Suara.com - Bank Indonesia menilai perbankan dalam negeri perlu restrukturisasi untuk ambil kesepakatan bidang jasa keuangan bank di area Asia Tenggara, ASEAN Banking Integration Framework (ABIF) untuk membuka cabang baru di kawasan.
"ABIF ini adalah peluang, karenanya perbankan harus ambil kesempatan tersebut untuk melebarkan sayapnya ke ASEAN," kata Gubernur BI Agus Martowardojo di Hotel Borobudur, Jakarta, Rabu petang (4/11/2015).
Hal tersebut dikatakan Agus, pasalnya ekspansi perbankan Indonesia di luar negeri belum semasif ekspansi yang dilakukan oleh industri perbankan negara ASEAN lainnya ke Indonesia seperti Malaysia dan Singapura.
Singapura, kata Agus, sudah memiliki saham mayoritas pada empat bank di Indonesia yaitu Danamon, DBS, OCBC NISP, Buana, dan UOB dengan total kantor cabang sekitar 2.400 unit dengan mesin transaksi elektronik sekitar 4.800 buah.
Sementara Malaysia, lanjut Agus, memiliki saham mayoritas pada dua bank di Indonesia yaitu CIMB dan Maybank BII dengan infrastruktur sejumlah 2.100 kantor cabang dan mesin ATM yang berjumlah di atas 4.000.
"Sebaliknya, Indonesia hanya miliki satu bank di Singapura dengan satu ATM dan satu bank syariah, dua remitance office serta satu ATM di Malaysia," kata dia.
Dengan perbandingan kantor cabang 1:2.000 tersebut, Agus menyatakan perlu adanya restrukturisasi karena dalam integrasi perbankan di ASEAN melalui ABIF, bank yang akan melakukan ekspansi harus memiliki kelayakan yang telah ditentukan.
"Karenanya perlu restrukturisasi perbankan agar ada keyakinan juga adanya sumber pembiayan yang baik untuk membiayai investor agar bisa masuk ke negara ASEAN, karena MEA ini adalah peluang sekaligus tantangan," katanya.
Pihak BI sendiri, tambah Agus, telah mendorong adanya kesempatan yang sama bagi setiap negara untuk melakukan ekspansi yang lahir melalui ABIF Guideline yang disepakati oleh seluruh otoritas keuangan dan menteri keuangan di ASEAN.
"Tujuannya adalah untuk keseimbangan, misalnya Singapura ada empat bank, kita juga harus boleh punya dengan jumlah yang sama. Di negara lain juga demikian sehingga bank domestik bisa lebih mudah melakukan ekspansi. Kita jangan menghindar dan harus siap jika ada kesempatan," katanya. (Antara)
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Sepeda Dewasa Merek Apa yang Murah dan Awet? Ini 5 Pilihan Terbaik untuk Harian
- 7 Pilihan Lipstik yang Awet 12 Jam, Anti Pudar Terkena Air dan Minyak
- Begini Respons Kopassus Usai Beredar Isu Orang Istana Digampar Pangkopassus
- 5 Parfum Indomaret dengan Wangi Segar Tahan Lama, Cocok Dipakai saat Cuaca Panas
- 12 Promo Makanan Hari Kartini 2026, Diskon Melimpah untuk Rayakan Momen Spesial
Pilihan
-
Rugikan Negara Rp285 T, Eks Dirut Pertamina Patra Niaga Alfian Nasution Dituntut 14 Tahun Bui
-
Terungkap Jalur Gelap 10 Ton Pupuk Subsidi di Sumsel, Dijual ke Pihak Tak Berhak
-
Garap Kasus Haji, KPK Panggil Ustaz Khalid Basalamah Hari Ini
-
Merantau ke Kota Kecil, Danu Tetap Sulit Cari Kerja: Sampai Melamar Pawang Satwa
-
Purbaya Copot Febrio dan Luky dari Dirjen Kemenkeu
Terkini
-
BP Batam 'Ngebut' di 2026: Investasi Tembus Rp17,4 Triliun, Sektor Elektronik Jadi Jawara
-
7 Hari Menuju Ambang Batas: Trump di Ujung Tanduk, Kongres Beri 'Cek Kosong' Perang?
-
Lewat Kartini BISA Fest, Telkom Perkuat Peran Perempuan di Era Digital
-
Babak Akhir Utang 'Whoosh', RI Siap Sodorkan Skema Restrukturisasi ke China
-
Pemerintah Gunakan Cara Baru Pantau BBM Subsidi Agar Tak Bocor
-
Pengguna Aktif GoPay Tembus 26 Juta
-
Danantara Umbar Biang Kerok Kinerja Garuda Indonesia Masih Seret
-
Pegang 42 Persen Cadangan Dunia, Nikel Masih Jadi 'Raja' Investasi Hilirisasi RI
-
Jumlah BUMN Dipangkas Jadi Hanya 300, Begini Klaster-klasternya
-
Pemerintah Diminta Tak Wajibkan Penggunaan Dolar AS untuk Transaksi Batu Bara DMO