 4 Rekomendasi di Kelas Entry Level
- Simulasi TKA: 15 Soal Matematika Kelas 6 SD Materi Bangun Ruang dan Statistika
- Link Download 40 Poster Ramadhan 2026 Gratis, Lengkap dengan Cara Edit
Pilihan
-
Opsen Pajak Bikin Resah, Beban Baru Pemilik Motor dan Mobil di Jateng
-
Here We Go! Putra Saparua Susul Tijjani Reijnders Main di Premier League
-
Kabar Baik dari Elkan Baggott untuk Timnas Indonesia
-
Jaminan Kesehatan Dicabut, Ribuan Warga Miskin Magelang Tercekik Cemas: Bagaimana Jika Saya Sakit?
-
Lagu "Cita-citaku (Ga Jadi Polisi)" Milik Gandhi Sehat Ditarik dari Peredaran, Ada Apa?
Terkini
-
Izin Tambang Emas Martabe Belum Dicabut, KLH Pastikan Gugatan ke PTAR Terus Berjalan
-
Mulai 2028, Bensin Wajib Dicampur Etanol 20 Persen
-
Kepala BGN: Program MBG Dongkrak Penjualan Motor jadi 4,9 Juta Unit pada 2025
-
Jelang Imlek dan Ramadan, Pertamina Tambah 7,8 Juta Tabung LPG 3 Kg
-
24 Perusahaan Lolos Seleksi Tender Waste-to-Energy, Lima Diantara Asal China
-
Bahlil Tegas soal Pemangkasan Produksi Batubara dan Nikel 2026: Jangan Jual Harta Negara Murah
-
Wujudkan Asta Cita, BRI Group Umumkan Pemangkasan Suku Bunga PNM Mekaar hingga 5%
-
Susul Bauksit, Bahlil Kaji Larangan Ekspor Timah Mentah
-
Antusiasme Tinggi, Waitlist Beta Bittime Flexible Futures Batch Pertama Gaet Ribuan Partisipan
-
Danantara Mau Beli Tanah Dekat Masjidil Haram, Jaraknya Hanya 600 Meter